Taktik dan Posisi yang Membatasi Kreativitas Pemain

Taktik

by Frasetya Vady Aditya Pilihan

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Taktik dan Posisi yang Membatasi Kreativitas Pemain

Sempat ada pertanyaan mengapa seorang pemain hanya bisa berkembang di kesebelasan tertentu. Ambil contoh Lionel Messi yang tidak bisa menunjukkan kehebatannya sama seperti saat ia membela Barcelona. Konon, taktik serta posisi pemain di suatu kesebelasan amat memengaruhi kinerja pemain itu sendiri.

Pelatih pemain muda asal Amerika Serikat, Zac Ludwig, berargumen kalau posisi pemain dalam suatu pertandingan sebenarnya membatasi pemain itu sendiri. Dalam tulisannya di The Coaching Journey, ia ragu kalau taktik serta posisi pemain yang ditetapkan oleh pelatih mampu menemukan bakat baru dari sang pemain.

Tidak Seperti Video Game

Video Game seperti Football Manager, FIFA dan Pro Evolution Soccer, sempat memiliki fitur yang lengkap soal biodata si pemain. Mereka memberitahu posisi mana saja yang cocok bagi pemain tersebut. Dalam ketiga game tersebut, pemain bisa dicoba ditempatkan di berbagai posisi. Lalu, sistem akan memberi tahu apakah ia cocok atau tidak di posisi tersebut.

Misalnya, Alvaro Morata yang mendapatkan poin 85 saat menempati posisi penyerang tengah, dan 87 saat menempati pos di belakang penyerang. Namun, poinnya turun drastis menjadi 62 saat ia ditempatkan menjadi bek tengah.

Namun, hal-hal tersebut hanyalah bagian dari imajinasi saja karena tidak ada yang seperti itu di dunia nyata. Pelatih hanya bisa menerka lewat insting di mana sebenarnya bakat pemain tersebut. Bahkan, tidak sedikit pelatih yang tidak peduli jika pemain tersebut bermain buruk di tempat yang memang bukan posisi alaminya.

No Position

Untuk menemukan bakat-bakat tersebut, Ludwig memberi saran agar sang pemain tidak diberikan posisi yang khusus dalam formasi dan taktik sang pelatih—ia menyebutnya “no position”. Ini penting karena posisi hanya membatasi kreatifitas pemain.

Sejumlah pelatih pemain muda biasanya menempatkan pemain di banyak posisi mulai dari penyerang hingga penjaga gawang. Tujuannya agar pemain tersebut bisa bermain di mana saja. Dengan perkembangan taktik dan formasi saat ini, banyak pelatih yang menginginkan pemainnya untuk bisa main di lebih dari satu posisi.

“Aku pikir ini salah,” tulis Ludwig, “Mereka harus belajar bermain dengan ‘tanpa posisi”. Yang dimaksud Ludwig “tanpa posisi” adalah membiarkan mereka bermain mengalir begitu saja tanpa terikat posisi.

Kita barangkali tidak akan pernah mengetahui kalau Wayne Rooney punya kemampuan yang baik saat ditempatkan menjadi gelandang, andai Louis van Gaal tidak menaruhnya di pertandingan. Pun dengan Ashley Young maupun Valencia yang ternyata bisa bermain baik saat ditempatkan menjadi fullback.

Bayangkan jika ada pemain yang selalu ditempatkan di pos tersebut, padahal ia punya bakat lain di posisi lainnya. Ludwig sendiri menyarankan pelatih untuk memainkan mereka dalam sebuah pertandingan dengan “no position”.

Dengan semakin ketatnya penggunaan formasi yang berpengaruh pada posisi pemain, maka sulit di jaman seperti ini menemukan pemain yang benar-benar kreatif yang menjelajah ke segala sisi. Mereka akan terbentur dengan taktik yang sudah diterapkan pelatih.

Menciptakan Keuntungan Taktikal


(Sumber gambar: whoateallthepies.com)

Sepakbola tak ubahnya seperti pertarungan catur. Seorang pelatih menerapkan taktik tertentu, yang dibalas dengan antitaktik oleh pelatih lawan; begitu seterusnya. Meskipun memang ada pengaruh besar dari pemain yang bermain di atas lapangan, tapi siapa sangka, misalnya Atletico Madrid bisa mengalahkan Chelsea pada leg kedua babak semifinal Liga Champions 2013/2014 di Stamford Bridge?

Dalam komposisi pemain, Chelsea jelas lebih unggul. Bahkan, mereka memiliki keuntungan karena mencetak gol lebih dahulu. Anehnya, Atletico bisa mencetak tiga gol dan menghancurkan strategi defensif yang diterapkan Jose Mourinho.

“Jika sebuah kesebelasan memiliki pemain yang mampu bermain di semua area dan senantiasa berkembang, mereka hampir tak terbendung,” tulis Ludwig.

Ini mengingatkan pada betapa terbatasnya kreativitas pemain Chelsea saat sang pelatih meminta untuk bermain bertahan. Beberapa pemain tentu tidak terlahir untuk bertahan sepanjang 90 menit atau lebih. Ada bakat yang disia-siakan dari para pemain tersebut.

“Bagaimana Anda dapat melakukan hal ini saat beberapa pemain punya pemahaman yang kuat dan bakat yang jauh lebih besar ketimbang pemain di posisi yang lain? Apakah Anda tidak menginginkan mereka berada di tempat terkuat dan paling efektif?” kata Ludwig.

Meniru Juergen Klopp dan Marcelo Bielsa


(Sumber gambar: zimbio.com)

Dalam dua tulisan kami sebelumnya diungkapkan bahwa Juergen Klopp dan Marcelo Bielsa tidak benar-benar memberi instruksi setiap detik, setiap saat. Mereka membiarkan para pemainnya berimprovisasi di atas lapangan.

Klopp hanya mengarahkan para pemainnya dalam kondisi tanpa bola. Ia meneriaki para pemain saat mereka menekan dan berusaha merebut bola dari lawan. Saat bola sudah terebut? Klopp mundur perlahan ke bangku cadangan, dan membiarkan para pemainnya menyerang.

Sementara itu, Bielsa selalu menggunakan taktik yang sama tiap pertandingan: menekan. Namun banyak yang menganggap kalau formasi yang Bielsa gunakan di tiap pertandingan asal-asalan, 3-3-3-1 misalnya. Bielsa bahkan meninggalkan formasi awal karena instruksi man-to-man marking sehingga penempatan posisi pemain yang tak lagi berdasarkan posisi awal.

Cara Marseille menyerang tidak lain dari hasil mereka menekan. Lewat man-to-man marking, pemain Marseille lebih mudah merebut bola dari lawan untuk segera melancarkan serangan balik. Tentu, ini juga bukan hasil instruksi Bielsa.

Apa yang dilakukan dua pelatih tersebut bukan tidak mungkin menemukan bakat baru. Misalnya Dimitri Payet yang ternyata memiliki kecepatan saat menggiring bola. Ini terlihat saat ia melakukan serangan balik, misalnya.

Bagaimana menurut Anda, apakah formasi dengan instruksi yang ketat serta posisi yang rigid juga membatasi kreativitas pemain sepakbola masa kini?

Sumber: eweb4.com

Komentar