Perlukah Kepemilikan Klub di Inggris Direformasi?

Berita

by Redaksi 46

Redaksi 46

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Perlukah Kepemilikan Klub di Inggris Direformasi?

Liga Inggris memungkinkan industri sepakbola berkembang pesat di sana. Sejumlah aturan yang diterapkan, menjadi faktor yang memudahkan investasi masuk ke Premier League.

Kandidat Anggota Dewan Rakyat Britania Raya, Lucy Rigby, mengapungkan isu reformasi kepemilikan klub di Liga Inggris. Menurutnya, struktur kepemilikan yang ada seperti saat ini, malah meminggirkan penggemar.

“Meskipun saya menyadari ada yang salah dengan bagaimana sepakbola di negeri ini di jalankan, tapi jika klub saya mengalahkan Arsenal, (Manchester) City, dan Chelsea, kekhawatiran itu cenderung surut,” kata Lucy.

Lucy menganggap para penggemar akan melupakan masalah yang ada di dalam negeri saat timnya berprestasi. Maka, pemikiran bertahun-tahun mengenai reformasi kepemilikan klub di Inggris pun menguap begitu saja. Maklum, Lucy adalah penggemar Manchester United, sang peraih juara 20 kali Liga Inggris. Selama bertahun-tahun, kekhawatirannya itu tidak pernah mengkristal, terlupakan karena prestasi klub yang gemilang.

Kini, Lucy dapat lebih bebas berpikir. Semusim terakhir, United tak begitu bagus di liga. Tiga laga terakhir di bawah asuhan Louis van Gaal pun berakhir buruk. The Red Devils tak sekalipun meraih kemenangan.

“Kenyataannya sepakbola Inggris memberi kesan serakah, serta perusahaan yang dijalankan dengan buruk dan tidak adil. Ini membawanya semakin jauh dari suporter. Hal inilah yang mengganggu saya, tidak peduli bagaimana United melakukannya.”

Terdapat tiga alasan mengapa kepemilikan klub mesti direformasi.

Mahalnya Harga Tiket

Jika Liga Inggris dianggap sebagai liga terbaik di dunia, menjadi wajar jika tiket yang ditawarkan pun paling mahal sedunia. Tapi, tiket Liga Inggris dianggap ada di atas batas kewajaran. Tiket musiman termurah Arsenal dipatok 1.014 pounds pertahun. Jika dirupiahkan sekitar 19,7 juta rupiah.

Menonton sepakbola lambat laun menjadi kesenangan yang mahal. Kita tahu bahwa penggemar Arsenal ataupun Manchester United tidak semua berlokasi di Inggris ataupun Manchester. Lucy sendiri tinggal di Lincoln, tapi mendukung United yang berjarak 160 kilometer dari rumahnya. Selain harga tiket, suporter yang tidak tinggal di dekat stadion, harus mengeluarkan uang lebih untuk bensin dan transportasi. Ini yang membuat menonton sepakbola di stadion menjadi barang mewah.

Banyaknya Pemasukan yang Tidak Digunakan untuk Sepakbola

Maksudnya, banyak pemasukan dari sepakbola yang ternyata digunakan untuk hal lain. Ini pasti begitu terasa oleh Lucy, dan penggemar Manchester United lainnya. Sejak diambil alih keluarga Glazer, sekitar 700 juta pounds tersedot untuk membayar bunga, provisi, dan biaya bank.

United menjadi salah satu klub di Inggris yang digunakan sebagai penghasil uang jangka pendek. Sang pemilik seolah enggan melakukan investasi jangka panjang, seperti memaksimalkan pemain muda, pengembangan akademi dan sarana latihan, serta mendekatkan diri dengan suporter.

Ketidakstabilan Pengelolaan Klub

Faktor kedua menjadikan hadirnya poin ketiga. Karena mengharapkan keuntungan yang singkat, manajemen mudah tergoda oleh keuntungan sesaat. Misalnya, pemindahan kandang klub dari satu kota ke kota lain, seperti yang dialami Wimbledon FC. Mungkin ini satu hal yang menguntungkan bagi manajemen, tapi tidak bagi para suporter. Mereka bisa disebut sebagai nyawa yang menjaga tradisi klub itu sendiri.

***

Suporter Ikut Terlibat

Lucy mengatakan suporter mestinya bergabung dalam sebuah keanggotaan spesial yang menjadi bagian dari klub. Ia mencontohkan Barcelona yang dimiliki oleh suporter. Fans memilih anggota eksekutif di tataran manajemen. Jika tidak suka dengan apa yang ia jalankan di klub, suporter bisa memintanya untuk mundur.

Semua, kecuali dua klub, di Bundesliga, sebagian besar kepemilikannya oleh suporter. Lucy menganggap rendahnya harga tiket adalah faktor dari struktur kepemilikan tersebut. Klub tidak akan menjadi miskin, atau tidak sukses, jika harga tiket murah.

Dengan masuknya suporter ke dalam manajemen klub, setidaknya dapat mengubah sepakbola untuk berperan penting dalam mengimbangi komersialisme yang merajalela.

Jadi, perlukah struktur kepemilikan Liga Inggris direformasi?

Sumber gambar: talksport.com

Komentar