Fantasista dan Alasan Barcelona Lebih Baik Tanpa Neymar

Taktik

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Fantasista dan Alasan Barcelona Lebih Baik Tanpa Neymar

Johann Van Galen, pelatih timnas Japan Youth All-Stars, mengadakan sesi triangle game pada penentuan 22 pemain yang hendak disiapkan untuk turnamen J-Cup yang diikuti Jepang, Meksiko, Italia dan Korea Selatan. Di akhir seleksi yang diikuti 33 pemain itu, ia membuat tiga tim untuk menyisihkan 11 pemain. Hanya dua kesebelasan yang paling banyak mencetak gol yang nantinya dibawa ke Italia, tempat diselenggarakannya J-Cup.

Yang menjadi kejutan, Van Galen menempatkan Kaoru Okita, pemain yang selalu mendapatkan nilai teratas sejak pemain seleksi diisi oleh 43 pemain, bersama pemain-pemain yang biasanya mendapatkan nilai rendah. Teppei Sakamoto, yang beberapa kali mendapatkan teguran dari Van Galen, bahkan mendapatkan minus 1,5 poin, justru ditempatkan bersama para pemain terbaik dalam skuat tersebut.

Di akhir pertandingan, tim yang diisi Okita kalah. Van Galen tak menampik bahwa ada unsur kesengajaan yang membuat Okita, pemain paling berteknik di skuat tersebut, menjalani pertandingan lebih sulit (karena rekan setimnya tidak diisi oleh pemain-pemain terbaik) hingga akhirnya tersingkir. Alasan pelatih asal Belanda tersebut menyisihkan Okita adalah karena, fantasista wa pitch ni futari wa iranai, yang artinya "Sebuah tim tidak memerlukan dua fantasista di lapangan".

***

Bersama Ernesto Valverde, Barcelona disebut-sebut tampil jauh lebih baik dari beberapa musim sebelumnya, khususnya dari musim 2016/2017 ketika Barca ditangani Luis Enrique. Situasi ini cukup mengejutkan. Pertama, Valverde datang sebagai mantan pelatih Athletic Bilbao yang prestasi terbaiknya juara Piala Super Spanyol sekali dan menjadi runner-up Copa del Rey sekali. Prestasi menterengnya terjadi di Liga Yunani dengan tiga trofi domestik. Kedua, musim ini Barca ditinggalkan salah satu pemain terbaiknya, Neymar jr. ke Paris Saint-Germain. Apalagi pemain penggantinya, Ousmane Dembele, langsung cedera panjang di awal musim.

Kehilangan Neymar inilah yang saya soroti membuat Barca punya penampilan lebih baik. Untuk menakar sejauh mana permainan impresif Barcelona, kita bisa mendengar komentar Lionel Messi yang merasa timnya tampil lebih baik bersama Valverde yang menggunakan formasi dasar 4-4-2.

"Pelatih sudah jelas mengatakan sejak awal tentang apa yang ia inginkan. Kami membuat kami sendiri kuat dalam bertahan dan saat menyerang kami punya pemain dengan kualitas tinggi," kata Lionel Messi pada Februari 2018. "Tanpa Neymar kami jadi lebih seimbang. Kepergiannya membuat kami mengubah cara bermain. Kami kehilangan banyak potensi di lini depan tapi kami meningkat di lini pertahanan. Kami lebih seimbang dan skema ini membuat kami jauh lebih solid."

Messi secara gamblang menjelaskan keuntungan dari kepergian Neymar adalah membuat timnya menjadi solid dalam bertahan. Melihat statistik di La Liga, yang dikatakan Messi di atas sesuai fakta. Saat artikel ini ditulis (La Liga tinggal tersisa tiga laga) Barca yang sudah memastikan gelar juara hanya kebobolan 23 kali dari 35 laga. Mereka juga mencatatkan 18 kali nirbobol. Musim lalu Barca yang hanya mendapatkan gelar juara Copa del Rey kebobolan 37 kali di La Liga. Nirbobol `hanya` 13 kali.

