Bagaimana Young Bisa Lebih Baik Daripada Di María?

Taktik

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Bagaimana Young Bisa Lebih Baik Daripada Di María?

"Ashley Young bermain seperti Ángel Di María, sementara Ángel Di María bermain seperti Ashley Young. Sepakbola itu aneh," ujar salah satu pendukung Manchester United setelah pertandingan derby Manchester akhir pekan lalu (12/04) yang dimenangkan 4-2 oleh Setan Merah.

Young, pemain sayap Inggris yang musim lalu bermain menyedihkan di bawah asuhan David Moyes, pada musim ini menjadi salah satu bintang United setelah ia mencetak satu gol dan dua assist saat melawan Manchester City.

Jika melihat performa United yang sudah kembali ke bentuk terbaik mereka, anehnya ini tidak dibarengi oleh peran pemain termahal yang mereka datangkan awal musim ini, Di María.

Membandingkan Young dengan Di María bisa dibilang sebuah "usaha yang sia-sia". Apalagi jika di awal musim ini kami menyampaikan sebuah kalimat, "Ashley Young adalah pemain kunci United yang berhasil menyingkirkan Di María," pasti Anda semua akan bilang kami gila.

Tapi mau berkata apa, Young telah melakukan pekerjaan yang efektif ketika ia bermain, dan sekarang suporter dan para pundit malah bertanya apakah Di María bisa kembali mengisi susunan sebelas pemain inti saat di situ ada Young.

Bagi banyak orang, kartu merah dan larangan bermain setelah dengan bodoh Di María menarik baju wasit dalam kekalahan United dari Arsenal di Piala FA adalah sebuah berkah tersembunyi untuk United (bukan untuk Di María).

Jika melihat Di María, ia dinilai sebagai pemain yang tepat untuk Manchester United. Kecepatan dan dinamisme adalah kemampuan mutlak yang minimal dimiliki oleh Di María. Jadi, kita semua pasti bertanya-tanya...

Apa yang salah dengan Ángel Di María?

Mari kembali kita membedah filosofi sepakbola Louis van Gaal meskipun akan sedikit rumit dan sulit. Namun, satu hal intisari filsafatnya adalah penguasaan bola. Kurang lebih, "Jaga penguasaan bola, dan kita bisa menang".

Van Gaal membenci pemainnya jika kehilangan penguasan bola dan ketika menyerah dengan mudah setelah direbut oleh lawan, seperti Di María.

Setelah menang melawan Liverpool di Anfield, Van Gaal berkomentar, "Kami berlari dengan bola [dribel dengan kencang, sehingga ada kemungkinan bola terpental], ini adalah kerugian yang tidak perlu, sehingga ini tidak begitu baik."

Meskipun ia tidak menyebutkan nama, banyak yang mengacu pernyataan tersebut ditujukan untuk pemain asal Argentina dengan inisial ADM.

Saat melawan Liverpool dimana Steven Gerrard mendapatkan kartu merah yang apik, meskipun menyediakan assist pada gol ke dua Juan Manuel Mata dan mengirim operan yang membuat Emre Can melakukan pelanggaran di kotak penalti terhadap Daley Blind, Di María dianggap melakukan kesalahan karena menempatkan beberapa operan yang tidak tepat sasaran dan satu back pass tidak sempurna yang hampir mendatangkan malapetaka dalam pertahanan.

Musim ini United tidak cukup  produktif dalam menciptakan peluang. Sebuah peluang biasanya dimulai dari bek dan setelah beberapa operan bolak-balik yang juga melibatkan penjaga gawang, bola akan tiba di kaki salah satu gelandang yang kemudian secara lambat akan mengoper menyamping, kadang bola panjang, lewat dari kiri ke kanan dan kanan ke kiri, sehingga kemudian bisa mencapai kotak penalti lawan.

Langkah ini mulai terlihat menjanjikan. Tapi seringkali ketika bola sampai kepada Di María, ia sering merusak aliran serangan. Seluruh siklus di atas akan diulang sampai ia merusaknya lagi. Lagi, lagi, dan lagi.

Ketika membuat kesempatan itu sendiri adalah sesuatu yang langka, maka kita dapat dengan mudah memahami rasa sakit hati si manajer ketika pemainnya yang satu itu hampir selalu kehilangan bola.

Akurasi operannya agak mengkhawatirkan di angka 78 persen, sementara umpan sialngnya lebih mengerikan lagi. Dari 132 crossing, hanya 18 persen saja yang mencapai target. Secara keseluruhan, Di María telah terbukti menjadi "faktor X" dalam penguasaan bola.

Perbandingan dengan Ashley Young

Kembali kami merenung, rasanya sangat aneh jika kita membandingkan Di María dengan Ashley Young. Bahkan rasa aneh ini semakin merasuki kepala kami karena menurut statistik, Young relatif melebihi Di María.

Tak seorang pun akan pernah mengharapkan Young, dari semua pemain United, akan bisa menyingkirkan Di María dan dengan nyaman muncul sebagai pemain yang lebih baik.

Berandai-andai juga, Di María bisa dibilang merupakan 10 pemain terbaik dunia sebelum ia datang ke United. Pada saat itu, bahkan Young saja bukan merupakan 10 pemain terbaik Manchester United.

