Meluruskan Salah Kaprah Istilah False Nine

Taktik

by Ardy Nurhadi Shufi 31212 Pilihan

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Meluruskan Salah Kaprah Istilah False Nine

False nine. Istilah ini sudah cukup akrab bagi para penonton dan pesepakbola. Meskipun begitu, masih banyak yang salah kaprah pada pengertian istilah tersebut. Banyak yang menyangka bahwa false nine adalah penyerang palsu di mana seorang gelandang yang ditempatkan sebagai penyerang.

Contohnya pada laga Persib Bandung menghadapi Bhayangkara FC akhir September lalu. Kala itu komentator pertandingan berulang kali menyebutkan bahwa Raphael Maitimo bermain sebagai false nine. Pemain berpaspor Indonesia itu bermain sebagai penyerang lantaran penyerang andalan Persib, Ezechiel Ndouassel, absen karena akumulasi kartu. Maitimo sendiri biasanya ditempatkan sebagai gelandang.

Anggapan Maitimo sebagai false nine sebenarnya kurang tepat. Hal ini dikarenakan pada kenyataannya, gaya bermain Maitimo, dari cara bergerak dengan maupun tanpa bola, ia bermain seperti Ezechiel, seorang target man. False nine memang tidak sesederhana pemain gelandang yang menempati pos penyerang.

False nine bukanlah posisi, melainkan peran (role). Maka untuk melihat peran, kita memang perlu melihat dari cara seorang pemain bermain. Singkatnya, peran pemain bukan tentang siapa yang memainkannya, tapi seperti apa ia bermain. Sementara ketika itu, Maitimo tidak mencerminkan permainan seorang false nine.

Pertanyaannya, memangnya seperti apa gaya bermain seorang false nine? Sejarah penggunaan false nine itu sendiri tampaknya akan cukup bisa menggambarkannya.

Awal Kemunculan False Nine

Peran false nine mungkin baru populer ketika Fabregas di timnas Spanyol atau Lionel Messi memainkannya di Barcelona. Tapi sebenarnya, peran ini sudah ada sejak 1930an. Adalah Danubian School di Austria yang pertama kali menggunakan false nine. Ketika itu, seperti yang ditulis Jonathan Wilson dalam Inverting the Pyramid: the history of football tactics, Danubian School yang dilatih Hugo Meisl menggunakan pola dasar 2-3-5 dengan penyerang tengah no.9 ditarik agak mundur dibanding empat penyerang lain yaitu penyerang no.7, 8, 10 dan 11.

Tak hanya di Austria dan Eropa Tengah lain, Wilson juga menuliskan bahwa River Plate pun saat itu menggunakan pola yang sama. Walau begitu, ia menegaskan bahwa Mathias Sindelaar dari Hungaria-lah yang sukses mempopulerkan peran false nine lewat permainannya yang meski penyerang, ia lebih sering berada di depan kotak penalti (drop deeper) dan menjadi pembagi bola serta pencipta ruang di lini pertahanan lawan.

Peran yang dimainkan Sindelaar tersebut dimainkan juga oleh penggawa timnas Hungaria 1950an, Nandor Hidegkuti. Melawan Inggris di Wembley pada 25 November 1953, ia menjadi momok pertahanan Inggris. Kemampuannya memudahkan Ferenc Puskas (10) dan Sandor Kocsis (8) serta Zoltan Czibor (11) dan Laszlo Budai (7) di kedua sayap. Walau begitu, peran false nine Hindegkuti tersebut tak mengurangi ketajamannya, di mana ia berhasil mencetak hattrick dalam kemenangan Hungaria dengan skor 6-3 tersebut.

"Dia [Hidegkuti] pemain hebat dan bisa membaca permainan dengan luar biasa," kata Puskas. "Dia sempurna untuk peran itu [false nine]; bermain di depan gelandang, membuat umpan berbahaya, menggiring pertahanan lawan untuk keluar dari bentuknya dan membuat aksi fantastis saat mencetak gol untuk dirinya sendiri."

Bermain mengenakan nomor punggung 9, saat itu siapapun akan menyangka jika Hidegkuti merupakan pemain yang akan banyak bergerak di kotak penalti, menyambut umpan-umpan silang, atau memanfaatkan umpan-umpan terobosan yang khas dengan penyerang no.9 klasik. Menurut Wilson, komentator pertandingan saat itu pun tertipu dengan nomor punggung pemain Hungaria dan cara bermain skuat asuhan Gusztav Sebes itu yang berbeda dengan kesebelasan kebanyakan. Dari situlah laga antara Hungaria vs Inggris ini disebut-sebut sebagai salah satu pertandingan yang merevolusi taktik sepakbola dunia.

"Anda sekalian pasti dibingungkan oleh beberapa nomor punggung pemain Hungaria," kata Kenneth Wolstenholme dalam Inverting the Pyramid. "Alasannya nomor punggung mereka, dengan pemain centre-half sebagai nomor 3 (biasanya 5), dan pemain bek sebagai nomor 2 dan 4 (biasanya 2 dan 3)." Saat itu, alih-alih bermain sebagai libero, nomor 5, Jozsef Bozsik, merupakan gelandang yang menyokong Hidegkuti sebagai false nine.

Namun skema itu tak selamanya digunakan oleh Hungaria. Bahkan setelah Hungaria beralih ke 4-2-4, yang saat itu dipopulerkan Brasil, Hidegkuti tidak lagi bermain sebagai false nine. Apalagi ketika itu Boszik semakin punya peran penting di sisi kanan Hungaria agar memudahkan Hidegkuti dalam mencetak gol.

False Nine Era Modern

Setelah sekian lama menghilang, peran false nine kembali muncul di Eropa pada 2006/2007. Adalah Luciano Spalletti yang saat itu menukangi AS Roma yang menggebrak persepakbolaan Eropa dengan false nine. Ia memainkan Francesco Totti yang biasanya bermain sebagai gelandang serang pengatur serangan menjadi penyerang dalam formasi dasar 4-1-4-1. Walau begitu, bentuk penyerangan Roma saat itu membuat mereka seperti bermain tanpa penyerang, karena Totti tetap bermain layaknya gelandang serang meski secara posisi ia ditempatkan menjadi penyerang tengah.

Perubahan ini dicoba Spalletti lantaran tumpulnya para penyerang tengah Roma. Apalagi musim tersebut Antonio Cassano baru hijrah ke Real Madrid. Mirko Vucinic penggantinya tak bisa berbuat banyak lantaran ia menderita cedera lutut sejak musim pertama ia bergabung. Vincenzo Montella tak setajam beberapa tahun sebelumnya. Begitu juga dengan Ahmed Hossam Mido dan Francesco Tavano.

Di sisi lain, 4-1-4-1 yang digunakan Spalletti dengan Totti sebagai false nine justru membuat ikon Roma tersebut panen gol. Ia mencetak 32 gol dalam satu musim, membuatnya meraih gelar top skor Serie A dan Sepatu Emas. Eksperimen Spalletti yang sebelumnya lebih sering menggunakan 4-2-3-1 sangat berhasil saat itu.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Komentar