Maka mungkin inilah yang dimaksud Van Galen pada Fantasista bahwa sebuah tim tidak membutuhkan dua fantasista. Cerita pada manga "Fantasista" di awal tulisan inilah yang kembali menyeruak pada permukaan ingatan ketika saya membaca komentar-komentar pemain dan para pengamat La Liga terkait penampilan Barcelona musim ini.

Messi dan Neymar adalah dua pemain yang layak disebut fantasista. Fantasista ini bukan peran apalagi posisi dalam sebuah formasi. Fantasista adalah istilah Bahasa Italia untuk pemain yang punya kualitas individu mumpuni dan olah bolanya bisa membuat penonton berdecak kagum.

Fantasista identik dengan nomor punggung 10 di era 90-an, seperti Roberto Baggio, Alessandro Del Piero, Francesco Totti, Diego Maradona hingga Pele di masa lalu. Akan tetapi ada juga pemain-pemain yang dijuluki fantasista namun tidak mengenakan nomor 10, seperti Andrea Pirlo (21), Johan Cruyff (14), Franz Beckenbauer (5), Alvaro Recoba (20), Zinedine Zidane (21), Ricardo Kaka (22), bahkan sampai yang terkini yaitu Cristiano Ronaldo (7).

Lionel Messi dan Neymar pun termasuk kategori pemain yang layak disebut sebagai fantasista. Penampilan individu keduanya bisa menentukan hasil akhir pertandingan dan membuat penonton terpusat perhatiannya pada mereka. Nah, munculnya Neymar sebagai fantasista baru di sepakbola saat ini tak lepas dari penampilannya bersama Barca.

Saat awal bergabung Barca pada 2013, Neymar masih berada dalam bayang-bayang Messi. Ia hanya mencetak 9 gol dan 10 asis di La Liga (total 15 gol di segala ajang). Satu musim berikutnya, Neymar mulai terbiasa atmosfer sepakbola Eropa. Ia pun mencatatkan 22 gol dan 9 asis di La Liga. Walaupun begitu catatan tersebut masih membuatnya berada di bawah Messi yang total mencetak 58 gol dalam satu musim.

Situasi di atas terus terjadi hingga musim keempat Neymar bersama Barcelona. Dari situ mulai muncul "pemberontakan" dalam diri Neymar. Banyak yang menyarankan Neymar hengkang dari Barcelona jika ia ingin mendapatkan gelar Pemain Terbaik Dunia atau Ballon d`Or. Karena selama masih di Barcelona, setiap keberhasilan Barca, yang mendapatkan apresiasi berlebih adalah Messi.

Ada kaitannya atau tidak, penampilan Neymar pada musim 2016/2017 membuatnya hanya mencetak total 20 gol dalam satu musim. Di sisi lain Messi tetap menjadi raja gol dengan 54 golnya. Sial bagi keduanya karena Barcelona yang dibesut Luis Enrique tersebut hanya mendapatkan gelar Copa del Rey.

Sekarang Neymar sudah menjadi seorang fantasista di Paris Saint-Germain. Tapi Barcelona yang ditinggalkannya tidak berkurang kekuatannya, malah meningkat setelah ditinggalkan penyerang timnas Brasil tersebut. Tak mengherankan sebenarnya karena sejak awal Barcelona sudah punya fantasista dalam diri Messi.

Apalagi Valverde memainkan pola dasar 4-4-2 atau 4-4-1-1 dengan Messi yang dibiarkan bebas bergerak di belakang Luis Suarez. Jika empat musim terakhir sisi kiri menjadi area milik Neymar, kini Messi bisa menjelajah setiap jengkal lapangan jika ia mau. Semua perhatian pada Barca pun kembali tersedot pada Messi seorang.

Cruyff, yang juga seorang maestro lapangan hijau dengan label fantasista, sebenarnya sudah lebih dulu memprediksi bahwa kehadiran dua fantasista di tubuh Barca kurang ideal bagi mantan timnya tersebut. Bahkan legenda timnas Belanda itu menyebut kehadiran Neymar di Barca bisa menimbulkan masalah, kecuali mereka menjual Messi.

