Cara Kerja Pemanas Anti Salju di Lapangan Sepakbola

Sains

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball | plus Supporter

Cara Kerja Pemanas Anti Salju di Lapangan Sepakbola

Sebagian besar wilayah di Eropa saat ini tengah dilanda cuaca ekstrim musim dingin. Umumnya cuaca ekstrim yang terjadi di musim dingin ditandai dengan turunnya hujan salju dengan intensitas tinggi. Dalam dunia sepakbola, dampak yang ditimbulkan dari cuaca ekstrim musim dingin ini terbilang besar, karena berpotensi membuat pertandingan tertunda.

Paling sering pertandingan sepakbola tertunda di musim dingin dikarenakan permukaan rumput yang tertimbun salju. Saat permukaan lapangan tertimbun salju, sebagus apapun rumput yang digunakan tetap dianggap tak layak untuk menggelar sebuah pertandingan.

Tumpukan salju akan membuat laju bola akan sering tersendat, akibatnya permainan akan terganggu dan sangat tidak menarik untuk disaksikan. Selain itu, lapangan juga akan menjadi lebih licin dan fatalnya bisa membuat permukaan tanah mengeras, karena tertutup es.

Andai pertandingan tetap dipaksakan dalam kondisi seperti itu, tentu saja sangat berisiko karena membuat para pemain lebih rentan terjatuh. Potensi cedera pun jadi lebih besar karena saat terjatuh, kontak tubuh dengan tanah benturannya menjadi lebih keras.

Ada banyak kerugian yang ditimbulkan dari tertundanya sebuah pertandingan karena cuaca buruk. Berbagai upaya dilakukan untuk meminimalisir potensi tertundanya sebuah pertandingan karena cuaca ekstrim musim dingin. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan memasang Under-Soil Heating atau pemanas bawah tanah, di bawah permukaan lapangan.

Pemasangan pemanas bawah tanah sangat efektif untuk membersihkan permukaan lapangan dari tumpukan salju. Cara kerja dari salah satu teknologi dalam olahraga itu adalah dengan memasang pipa di bawah rumput pada interval yang seragam.

Pipa yang akan dialiri air panas ketika turun salju. (Chiefs.com)

Pada prosesnya, pipa tersebut akan dialiri air hangat, yang nantinya akan mencairkan permukaan rumput yang keras dan licin karena es, dan melelehkan tumpukan salju. Setelah es dan salju mencair, giliran sistem drainase stadion yang bekerja untuk menyerap air agar permukaan lapangan tak tergenang.

Pemanas bawah tanah telah terpasang di banyak stadion di Eropa dan Amerika Serikat. Bahkan Bundesliga menjadi salah satu kompetisi di Eropa yang mewajibkan semua kontestannya memiliki stadion dengan fasilitas pemanas bawah tanah. Stadion Olimpiade Muenchen, menjadi stadion pertama di Jerman yang menggunakan pemanas bawah tanah.

Tidak hanya Jerman, Republik Ceko juga menerapkan aturan yang sama. Meskipun kompetisi domestik Ceko diliburkan pada musim dingin, namun Federasi Sepakbola Ceko mewajibkan seluruh kontestan di kompetisi utama negara pecahan Cekoslowakia itu wajib memiliki stadion dengan sistem pemanas bawah tanah.

Sementara Liga Primer Inggris, meski tidak memiliki aturan yang jelas soal penggunaan pemanas bawah tanah bagi para pesertanya, namun sebagian besar stadion klub Liga Primer Inggris sudah memiliki dilengkapi dengan fasilitas pemanas bawah tanah. Bahkan stadion pertama di dunia yang menggunakan pemanas bawah tanah ada di Inggris.

Goodison Park yang merupakan stadion milik Everton tercatat sebagai stadion pertama di dunia yang menggunakan sistem pemanas bawah tanah. The Toffees menggunakan sistem tersebut pada tahun 1960. Setelah itu, secara berkala tim-tim Inggris seperti Leeds United (1968), Arsenal (1970), hingga Liverpool (1980) mulai menerapkan sistem pemanas bawah tanah di stadion-nya masing-masing.

***

Penggunaan pemanas bawah tanah memang solusi untuk membersihkan permukaan lapangan dari tumpukan salju. Namun itu bukanlah jaminan bagi sebuah pertandingan sepakbola tetap berlangsung meski dalam cuaca ekstrim musim dingin. Ada beberapa pertimbangan yang bisa membuat laga terpaksa ditunda karena badai salju.

Salah satunya, faktor keselamatan penonton. Contohnya, pada Januari 2010 saat pertandingan antara Liverpool melawan Tottenham terpaksa ditunda. Permukaan Stadion Anfield saat itu sebenarnya layak untuk menggelar pertandingan.

Namun karena salju menutupi sebagian besar akses jalan menuju stadion, pertandingan terpaksa ditunda karena dalam kondisi tersebut keselamatan ribuan penonton yang akan berbondong-bondong hadir ke stadion akan terancam. Pada saat itu, suhu juga mencapai minus 7 derajat Celsius, yang tentu sangat membahayakan bagi manusia untuk berlama-lama berada di luar rumah.

Komentar