Kembalinya Harry Kane, Kembalinya Taring Spurs

Taktik

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Kembalinya Harry Kane, Kembalinya Taring Spurs

Spurs langsung tancap gas sejak kekalahan terakhirnya melawan Manchester United pada 11 Desember 2016 silam. Dalam enam pertandingan terakhir, mereka sama sekali belum menderita kekalahan, termasuk mengalahkan Chelsea yang membuat rekor kemenangan Chelsea pun terhenti. Ada banyak faktor yang membuat Spurs mampu mencatatkan pencapaian yang baik ini.

Selain karena kecerdikan Pochettino dalam menerapkan strategi mirroring yang pernah diungkapkan oleh manajer Sunderland, David Moyes, moncernya penampilan Tottenham Hotspur dalam enam pertandingan terakhir juga tidak lepas dari meningkatnya penampilan para pemainnya, terutama para pemain di lini depan.

Pemain muda Inggris, Dele Alli, mampu kembali tampil dengan baik di lini depan. Alli yang menjadi pahlawan Spurs ketika The Lilywhites menang atas Chelsea dengan skor 2-0, perlahan mulai mampu kembali menunjukkan penampilan prima seperti yang pernah ia tunjukkan pada musim 2015/2016. Dalam laga melawan West Brom kemarin, ia bahkan sempat mencetak gol setelah mampu mengelabui bek-bek West Brom. Namun gol Alli tersebut tidak sah karena Alli dinyatakan terkena offside.

Bukan cuma Alli, ada juga nama-nama lain di lini serang yang mulai tampil menawan. Christian Eriksen semakin menunjukkan diri sebagai pengatur gelandang Spurs lewat umpan-umpan yang ia berikan ke kotak penalti lawan (Eriksen yang memberikan asis untuk dua gol Alli melawan Chelsea). Belum lagi sokongan serangan dari fullback yang dinamis macam Kyle Walker dan Danny Rose. Dengan rajinnya dua fullback ini naik membantu serangan, The Lilywhites memiliki opsi untuk menyerang memanfaatkan lebar lapangan.

Namun dari semua pemain di lini serang yang tampil spartan, ada satu nama yang tidak boleh dilupakan. Ia adalah Harry Kane. Penyerang timnas Inggris yang sempat seret gol dan mengalami cedera ini mulai kembali menjadi seorang penyerang yang clinical. Dari enam pertandingan terakhir yang sudah ia jalani, ia sukses mencetak enam gol, membuat koleksi golnya di Liga Primer bertambah menjadi 13 dari 16 pertandingan yang sudah ia jalani.

Lalu, mengapa Kane dapat tampil begitu eksplosif?

Harry Kane sempat mengalami sebuah fase seret gol di awal-awal musim. Dari lima pertandingan awal Liga Primer 2016/2017, ia hanya mencetak dua gol saja. Setelah itu ia mengalami cedera dan harus absen dalam lima pertandingan. Ketika itu, hampir banyak yang mengira bahwa Kane sudah mati, dan menganggap bahwa kemampuan Kane sudah tidak sebaik musim 2015/2016.

Namun usai kembali dari cedera, Kane mulai dapat memperbaiki penampilannya. Kecuali ketika Spurs kalah oleh Chelsea di Stamford Bridge dan Manchester United di Old Trafford, hampir dalam setiap pertandingan Kane mampu mencetak gol. Dari 11 pertandingan terakhir yang ia jalani di Liga Primer, ia sukses mencetak 11 gol. Capaian yang secara tidak langsung membantu Spurs untuk bersaing di papan atas klasemen Liga Primer.

Kembalinya penampilan eksplosif Kane ini, termasuk hattrick yang ia cetak ke gawang West Brom, tidak lain disebabkan oleh situai sekeliling yang mendukung penampilannya. Formasi dasar 3-4-3 yang mulai diterapkan Poch sejak kemenangan Spurs atas Chelsea banyak membantu pergerakan Kane di depan.

Penyerang seperti Kane yang bertipikal finisher adalah penyerang yang membutuhkan ruang untuk menciptakan peluang. Jika Costa di Chelsea dapat menciptakan ruang untuknya sendiri, atau malah menciptakan ruang bagi para pemain lain di belakangnya macam Eden Hazard, Pedro, ataupun Willian, lain hal dengan Kane. Ia butuh sokongan dari pemain di belakangnya untuk mendapatkan ruang kosong. Sulit baginya menciptakan ruang sendiri.

Dengan dua pemain yang berada di belakang Kane, entah itu Son-Alli, Son-Eriksen, ataupun Alli-Eriksen (Alli dan Eriksen lebih dapat mampu bekerja sama), Kane memiliki ruang tersendiri untuk bergerak. Pemain-pemain yang ada di belakang Kane, layaknya para inside forward yang berada di tim Chelsea, memiliki dua peran yang kerap dilakukan, yaitu menembus masuk ke dalam kotak penalti dan membukakan ruang bagi penyerang di depan.

Berkat dua inside forward yang berada di belakang Kane, pemain yang juga masuk skuat timnas Inggris dalam Piala Eropa 2016 ini akhirnya dapat memiliki ruang untuk bergerak di dalam kotak penalti. Dengan semakin tajamnya penyelesaian Kane, ia pun mampu menyelesaikan peluang-peluang yang ia dapat. Gol-gol dalam laga melawan Watford dan West Brom menggambarkan betapa clinical nya penyelesaian dari Kane.

Si penyerang tajam itu pun telah kembali untuk sekarang.

***

Dengan membaiknya penampilan para pemain lini serangnya, Poch pun mulai sedikit percaya diri bahwa mereka dapat kembali ke jalur perebutan gelar juara seperti halnya musim 2015/2016. Ia yakin bahwa timnya lebih dewasa sekarang dan siap bertarung bersama klub papan atas lain untuk memperebutkan gelar juara.

Namun semua tergantung dari konsistensi penampilan para pemain lini serangnya, termasuk Kane. Jika semua pemain di lini serangnya dapat saling mengisi, bukan tidak mungkin capaian Spurs musim ini akan lebih baik dari apa yang mereka capai musim 2015/2016, atau bahkan menjadi juara.

Sumber lain: ESPN FC, Squawka

foto: @Squawka

Komentar