Cara Guardiola Menjadikan Sterling Pemain yang Jauh Lebih Tajam

Taktik

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Tidak bisa berbahasa Finlandia.

Cara Guardiola Menjadikan Sterling Pemain yang Jauh Lebih Tajam

Ketika Manchester City mendatangkan Raheem Sterling dengan mahar 40 juta pound sterling, yang diuntungkan adalah Liverpool. Dua tahun berselang, investasi City tampak membuahkan hasil. Sterling berpotensi menjadi pemain terpenting dalam perburuan juara Premier League musim ini. Liverpool, sementara itu, begitu-begitu saja.

Sterling berbakat namun bakatnya mentah. Benar ia punya kemampuan olah bola di atas rata-rata, tapi ya sampai situ saja. Sterling mampu mengalahkan siapa pun dalam permainan sepakbola jalanan. Dalam pertandingan kompetitif, melawan tim yang tampil taktis? Jangan harap.

Itu cerita lama. Sterling yang sekarang jauh berbeda. Dalam 18 pertandingan musim ini, Sterling sudah mencetak 12 gol. Catatan terbaik Sterling sebelumnya adalah 11 gol dalam 47 pertandingan, bersama City di musim 2015/16. Produktivitas Sterling meningkat berkat arahan dan kepercayaan Pep Guardiola, serta kemauan Sterling untuk mendengarkan dan menjalankan saran manajernya.

Musim panas tahun ini mungkin bukan waktu yang menyenangkan untuk Sterling. City mendatangkan Bernardo Silva dan terus dihubung-hubungkan dengan Alexis Sanchez dan Kylian Mbappe. Guardiola tetap percaya kepada Sterling, dan Sterling membayar kepercayaan itu dengan peningkatan permainan.

“Ia (Sterling) memiliki kemampuan untuk berhadapan satu lawan satu, untuk menyerang, untuk bersikap agresif, untuk melakukan hal-hal yang diharapkan,” ujar Guardiola akhir Agustus lalu. “Kami menyerang bek tengah dan ‘Rash’ memiliki kemampuan ini. Jika saja ia sedikit memiliki insting mencetak gol, ia akan menjadi salah satu pemaing paling luar biasa. Namun, tentu saja ia telah mencetak dua gol (sejauh ini). Mudah-mudahan ia bisa mencetak lebih banyak gol. Namun kami mendorongnya, memberitahunya untuk bersikap positif, dan terus berusaha mencetak gol.”

Harapan Guardiola terpenuhi. Sterling tidak hanya banyak mencetak gol, tetapi juga mencetak gol-gol penting. Melawan Everton, Sterling mencetak gol penyeimbang di menit ke-82. Melawan Bournemouth, gol kemenangan di menit ke-96. Melawan Feyenoord, gol kemenangan di menit ke-88. Yang terbaru, melawan Huddersfield Town, Sterling mencetak gol kemenangan di menit ke-84.

“Ia (Sterling) memenangkan pertandingan, sekarang ia pemenang,” ujar Guardiola. “Sebelumnya, oke, ia melakukan aksi yang baik, namun sekarang ia mampu memenangkan pertandingan. Ini masih November, dan ia sudah memecahkan rekor, jadi itu bagus sekali.”

Menembak bukan kemampuan terbaik Sterling. Secara khusus ia menjalani latihan menembak di bawah arahan Mikel Arteta, asisten pelatih Guardiola di City. Namun itu hanya sebagian dari penjelasan atas peningkatan produktivitas Sterling.

Pada 22 November lalu beredar video latihan City. Guardiola tampak mengajari Sterling cara bertindak, agar sedikit sentuhan dapat memberi banyak manfaat. Dalam video yang sama ditunjukkan pula gol Sterling ke gawang Feyenoord, yang tampak seperti hasil nyata dari ajaran Guardiola.

Dalam musim-musim yang sudah lewat, Sterling tidak seperti sekarang. Seringkali ia menerima bola dalam posisi memunggungi gawang sehingga pilihan jalan keluar hanya menyentuh bola berbanyak-banyak, dan harus membalik badan dalam tekanan pula, untuk menghadapi lawan. Itu, atau mengumpan bola ke sayap, menjauhkan bola dari wilayah mencetak gol.

Guardiola mengajarkan Sterling untuk bermain sederhana namun efektif, untuk mengancam dalam satu-dua sentuhan. Dengan kata lain: Sterling lebih produktif karena memiliki pengambilan keputusan dan pemahaman ruang yang lebih baik. Dalam taktik Guardiola, pemahaman ruang – dengan atau tanpa bola – adalah yang utama.

Namun bukan itu saja. Sterling memainkan peran yang berbeda dengan musim lalu. Musim ini, Sterling lebih banyak bergerak di daerah tengah. Musim lalu ia bermain melebar, bersama Leroy Sane, dalam taktik penguasaan ruang yang diterapkan Guardiola. Musim lalu Sterling dan Sane memainkan tugas itu karena City tidak memiliki fullback yang sesuai kriteria Guardiola.

Sekarang tidak demikian. City punya Kyle Walker, Danilo, dan Benjamin Mendy yang bertugas di sekitar garis tepi. Keberadaan para fullback tersebut membuat Sterling bisa bermain lebih ke tengah. Kondisi ideal membantu Sterling memainkan peran yang lebih vital. Namun yang lebih penting dari keberadaan para fullback, tentu saja, adalah kemauan Sterling untuk belajar dan mempraktikkan apa yang diajarkan dalam pertandingan.

Komentar