"Kedatangan Neymar bisa menyebabkan masalah. Saya, sih, tidak akan ambil risiko dengan mendatangkannya," kata Cruyff pada awal 2014. "Messi dan Neymar bersamaan? Saya tidak akan menempatkan dua kapten dalam satu kapal. Kita harus belajar pada masa lalu," kata Cruyff pada wawancara lain.

Tanpa Neymar, Barcelona bermain dengan sistem 4-4-2. Terkadang 4-4-2 flat, pada kesempatan lain bermain dengan 4-4-2 berlian. Di sayap sendiri Barca menempatkan gelandang pengatur serangan seperti Ivan Rakitic dan Andres Iniesta. Namun dari sistem yang coba diterapkan Valverde ini kedua full-back Barcelona kembali mendapatkan peran krusial yang membuat pemain di posisi tersebut memaksimalkan potensinya.

Jordi Alba dan Sergi Roberto/Nelson Semedo kini (kembali) lebih sering dilibatkan dalam serangan. Alba musim ini mencatatkan 9 asis dan dua gol (catatan terbaiknya di Barca) sementara Roberto telah menyumbang satu gol dan tujuh asis (juga catatan terbaik).

"Neymar pemain bagus yang, menurut pertimbangan dirinya, memutuskan untuk pergi. Tapi pada akhirnya masih banyak pemain yang bisa bermain bagus dan saya senang dengan penampilan pemain lain," kata Alba pada Mundo Deportivo. "Saya selalu bilang, tanpa Neymar saya lebih punya banyak ruang untuk dieksploitasi. Sejujurnya, buat saya, ini membuat saya jauh lebih baik."

Alba mengatakan hal di atas jauh sebelum Barcelona memastikan gelar juara La Liga di mana ia mengatakannya pada bulan November 2017. Hal itu ternyata terbukti di mana Barca selain juara bahkan belum terkalahkan di La Liga yang sudah mereka jalani sejauh 35 laga.

Saat Neymar masih di Barca, yang permainannya paling terpengaruh memang Alba. Karena jika bola sudah berada di Neymar kemungkinan besar bola tidak diberikan pada Alba yang overlap dari sisi kiri pertahanan. Neymar adalah tipikal pemain yang gemar melewati pemain lawan dengan dribelnya. Saat meninggalkan Barca, ia mencatatkan 165 dribel berhasil dari 271 percobaan. Jumlah tersebut melampaui Messi yang mencatatkan 126 dribel berhasil dari 205 percobaan.

Karenanya tanpa Neymar, Barca kembali menunjukkan permainan khasnya yang mengandalkan banyak operan. Jika musim 2016/2017 rataan operan per laga Barca adalah 620 kali, musim ini meningkat menjadi 641,5 operan per laga. Meski terlihat tak signifikan namun secara permainan utuh Barca musim ini tampil lebih luar biasa dibanding musim lalu.

***

Dua fantasista, seperti dalam kasus Neymar dan Messi, bukannya tidak bisa disatukan dalam sebuah tim. Toh sebenarnya Neymar meninggalkan Barca dengan torehan dua trofi La Liga, tiga Copa del Rey, satu Super Spanyol, satu Liga Champions, dan satu trofi Piala Dunia Antar Klub. Prestasi yang sangat cemerlang.

Tapi jika disatukan, di antara dua fantasista tersebut harus ada satu pemain yang lebih menekan egonya untuk lebih menonjol. Dalam manga "Fantasista" yang kini mulai diadopsi ke anime itu pun Van Galen, dua tahun berselang, akhirnya "melanggar" perkataannya dengan memanggil kembali Okita ke timnas Jepang bersama Teppei Sakamoto. Akan tetapi saat itu Okita bukan lagi Okita yang dulu bersaing dengan Teppei untuk berebut pos gelandang no.10. Okita yang kembali dipanggil Van Galen itu didaftarkan sebagai penyerang, yang artinya Okita harus rela jika perhatian akan lebih tersedot pada Teppei Sakamoto sang tokoh utama dalam manga tersebut.

foto: hindustantimes.com

Komentar