Tapi itulah yang terjadi saat ini.

Perbandingan Ashley Young dengan Ángel Di María (Sumber: Opta)
Perbandingan Ashley Young dengan Ángel Di María (Sumber: Opta)

Sementara tidak sangat mencolok dan spektakuler, mantan pemain Watford dan Aston Villa ini telah melakukan pekerjaan yang sederhana namun efisien dalam absennya Di María.

Dia melakukan umpan silang dengan lebih baik (22 persen: 24 umpan silang berhasil dan 87 yang gagal) dan tidak melakukan banyak kesalahan.

Dalam tiga pertandingan terakhir melawan Tottenham, Liverpool, dan City (sampai Di María masuk), United telah sangat mengesankan di sisi kiri lapangan. Young, Fellaini, dan kombinasi mereka dengan Blind telah bekerja luar biasa baik. LVG mungkin ingin menyimpan rumus ini dengan utuh.

Perbandingan Ashley Young dengan Ángel Di María (Sumber: Opta)
Perbandingan Ashley Young dengan Ángel Di María (Sumber: Opta)

Selain itu, Young juga bisa menyediakan kemampuan bertahan yang lebih baik daripada Di María. 19 tekel berbanding sembilan, 26 sapuan bola berbanding dua saja, 37 kali memotong bola dibandingkan Di María yang hanya melakukannya 17 kali.

Begitupun dengan duel, Young memenangkan 89 duel (55 persen) sementara Di María 77 (41 persen). Sedangkan duel udara, Di María memiliki angka kemenagan nol persen, sementara Young 43 persen (12 kali menang duel udara). Ashley Young luar biasa.

"Ashley Young sudah menjadi tulang punggung United musim ini," kata Paul Merson kepada Sky Sports.

Perbandingan Ashley Young dengan Ángel Di María (Sumber: Opta)
Perbandingan Ashley Young dengan Ángel Di María (Sumber: Opta)

Tapi tentunya ada beberapa hal yang membuat Di María unggul, ia membuat peluang lebih banyak (47) daripada Young (23). Ini juga yang membuat jumlah assist-nya sudah menyentuh angka 10 (berbanding dengan Young yang hanya 3).

Namun, sekalipun Young belum pernah terjebak offside, sementara Di María sudah terjebak empat kali.

Kesimpulan

Liga Primer Inggris adalah liga yang sulit untuk pemain seperti Ángel Di María yang bertipikal berlari dengan bola. Fisik dari para bek dan wasit yang lebih lunak daripada di La Liga Spanyol akan membuatnya sulit untuk sering-sering membawa bola lebih jauh dari dua meter tanpa mengundang tekel lawan.

Bisa dibilang Di María adalah lawan yang relatif mudah bagi bek-bek Liga Primer sejauh ini. Tapi kemudian, pemain seperti Mata dan David Silva (yang keduanya dari Valencia CF di La Liga) telah bertransformasi menjadi pemain yang mengesankan.

Mungkin yang Di María perlukan hanyalah waktu. Jika semuanya berjalan lancar, musim depan Di María adalah pemain yang bisa diandalkan.

Butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan cuaca dan permainan sepakbola di Inggris. Butuh waktu untuk cocok dengan gaya bermain yang baru, bahkan Young juga butuh waktu. Butuh waktu untuk melupakan ketidakadilan yang dirasakannya di Madrid dulu. Waktu adalah yang harus Van Gaal dan kita berikan, maka bersabarlah.

Namun saat ini, Ashley Young adalah pemain yang lebih baik daripada Ángel Di María.

Jelas bahwa Van Gaal juga saat ini lebih menyukai Young. Ia mengatakannya sendiri setelah pertandingan melawan Newcastle United di Bulan Maret bahwa dia cocok dengan "profil"-nya:

"Dia adalah pemain yang ingin melakukan apa yang Anda katakan. Saya pikir dia cocok dengan profil saya. Kami telah bermain juga dengan full-back dan saya pikir itu adalah posisi terbaiknya. Sekarang saya memakainya sebagai pemain sayap dan dia melakukan pekerjaan yang sangat baik. Saya senang dengannya."

Young sudah bermain baik bagi United. Selain di sisi kiri juga dia sudah bermain cemerlang dari berbagai posisi dan dengan berbagai tanggung jawab. Sepertinya Van Gaal mengubah timnya dari pertandingan ke pertandingan untuk menemukan kecocokan pemain, formasi, dan taktik.

Kemudian Young telah menjadi salah satu pemain utama. Keserba-bisaannya telah memungkinkan manajer untuk menjadi fleksibel juga.

Sebagai imbalannya, entah bagaimana, Van Gaal telah membuat Ashley Young (bersama Maroane Fellaini dan juga Luis Antonio Valencia) menjadi pemain yang lebih baik. Dia membuat fleksibilitas yang efektif. Dia membuatnya menjadi pemain kunci.

Bagaimana Van Gaal melakukannya? Hal ini hanya dapat dijelaskan dengan sulap.

Sumber: The Telegraph, Sports Keeda, MUFC Latest, Opta, Give Me Sport, Sky Sports

Komentar