Segitiga Ayew-Labrune-Bielsa

Berita

by Redaksi 43

Redaksi 43

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Segitiga Ayew-Labrune-Bielsa

“Saya tidak akan meninggalkan Marseille karena klub ini adalah klub yang hebat. Kami secara reguler bermain di Liga Champions dan kami telah mendatangkan beberapa pemain bagus musim ini. Anda tidak akan melihat hasilnya dengan segera, namun kami akan berkembang menjadi tim yang sangat menarik dalam beberapa tahun kedepan,” ujar pemain Olympique de Marseille, André Ayew, dalam sebuah wawancara yang dimuat di majalah FourFourTwo edisi Januari 2014.

Sebelas bulan berselang, ucapan Ayew terbukti benar tapi juga tak dapat dipertanggungjawabkan. Ayew benar mengenai potensi Marseille untuk menjadi tim yang menarik. Kedatangan Marcelo Bielsa telah mengubah L’OM menjadi tim yang atraktif dan rutin meraih kemenangan. Saat tulisan ini dibuat, Marseille sedang duduk manis di puncak klasemen Ligue 1 – empat poin di atas juara bertahan, Paris Saint-Germain dan jauh meninggalkan AS Monaco, klub kaya yang berhasil menjadi runner up musim lalu.

Namun Ayew tidak dapat memenuhi janjinya untuk tidak meninggalkan Marseille. Kontraknya, yang berakhir pada hari terakhir bulan Juni tahun 2015, belum juga ia perpanjang. Kabarnya Ayew menginginkan gaji sebesar 50 ribu poundsterling per pekan. Namun Marseille masih enggan memenuhi permintaan besar itu. Jika kesepakatan tak juga tercapai, maka Ayew boleh menjalin perjanjian prakontrak dengan klub manapun mulai bulan Januari nanti.

Menemukan klub baru bukanlah perkara sulit untuk Ayew. Ia adalah pemain serba bisa. Ayew dapat bermain di banyak posisi; gelandang serang, penyerang sayap kiri, gelandang tengah, gelandang kanan, gelandang kiri, dan bahkan bek kiri. Bagi Ayew, tidak masalah ditempatkan dimanapun. Versatility adalah rahasia suksesnya untuk mendapatkan banyak kesempatan bermain. Selain itu, Ayew juga memiliki kualitas sundulan yang baik – kemampuan yang ia asah sejak usia 13 tahun.

Fakta bahwa klub peminang tidak perlu mengeluarkan biaya transfer untuk mendaratkan Ayew membuat peluangnya untuk menemukan klub baru dalam waktu dekat semakin besar saja. Permintaan gaji tinggi juga tak akan menjadi penghalang. Bagi klub-klub Inggris, permintaan Ayew adalah sesuatu yang mudah. Kebetulan, memang ke Inggris pulalah Ayew ingin berlabuh.

“Semua pemain muda di Ghana menyukai Liga Primer,” ujar Ayew yang memang besar di Ghana walaupun lahir di Perancis, masih kepada FourFourTwo. “Jadi saya juga memiliki ambisi untuk bermain di sana. Saya pernah memiliki peluang untuk pindah ke Italia namun prioritas saya adalah klub besar di Inggris. Ada beberapa klub yang tertarik saat musim panas namun tidak ada yang benar-benar serius. Liga Primer adalah impian saya.”

Mirror mewartakan bahwa Liverpool dan Everton siap meminang Ayew. Selain kedua klub asal kota Liverpool tersebut, Swansea City, Hull City, dan West Ham United juga disebut-sebut siap meramaikan persaingan. Namun semuanya masih belum pasti. Siapa tahu Ayew akhirnya mendarat di Newcastle United.

Belakangan, Newcastle memang sedang gemar mendatangkan pemain berkebangsaan Perancis dan/atau dari lagi Liga Perancis. Nama manajer mereka, Alan Pardew, bahkan sempat dipelesetkan menjadi Alain Pardieu karena bahasa Perancis kini menjadi bahasa yang paling sering dipakai di markas latihan.

Presiden Marseille, Vincent Labrune, dipastikan pasrah jika pada akhirnya Ayew pergi. “Ayew telah memberitahu kami mengenai keinginannya. Jika tawaran dari klub besar masuk dan kami menyukainya, saya akan memeriksanya,” ujar Labrune kepada Le Parisien pada bulan Juli 2013 lalu.

Lagipula, Labrune masih memiliki banyak urusan. Pemain yang kontraknya harus diperpanjang dalam waktu dekat saja bukan hanya Ayew. Kontrak Jérémy Morel, Rod Fanni, Alexander N'Doumbou, dan André-Pierre Gignac juga berakhir pada 30 Juni 2015.

Walau demikian, bukan berarti Labrune boleh lepas tangan begitu saja. Ayew adalah pemain penting dan Bielsa tentunya tak ingin kehilangan Ayew. Jika usaha untuk mempertahankan Ayew (dan Gignac, karena Morel, Fanni, dan N’Doumbou bukan pemain andalan) gagal dilakukan, bukan tak mungkin Bielsa dan Labrune akan kembali bersitegang. Pertengkaran pertama keduanya terjadi ketika Labrune, yang sudah berjanji akan mendatangkan pemain-pemain yang diminta oleh Bielsa, gagal mendatangkan satupun dari 12 nama yang diminta.

Labrune harus berpikir matang sebelum kembali bermasalah dengan Bielsa. Pasalnya, tanpa Bielsa bukan tak mungkin Marseille jauh dari puncak klasemen. Labrune harus belajar dari masa lalu Bielsa bersama Athletic Bilbao. Walaupun tak memberikan efek langsung, penjualan Javi Martinez dan Fernando Llorente menjadi awal kepergian Bielsa.

Sumber gambar: fourfourtwo.com

Komentar