Tiga Alasan yang Membuat Persib Tersingkir di Piala Jenderal Sudirman

Taktik

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Tiga Alasan yang Membuat Persib Tersingkir di Piala Jenderal Sudirman

Keperkasaan Persib Bandung di Piala Presiden 2015 tak menular ke Piala Jenderal Sudirman. Jika pada Piala Presiden Persib berhasil keluar menjadi juara, di Piala Jenderal Sudirman Persib harus tersingkir sejak fase grup.

Kesebelasan berjuluk Maung Bandung ini tergabung di grup C bersama PS TNI, Surabaya United, Persela Lamongan, dan Pusamania Borneo FC. Apapun hasil pada pertandingan terakhir Persib saat menghadapi PS TNI, Persib tetap tak akan bisa merangsek ke peringkat tiga, apalagi kedua.

Kekalahan atas Surabaya United dan Borneo FC membuat Persib tertahan di peringkat keempat. Meskipun Persib menang melawan PS TNI dan Surabaya United kalah menghadapi Borneo pada laga terakhir, Persib akan meraih poin sama dengan Surabaya United, enam poin, hanya saja kalah head to head.

Kekuatan Persib pada Piala Jenderal Sudirman ini memang berbeda dengan di Piala Presiden. Menurut pandangan kami, setidaknya ada tiga hal yang membuat permainan Persib inferior pada turnamen yang diikuti oleh 15 kesebelasan ini.

Lini Pertahanan Rapuh Tanpa Vladimir Vujovic

Persib tampil tanpa salah satu pemain asing andalannya sejak Indonesia Super League 2014, Vladimir Vujovic. Bek berusia 33 tahun ini lebih memilih untuk pulang ke kampung halamannya, Montenegro, setelah Piala Presiden berakhir.

Vujovic merupakan bek yang handal dalam duel-duel udara. Ia pun cukup piawai dalam membaca permainan lawan, yang berkaitan dengan kemampuannya melakukan intersep. Selain itu, ia pun kerap muncul jadi pemecah kebuntuan kala Persib kesulitan mencetak gol lewat penetrasinya ke kotak penalti lawan saat Persib mendapatkan sepak pojok.

Satu hal lagi kelebihan yang dimiliki Vujovic adalah kemampuannya dalam membangun serangan sejak lini pertahanan. Aliran bola serangan Persib sering dimulai dari kakinya, di mana ia meneruskan bola pada Supardi Nasir yang kerap melakukan overlap atau para gelandang Persib dalam formasi 4-2-3-1.

Sebagai gantinya, Persib lantas mendatangkan bek asal Kamerun, David Pagbe. Pengalaman bek berusia 37 tahun yang sejak 2007 sudah berkiprah di Indonesia diharapkan bisa cepat beradaptasi dengan permainan Persib.

Namun ternyata Pagbe memiliki permasalahan dari segi kebugaran. Hal ini diungkapkan langsung oleh pelatih Persib, Djajang Nurjaman, usai Persib dibekuk Surabaya United.

“Saya kurang puas degan permainan Pagbe, kelihatan sekali masalah dia di fisik karena sudah lama tak bermain.,” ujar pelatih yang akrab disapa Djanur, dikutip dari Simamaung.

Tapi jika dilihat lebih jauh, alasan tersebut kurang tepat jika kebugaran Pagbe bermasalah karena sudah lama tak bermain. Karena pada Piala Presiden pun ia masih menjadi andalan Persela Lamongan.

Jika kebugaran Pagbe memang bermasalah, tentunya hal tersebut lebih karena usianya yang sudah mencapai 37 tahun. Dengan kualitas pemain Indonesia dan asing yang terus meningkat, kualitas permainan Pagbe pun tentunya sudah termakan usia.

Pagbe hanya tampil pada laga melawan Surabaya United. Pada laga menghadapi Persela dan Borneo, Djanur lebih memilih duet Achmad Jufriyanto dan Abdul Rahman di depan I Made Wirawan.

Yang membedakan Abdul Rahman dan Vujovic adalah tipikal permainannya. Abdul agaknya lebih sering berupaya merebut bola secara agresif, tak seperti Vujovic yang lebih sabar dalam bermain, berusaha membaca permainan.

Abdul pun tak memiliki kemampuan membangun serangan layaknya Vujovic. Abdul lebih sering mengirimkan umpan panjang ketimbang memberikan operan pendeka pada Supardi atau pemain gelandang.

