Alasan di Balik Buruknya Peforma Wakil Asia

Piala Dunia

by redaksi

Alasan di Balik Buruknya Peforma Wakil Asia

Asia benar-benar terpuruk tahun ini. Jangankan mengirimkan wakil di fase perdelapan final, memenangi laga saja tidak.

Setelah melewati proses kualifikasi yang panjang dan melelahkan, akhirnya, Asia berhasil mengirimkan empat wakilnya ke Brasil. Empat negara tersebut adalah: Jepang, Iran, Korea Selatan dan Australia. Dan dari keempat wakilnya itu, tak ada satupun yang lolos ke babak 16 besar. Mereka semua kalah bersaing dengan tim-tim dari Eropa, Afrika, maupun Amerika.

Tragisnya lagi, semua wakil Asia tersebut, tak ada satupun yang berhasil meraih kemenangan di Brasil. Jepang, Iran, dan Korsel, sama-sama pulang kampung dengan membawa pulang satu angka. Sedangkan Australia, yang tergabung di grup B, lebih tragis lagi.  Tim Cahill tak berhasil meraih satu poinpun dari tiga laga telah dilakoni.

Lantas, apa yang sebenarnya membuat Asia tak mampu berbicara banyak tahun ini? Ada beberapa faktor yang mempengaruhi buruknya peforma Asia di Piala Dunia tahun ini. Dan faktor-faktor tersebut adalah:


  1. Lambannya Regenerasi


Menurut Malcom Gladwell, jurnalis The New Yorker, lambannya regenarsi di negara-negara Asia telah mempengaruhi prestasi timnas mereka. Hal ini memang cukup beralasan. Bagaimana bisa benua sebesar Asia tak bisa menghasilkan beberapa pemain yang punya kualitas dan mampu bersaing di tataran internasional. China, misalnya. Negeri Tirai Bambu itu gagal menemukan 11 pemain berbakat diantara 1 milyar penduduknya.

Memang, kegagalan China tersebut, tak terlepas dari minimnya fasilitas dan juga dorongan pemerintah. Maklum, banyak pemuda-pemuda China lebih difokuskan untuk melakukan riset dan juga menyelesaikan pendidikan ketimbang bermain bola oleh pemerintahnya.



  1. Rendahnya Standar Liga-liga Domestik


Rendahnya standar liga-liga domestik ini sangat dipengaruhi oleh lambannya regenerasi negara-negara di Asia. Hal inilah yang kemudian membuat kualitas liga-liga di negara-negara “gila bola” macam Indonesia, Thailand,  Malaysia, ataupun Vietnam, tak sebaik negara-negara kecil yang ada di Afrika, Amerika, terlebih Eropa. Begitu juga dengan Australia. Meski persepakbolaan negara itu cukup maju, jika dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya, namun, liganya masih kurang kompetitif.



  1. Sedikit yang Bermain di Luar Negeri


Buruknya sistem pembinaan di Asia, berdampak rendahnya kualitas pemain-pemain Asia itu sendiri. Rendahnya daya saing dan kualitas pemain-pemain Asia inilah yang menjadikan klub-klub luar negeri, Eropa khususnya, kurang berminat meminang bakat-bakat Asia.

 


  1. Sindikat Pengaturan Skor


Sindikat-sindikat pengatur skor, baik secara langsung maupun tidak langsung, telah merusak kualitas pertandingan yang ada di Asia. Seperti yang banyak diketahui, bandar-bandar judi yang gemar mengatur pertandingan berasal dari Singapura dan juga Makau. Pemain Asia yang sudah terbiasa ikut dalam kasus pengaturan skor, biasa akan bermain “ogah-ogahan”, asal mereka mendapat uang dari bandar judi. Lambat laun, hal ini telah menjadi budaya di Asia, dan  berdampak banyak pada peforma pemain-pemain Asia di atas lapangan.

 

Setalah sederet permasalahan tersebut, jelas Asia punya banyak pekerjaan rumah yang sesegera mungkin harus dapat mereka selesaikan. Itupun jika,  Asia tak ingin kembali menanggung malu di Piala Dunia 2018 yang sedianya akan digelar di Rusia.

(mul)

Komentar