Manchester United Membutuhkan Penyegaran Skema di Lini Depan

Taktik

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Manchester United Membutuhkan Penyegaran Skema di Lini Depan

Manchester United gagal mengatrol posisi mereka di klasemen sementara Liga Primer 2016/2017. Menghadapi Burnley di Stadion Old Trafford, Sabtu (29/10/2016), MU harus puas dengan satu poin saja setelah bermain imbang tanpa gol.

Saat ini Manchester United tertahan di peringkat delapan, disalip oleh Watford yang menang 1-0 atas Hull City. Posisi United bisa saja tergusur ke peringkat sembilan andai Southampton mampu meraih poin penuh saat bertandang ke markas Chelsea.

Hasil imbang yang diraih Manchester United sendiri cukup ironis. Sebab sepanjang pertandingan, United terus menggempur pertahanan Burnley, hanya saja tak menghasilkan satu gol pun. Total 37 tembakan diciptakan skuat asuhan Jose Mourinho.

Penampilan kiper Burnley, Tom Heaton, yang melakukan 15 kali penyelamatan pada laga ini mungkin menjadi salah satu yang paling menonjol dari kegagalan Manchester United dalam meraih kemenangan. Namun selain itu, kegagalan United mencetak gol sendiri menunjukkan bahwa lini serang Manchester United sedang tumpul.

Heaton mungkin memiliki penampilan istimewa saat menghadapi Manchester United yang merupakan mantan timnya. Namun perlu diketahui juga, sebelum menghadapi United, Burnley selalu kalah saat bermain tandang. Bahkan dari 41 laga tandang di Liga Primer, Burnley hanya imbang enam kali (31 kalah, empat menang).

Bahkan lebih dari itu, dari tiga kali menjalani laga tandang musim ini, Burnley kebobolan sembilan kali. Chelsea, Leicester dan Southampton masing-masing mampu mencetak tiga gol ke gawang Tom Heaton.

Tak mencetak gol ke gawang Burnley membuat Manchester United memperpanjang catatan tanpa mencetak gol mereka di Liga Primer. Sebelumnya, United juga tak mampu mencuri gol saat menghadapi Liverpool dan Chelsea, yang artinya tiga pertandingan beruntun tanpa mencetak gol di Liga Primer.

Hal tersebut tentu harus menjadi perhatian khusus. Karena Manchester United harusnya memiliki pemain-pemain yang bisa menggelontorkan banyak gol. Terlebih mereka membelanjakan 145 juta paun pada bursa transer musim panas lalu, di mana jumlah tersebut merupakan transfer yang tertinggi kedua (Manchester City di urutan pertama dengan 178 juta paun) di seluruh dunia.

Permainan lini serang Manchester United sebenarnya cukup impresif. Selain total 37 tembakan ke gawang Burnley, United juga saat ini tercatat sebagai kesebelasan dengan jumlah tembakan terbanyak ketiga di Liga Primer, 181 tembakan. Jumlah tersebut hanya kalah dari Tottenham (185 tembakan) dan Liverpool (182 tembakan). Di Eropa, jumlah tersebut merupakan tertinggi ketujuh. Karenanya efektivitas serangan menjadi masalah United.

Mandulnya lini serang Manchester United ini berbanding lurus dengan mandulnya penyerang andalan mereka, Zlatan Ibrahimovic. Karena penyerang asal Swedia ini tercatat memiliki jumlah tembakan terbanyak di Liga Primer musim ini dengan 57 tembakan. Jumlah tembakan Ibra bahkan hampir dua kali lipat dari tembakan Aguero yang baru melepaskan 36 tembakan. Sementara Ibra saat ini baru mencetak empat gol di Liga Primer, Aguero sudah mencetak tujuh gol.

Selain Ibra, Paul Pogba pun memiliki jumlah tembakan yang terbilang tinggi. Dari 10 pertandingan, mantan gelandang Juventus ini tercatat melepaskan 31 kali tembakan. Jumlah tersebut hanya kalah dari Ibra, Philippe Coutinho (41 kali), Aguero (36), Christian Eriksen (33), dan Theo Walcott (32).

Dari catatan di atas, bisa ditarik kesimpulan jika United begitu mengandalkan magis Ibrahimovic dan Pogba dalam upaya mencetak gol. Inilah yang mungkin perlu kembali diracik oleh Mourinho. Terlebih karena Ibra dalam tujuh pertandingan terakhir tak mencetak gol.

