Fellaini dan Matic, Hal Baik di Tengah Kekalahan United

Taktik

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Fellaini dan Matic, Hal Baik di Tengah Kekalahan United

Manchester United memang kalah dari Real Madrid dalam ajang Piala Super Eropa pada Rabu (8/8/2017) dini hari di Phillip II Arena Stadium, Skopje, Makedonia. Namun, setidaknya ada beberapa hal baik yang muncul bagi The Red Devils, salah duanya adalah Marouane Fellaini dan Nemanja Matic.

Pada babak pertama, United memang kalah dari segi taktik dari Real Madrid. Rencana pemakaian wing-back berbuah fatal karena pada akhirnya dua sisi sayap United dapat diokupansi dengan baik oleh Marcelo dan Dani Carvajal, dua full-back agresif milik Madrid. Alhasil United kesulitan untuk mengembangkan permainan, dan pada akhirnya tertekan oleh Los Blancos.

Selain itu, kurang baiknya koordinasi di lini pertahanan membuat sosok Casemiro, yang notabene adalah gelandang bertahan, dapat menceploskan bola ke gawang David de Gea setelah lolos dari penjagaan bek-bek United (terlepas dari posisi Casemiro yang offside atau tidak). Isco pun dapat menembus rapatnya pertahanan The Red Devils lewat skema umpan satu dua dengan Gareth Bale.

Baca Juga: Berlian Real Madrid Membuat Mereka Juara

Namun, di tengah-tengah hal buruk yang menimpa United pada malam yang panas di Skopje tersebut (UEFA memberlakukan water break dalam laga ini), ada sebuah hal positif yang muncul di tubuh United. Mereka adalah Nemanja Matic dan Marouane Fellaini. Berkat keduanya, United yang sempat kehilangan sentuhannya dalam pertandingan ini dapat menemukan sentuhan mereka kembali, walau pada akhirnya hal tersebut tidak mampu memberikan kemenangan untuk United.

Tak sia-sia upaya Mou dapatkan Matic

Di saat nama Fabinho, gelandang AS Monaco menjadi buruan hangat di bursa transfer musim panas 2017, Jose Mourinho justru melakukan hal yang lain. Ia merekrut Nemanja Matic, mantan gelandang Chelsea yang pernah bekerja sama dengannya pada musim 2014/2015. Harga transfernya yang mencapai 40 juta paun membuat orang bertanya-tanya, kenapa Mou sampai rela mengeluarkan uang sebegitu besar untuk merekrut Matic.

Namun, Matic pun menunjukkan apa yang bisa ia lakukan dalam laga melawan Madrid. Menghadapi trio gelandang terbaik Los Blancos, Luka Modric, Casemiro, serta Toni Kroos, Matic bekerja keras membantu pertahanan United. Ia berlarian di tengah, berupaya memutus aliran bola Madrid, bahkan terkadang tak ragu untuk maju ke depan dan mengalirkan bola ke depan ketika ada kesempatan.

Pada babak pertama, di tengah kekacauan yang terjadi dalam permainan United, Matic muncul sebagai sosok penyeimbang. Ia membantu Paul Pogba yang harus banyak turun bertahan, juga membantu pertahanan United yang kerap kecolongan karena koordinasi yang kurang baik. Berdasarkan catatan dari Whoscored, Matic menorehkan upaya empat kali tekel, sekali intersep, dan dua kali melakukan sapuan.

Melihat permainannya yang cukup gemilang dalam laga tersebut, tak heran Mou begitu gigih untuk mendapatkannya. Ia adalah sosok yang akan membuat Pogba dan Ander Herrera bisa lebih leluasa untuk ikut membantu penyerangan.

Fellaini, si unik yang mengubah permainan

Ia kerap menjadi olok-olok. Selain karena rambut kribonya yang mengundang perhatian, aksi-aksinya di lapangan tak jarang bikin lawan kesal. Sikutan adalah hal yang dianggap orang-orang menjadi trademark nya di masa lampau.

Namun, dalam laga melawan Madrid, ia adalah orang yang mengubah permainan. Permainan fisik yang ia tunjukkan membuat para pemain bertahan Madrid sedikit terdesak. Keunggulannya dalam duel udara juga membuat United banyak memenangkan duel udara (meski masuk dari babak kedua, Fellaini berhasil memenangkan dua kali duel udara, tertinggi kedua setelah Chris Smalling). Ruang-ruang pun banyak tercipta berkat kemampuan Fellaini memenangkan duel udara ini.

Didukung dengan masuknya Marcus Rashford, Fellaini pun berhasil menciptakan ruang bagi Romelu Lukaku yang sedikit terisolir di babak pertama. Kengototannya juga membuat United, yang sempat tertekan oleh Madrid, mampu balik menekan para pemain Madrid. Dengan kemampuannya ini, tak heran Mou begitu bersikukuh ingin mempertahankan pemain timnas Belgia ini, meski ia acap berulah di atas lapangan.

***

United memang gagal memenangkan gelar Piala Super Eropa 2017, membiarkan Madrid menyamai rekor AC Milan yang meraih gelar Piala Super Eropa selama dua kali berturut-turut. Namun, tak semua kekalahan berujung menyakitkan. Ada hal-hal positif yang bisa diambil, dan bagi United, laga ini memperlihatkan bahwa mereka punya pemain lini tengah yang baik dalam diri Fellaini dan Matic.

Hal ini akan menjadi bekal yang baik bagi The Red Devils dalam mengarungi Liga Primer musim 2017/2018, serta juga menjadi amunisi yang baik jelang mengarungi ajang Liga Champions musim 2017/2018 kelak. Fellaini dan Matic, akan menjadi salah satu faktor penting kekuatan United di lini tengah.

foto: @SquawkaNews

Komentar