[Match Analysis] Yunani vs Pantai Gading: Keberuntungan di Detik-detik Akhir

Analisis

by redaksi

[Match Analysis] Yunani vs Pantai Gading: Keberuntungan di Detik-detik Akhir

Yunani berhasil lolos ke babak 16 besar Piala Dunia setelah berhasil mengempaskan Pantai Gading dengan skor 2-1. Gol kemenangan Yunani dicetak Andres Samaris dan Georgios Samaras. Sementara itu Pantai Gading hanya bisa membalas lewat gol Wilfred Bony.

Kemenangan ini tidak lepas dari skema permainan Yunani yang lebih mengandalkan serangan balik ketimbang menggempur habis-habisan Pantai Gading. Kali ini, Pelatih Yunani, Fernando Santos menggunakan 4-2-3-1 dengan Karagounis dan Maniatis sebagai poros ganda.

Penggunaan dua poros ganda ini menjadi penting setelah lini tengah Yunani terlalu mudah untuk ditembus lawan. Ini terlihat dari dua pertandingan kala mereka menghadapi Kolombia dan Jepang.

Di pertandingan tersebut dua fullback Yunani sering naik membantu serangan. Ini membuat terbukanya celah di lini pertahanan mereka. Terlebih, dua fullback Yunani yang diisi Jose Holebas dan Vasilis Torosidis tidak disiplin dengan sering terlambatnya membantu pertahanan.

Di pertandingan malam tadi, dua poros ganda Yunani berkewajiban untuk menutup sisi yang ditinggalkan fullback ketika menyerang. Keduanya akan dibantu Dimitrios Salpingidis dan Lazaros Christodoulopoulos yang bermain lebih bertahan.

Akibat yang dihasilkan cukup signifikan. Pantai Gading kesulitan untuk membongkar lini pertahanan Yunani.

Membiarkan Pantai Gading menyerang berarti membiarkan mereka membuka celah di lini pertahanannya sendiri. Yunani beberapa kali memanfaatkan kelemahan ini untuk membuka peluang bagi Negara Para Dewa tersebut.

Hal yang menonjol di pertandingan tadi adalah dijaga ketatnya Didier Drogba oleh Kostas Manolas. Ia dengan begitu disiplin menjaga bekas pemain Chelsea tersebut. Akibatnya, gelandang Pantai Gading kebingungan untuk menyelesaikan peluang. Ketatnya lini pertahanan Yunani menjadi salah satu faktor bagaimana Pantai Gading dibuat begitu frustasi.

Dua fullback Yunani, Holebas dan Torosidis setia menjaga wilayahnya. Belum lagi Salpingidis dan Christodoulopoulos yang ikut membantu pertahanan, membuat serangan Pantai Gading lewat sayap, seringkali dapat dipatahkan. Dari 16 umpan silang yang dilepaskan, hanya tiga yang menemui sasaran.

Ini seolah menjadi pembuktian bagi lini pertahanan Yunani yang dikritik habis-habisan di pertandingan pertama menghadapi Kolombia. Ketidakmampuan gelandang Yunani untuk bertahan, membuat Manolas dan Sokratis mesti berjuang keras untuk menjaga pertahanan mereka agar tetap aman.

Kekalahan Pantai Gading tidak lepas dari mudahnya poros ganda mereka untuk ditembus. Cheick Tiote dan Serey Die lebih asyik membantu penyerangan ketimbang menutup lini pertahanan. Akibatnya, beberapa kali umpan terobosan ke lini depan Yunani, tidak bisa dibendung.

Kesalahan terbesar Tiote tentu saja terciptanya gol pertama Yunani. Kesalahan umpannya membuat Samaris bisa merebut bola dan mencetak gol.

Dengan bermain bertahan, permainan Yunani menjadi lebih efektif. Mereka bisa menahan serangan sayap Pantai Gading, pun bisa menghasilkan peluang lewat serangan balik. Yunani juga menerapkan pressing ketat untuk menghalau serangan Pantai Gading. Hasilnya adalah keteledoran Tiote yang berhasil dimanfaatkan Samaris menjadi gol.

Lini serang Pantai Gading seolah menemui hasil buntu setelah Didier Drogba dimatikan Manolas. Mereka sempat mendapat angin segar saat Bony masuk dan mampu mengecoh perhatian bek Yunani. Tapi pergantian tersebut sudah terlambat. Yunani sudah terlanjur nyaman dengan skema yang mereka gunakan.

Analisa lebih lengkap bisa dilihat di sini

[fva]

Komentar