Ibrahimovic jelas bukan tanpa peluang. Namun dari peluang-peluang yang ia dapat, terlihat eksekusi mantan pemain Malmo ini tak begitu sempurna. Penyerang yang didatangkan dari Paris Saint-Germain ini terakhir kali mencetak gol ketika menjalani derby Manchester. Setelah itu, ia menyia-nyiakan 42 tembakan.

Mourinho sendiri tampak enggan mengganggu Ibra di lini depan. Di Liga Primer, Ibra selalu bermain 90 menit. Ia pun menjadi satu di antara dua pemain United yang bermain 10 pertandingan tanpa diganti bersama David De Gea.

Tak masalah sebenarnya Mourinho menggantungkan harapan besar pada Ibrahimovic. Lagipula Ibra datang ke United pun dengan torehan 50 gol dari 51 laga (38 gol di Ligue 1) bersama PSG musim lalu. Kualitasnya jelas tak perlu diragukan lagi.

Namun Liga Primer tentunya berbeda dengan Ligue 1. Variasi taktik diperlukan dalam mengarungi Liga Primer. Tengok Antonio Conte dan Pep Guardiola yang terus berinovasi untuk menemukan komposisi ideal.

Mourinho terlalu berpaku pada formasi dasar 4-3-3 atau 4-2-3-1, dengan Ibra menjadi ujung tombak sendirian. Di tengah pertandingan, pergantian-pergantian yang Mou lakukan tak terlalu ekstrim, hanya sekadar mengganti pemain per posisi para pendukung Ibra.

Manchester United membutuhkan penyegaran skema di lini depan. Hal ini dikarenakan Ibra saat ini belum mencetak gol di tujuh pertandingan. Sementara catatan tersebut merupakan yang terburuk sepanjang kariernya. Sebelumnya, maksimal ia hanya tidak mencetak gol hingga lima pertandingan, yakni ketika membela Barcelona (2009/2010) dan AC Milan (2010/2011).

Mencoba berbagai kombinasi bisa dilakukan Mourinho. Apalagi beberapa pemain yang sebelumnya tak diliriknya tanpa diduga mampu tampil baik, seperti Ander Herrera dan Juan Mata. Stok lini serang MU sendiri masih berlimpah dengan minimnya kesempatan yang diberikan pada Henrikh Mkhitaryan atau Memphis Depay. Marcus Rashford, Anthony Martial, hingga Wayne Rooney pun perlu dicoba kembali menempati pos penyerang tengah.

Di PSG misalnya, meski Ibra menjadi ujung tombak, PSG yang diasuh Lauren Blanc kerap terlihat menempatkan dua penyerang di kotak penalti, dengan adanya Edinson Cavani. Produktivitas Ibra dalam mencetak gol pun tak mengurangi ketajaman Cavani dalam merobek gawang lawan, di mana musim lalu ia mencetak 25 gol dari 52 penampilan. Belum lagi pemain-pemain seperti Lucas Moura dan Angel Di Maria yang juga turut menyumbang gol yang tidak sedikit.

Penempatan dua penyerang, penyerang yang benar-benar di kotak penalti bukan seperti Rashford atau Martial yang kerap dipasang melebar, perlu dicoba Mourinho. Sederhananya, ketika dalam situasi satu lawan satu dengan kiper, penyerang yang menguasai bola memiliki opsi lain selain melepaskan tembakan, dengan memberikan bola pada penyerang lain, yang memiliki kans mencetak gol lebih besar.

Perubahan-perubahan di atas memang tidak menjamin lini serang United akan lebih produktif dalam mencetak gol. Bahkan apa yang diutarakan di atas hanyalah sebatas teori. Namun menengok Southampton dan Leicester misalnya, mereka mampu menjebol gawang Heaton tiga gol dengan pendekatan strategi yang berbeda dengan United (keduanya menggunakan dua penyerang). Padahal kala itu, khususnya ketika menghadapi Southampton, Heaton pun tampil sangat gemilang.

Tidak dengan menggunakan dua penyerang pun, selama Mourinho memiliki skema lain untuk memaksimalkan Ibra, Mou patut mencoba variasi strateginya. Karena dengan strategi yang tepat, kiper sehebat apapun akan mampu ditaklukkan; bukan menyalahkan keberuntungan apalagi wasit.

Catatan: Jose Mourinho hanya mendampingi timnya di pinggir lapangan sepanjang 45 menit pertama ketika melawan Burnley. Ia diusir oleh wasit karena melakukan protes berlebihan sehingga terpaksa menonton pertandingan di tribun hingga akhir laga.

Komentar