Regulasi Dua Pemain U-21

Pada Piala Jenderal Sudirman ini, setiap peserta turnamen wajib memasang dua pemain yang berusia di bawah 21 tahun sejak menit pertama. Menurut analisis kami, regulasi ini memaksa Djanur memutar otaknya lebih keras.

Dua pemain U-21 yang dipilih Djanur adalah Gian Zola dan Febri Haryadi. Dengan kedua pemain minim pengalaman ini, Persib terlihat kesulitan menemukan permainan terbaiknya.

Gian Zola dan Febri memang merupakan pemain bertalenta. Hanya saja permainan keduanya tak bisa nyetel dengan permainan Persib. Inilah yang agak mengganggu pada pola serangan Persib.

Gian ditempatkan sebagai gelandang serang, mengisi pos yang biasanya diisi oleh Makan Konate. Sementara Febri menempati pos sayap kanan yang biasanya ditempati M. Ridwan atau Zulham Zamrun pada Piala Presiden.

Gian yang menempati posisi vital diwajibkan menjadi penghubung antara lini tengah dan lini serang. Namun kualitas yang dimilikinya jelas belum mencapai level yang dimiliki Konate atau Firman Utina, koneksi dari lini tengah ke depan Persib pun terhambat.

Sementara di sayap kanan, Febri sebenarnya tampil cukup baik dengan akselerasi-akselerasinya. Namun kekuatan kakinya tampaknya masih lemah sehingga cenderung lebih mudah dijatuhkan lawan ketika menguasai bola.

Karena kemampuan Gian dan Febri yang belum mencapai level permainan Persib, serangan Persib pun pada akhirnya tak seperti biasanya. Keduanya memang tak pernah tampil penuh, tapi memasukkan pemain yang lebih berkualitas sebagai pengganti mereka tentunya akan membuat pemain penggantinya membutuhkan waktu untuk bisa tune-in dengan tempo permainan yang ada.

Selain itu, Persib memang cenderung jarang mengubah susunan pemainnya dalam dua tahun terakhir. Kehadiran Gian dan Febri yang kualitasnya masih perlu ditingkatkan, tak bisa dimungkiri akan memengaruhi kualitas permainan, khususnya serangan, Persib selama di Piala Jenderal Sudirman.

Cedera Pemain Sayap

Usai Piala Presiden, sejumlah pemain Persib sempat bergabung dengan kesebelasan yang berlaga di Habibie Cup, Sidrap United dan Persipare Parepare. Kepindahan beberapa pemain inilah yang menjadi awal petaka Persib.

Zulham Zamrun yang membawa juara Persipare, pulang dengan cedera yang tak bisa sembuh dalam waktu dekat. Dikabarkan bahwa eks pemain Mitra Kukar ini mengalami cedera ACL dan harus menepi hingga sembilan bulan namanya.

Hal ini jelas menjadi kerugian besar bagi Persib. Zulham adalah andalan Persib di Piala Presiden, di mana ia dianugerahi sebagai pemain terbaik dan pencetak gol terbanyak. Tanpa Zulham, Persib jelas kehilangan salah satu sumber gol mereka.

Memang, Zulham terbilang pemain baru bagi Persib. Hanya saja cederanya M. Ridwan yang membuatnya absen pada mayoritas laga di Piala Presiden dan Piala Jenderal Sudirman ini membuat Persib tak memiliki pemain yang bisa diandalkan di sisi kanan penyerangan.

Bagaimana dengan Tantan? Eks penyerang Persikab dan Persitara ini pun sebenarnya masih belum kembali pada performa terbaiknya. Sama seperti M. Ridwan, Tantan pun sempat mengalami cedera pada Piala Presiden beberapa waktu lalu.

Tak adanya tiga pemain sayap andalan Persib ini jelas menjadi salah satu faktor yang membuat lini serangan Persib kesulitan membobol gawang lawan. Hal ini pun tak dibarengi dengan permainan Atep yang bisa menjadi solusi dari sisi kiri.

Makan Konate sempat dicoba menempati sayap kanan. Namun hal itu tak terbukti efektif ketika dicoba pada laga Persib menghadapi Persela. Konate baru bisa mencetak dua gol, yang membuat Persib berbalik unggul, ketika pemain asal Mali ini ditempatkan sebagai penyerang tengah.

***

Selain tiga hal di atas, mungkin masih ada hal lain yang menyebabkan Persib tampil mengecewakan selama Piala Jenderal Sudirman ini. Tapi rasanya, tiga hal di atas merupakan tiga hal yang paling berpengaruh pada performa Persib secara keseluruhan.

Foto Liputan 6 / Helmi Fithriansyah

Komentar