Menakar Kekuatan Pelita Bandung Raya Musim Depan

Taktik

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Menakar Kekuatan Pelita Bandung Raya Musim Depan

Saat bursa perpindahan pemain Liga Indonesia bergulir, tak semua klub melakukan perombakan. Tim-tim papan atas seperti Persipura Jayapura, Arema Cronus dan Persib Bandung misalnya, nyaris 90% komposisi pemain pada musim lalu dipertahankan.

Hal itu ternyata berlaku pula bagi klub asal Bandung lainnya, Pelita Bandung Raya. Sama seperti Persipura, Arema dan Persib, PBR pun tak merombak total skuatnya. Pemain masuk dan keluar nyaris seimbang. Wajar memang, karena dengan komposisi pada musim lalu, The Boys Are Back mampu melenggang hingga babak semi-final.

Namun tentu saja, sang arsitek tim, Dejan Antonic, menyadari bahwa timnya pun perlu mengalami peningkatan kualitas. Dan salah satu yang paling disoroti oleh pelatih asal Serbia ini adalah lini depan. Maka pada bursa perpindahan pemain pada musim ini, sejumlah pemain depan pun didatangkan.

Ditinggal Talaohu Abdul Musafri, Bambang Pamungkas dan Gaston Castano, PBR mendatangkan Ilija Spasojevic, Syamsir Alam, Ghozali Muharram Siregar dan Yongki Aribowo. Empat pemain anyar ini akan menjadi harapan baru coach Dejan pada musim depan.

Spasojevic akan menjadi pemain yang paling dinantikan golnya oleh PBR. Dan rasanya tak salah PBR berharap pada penyerang asal Montenegro ini. Karena pada setiap tim yang ia bela, Spaso selalu berhasil menjawab kepercayaan tersebut.

Mulai berkarir di Indonesia pada musim 2010/2011, penyerang berusia 27 tahun ini langsung menjadi bomber andalan Bali Devata di Indonesia Primer League (IPL). Bermain sebanyak 14 kali, Spaso sukses mencetak delapan gol.

Pun begitu ketika ia membela PSM Makassar, Mitra Kukar, dan Putra Samarinda. Bersama tim asal Makassar, 15 gol ditorehkannya dari 27 penampilan. Sementara bersama Naga Mekes, torehan golnya mencapai 10 gol dari 16 penampilan. Bersama Pusam, 10 gol dicetaknya dari 20 penampilan.

Dengan melihat statistik di atas, nyaris setiap musim persentase mencetak gol Spaso berkisar antara 0,5 hingga 0,6. Ini artinya, Spaso sangat memungkinkan mencetak satu gol setiap dua pertandingan. Sebuah catatan yang cukup mengesankan tentunya.

Namun bagaimana Dejan memaksimalkan Spaso sendiri masih memunculkan tanda tanya. Karena jika melihat Syamsir Alam dan Yongki Aribowo, keduanya merupakan tipikal penyerang tengah, bukan penyerang sayap seperti T.A. Musafri. Maka, apakah Dejan akan mengubah formasinya kembali menjadi 4-4-2?

Musim lalu, sejak cederanya Gaston Castano, PBR mulai menggunakan formasi 4-2-3-1 atau 4-3-3. Saat penyerang asal Argentina tersebut belum mendapat cedera parah, Dejan kerap menduetkan Gaston dan BP sebagai penyerang di lini depan dalam formasi 4-4-2.

Syamsir Alam mungkin bisa ditempatkan sebagai gelandang serang sehingga Dejan tak perlu repot-repot mengubah formasinya kembali. Namun Yongki, pemain yang musim lalu membela Barito Putera ini, lebih bertipikal seorang poacher atau target man.

Yongki bisa saja dipaksakan untuk ditempatkan sebagai penyerang kanan, di mana penyerang kiri biasanya ditempati David Laly. Penyerang berusia 25 tahun ini cukup memiliki kecepatan. Hanya saja ia lebih bertipikal sebagai finisher bukan pengirim umpan silang.

Hengkangnya Wildansyah dan Dias Angga pun bisa membuat PBR benar-benar akan kembali menggunakan 4-4-2. Pasalnya, kedua pemain ini merupakan pemain inti pada posisi bek sayap. Tak adanya pemain sayap baru yang direkrut membuat stok bek sayap PBR pada musim depan cukup minim.

Choirul Rifan mungkin akan menjadi penghuni bek sayap inti PBR musim depan. Musim lalu ia mendapat kesempatan bermain dalam 16 pertandingan, di mana 10 di antaranya turun sebagai pemain pengganti. Bek lain seperti Saddam Tenang dan Mokhamad Syaifuddin tak sekalipun mendapat kesempatan bermain.

Maka dari itu, Iman Pathurohman yang pada musim lalu bermain pada posisi gelandang sayap sepertinya akan diplot sebagai bek sayap. Dan posisi ini bukan posisi yang asing baginya karena pada musim lalu pun Iman beberapa kali kerap ditempatkan pada posisi bek sayap.

Dengan dimundurkannya Iman, otomatis hanya Rizky Pellu, Kim Kurniawan dan Wawan Febrianto pemain inti yang berposisi sebagai lini tengah. Wawan yang menghuni gelandang sayap, bisa ditempatkan di sayap kanan, sementara Pellu dan Kim, bermain di tengah.

Untuk sisi kiri, David Laly akan menjadi pemain yang tepat untuk posisi ini. Dengan kecepatan yang dimilikinya, ia cukup bisa diandalkan baik untuk menyerang maupun bertahan.

Karena dimundurkannya David inilah PBR tampaknya akan kembali menggunakan formasi 4-4-2. Dua di depan, Dejan tinggal memilih pemain mana yang pas diduetkan dengan Spaso. Apakah itu Yongki, Syamsir atau pun Ghozali yang musim lalu mencetak dua gol dari 16 penampilannya bersama Pro Duta di Divisi Utama.

Namun formasi apapun yang nantinya dipilih Dejan, dengan komposisi yang ada saat ini, The Boys Are Back tampaknya masih ingin berstatus sebagai kuda hitam seperti musim lalu. Ya, pada musim depan, mereka masih akan mengandalkan pemain muda yang sama, dibantu oleh kiper tangguh Denis Romanovs.

PBR layak optimis memang. Karena jika berkaca pada musim lalu, PBR menjelma menjadi salah satu tim yang sulit dikalahkan. Jumlah kebobolannya pun merupakan salah satu yang tersedikit di ISL. Setelah lini pertahanan menjadi kekuatan utama musim lalu, barisan penyerang anyar pun didatangkan untuk melengkapi kekuatan PBR. Dan ini bisa menjadikan PBR akan semakin kuat pada musim pada musim depan.

foto: ligaindonesia.co.id

Komentar