Empat Hal Keliru dari Suporter Sepakbola (Indonesia)

Sains

by Dex Glenniza Pilihan

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Empat Hal Keliru dari Suporter Sepakbola (Indonesia)

Dr. Sigmund Freud, seorang pionir ilmu psikoanalisis, menjelaskan mengenai kekuatan alam bawah sadar. Sebagai manusia, kita memiliki banyak keinginan yang tertanam baik secara langsung maupun tidak langsung. Kebanyakan keinginan kita yang berasal dari alam bawah sadar adalah keinginan yang tidak dapat dipenuhi ketika kita dalam keadaan sadar atau terjaga.

Menurut Freud, keinginan alam bawah sadar ini umumnya adalah keinginan yang berkaitan dengan seks. Beberapa contoh lain juga ditunjukkan pada anak-anak yang senang menghisap jempol mereka.

Dalam sepakbola, keinginan alam bawah sadar bisa dipelopori oleh sesuatu yang ditonton secara berulang-ulang, nyanyian-nyanyian (chant) yang didengar dan dinyanyikan, sampai sesuatu yang dibaca secara umum.

Misalnya saja, bagi anak-anak yang sering menonton Cristiano Ronaldo bermain akan cenderung meniru gaya pemain asal Portugal tersebut. Dua contoh yang paling umum adalah gaya saat ingin mengambil bola mati (kaki mengangkang) serta gaya perayaan golnya. Disadari atau tidak, pikiran ini sudah tercetak di dalam mindset seseorang.

Rivalitas yang tertanam di alam bawah sadar

Bagi sebagian besar pendukung kesebelasan, nyanyian-nyanyian suporter juga bisa menanamkan pikiran di alam bawah sadar orang yang mendengarnya.

Seperti bagi bobotoh Persib Bandung, nyanyian “The Jak anj*ng, dibunuh saja,” seolah menjadi kata-kata yang pada awalnya dimaksudkan untuk menekan mental The Jak (sebutan untuk suporter Persija Jakarta) dan kesebelasan Persija.

Namun, nyanyian yang terus diulang-ulang ini, apalagi jika sudah didengarkan sejak anak-anak, akan tertanam di pikiran alam bawah sadarnya.

Pada kondisi normal sehari-hari, mungkin isi nyanyian ini tidak akan terealisasikan karena berbenturan dengan norma yang ada (hukum negara dan adat mengenai larangan membunuh). Tapi pada kondisi khusus, seperti di stadion atau sedang bersama gerombolan suporter lain, isi nyanyian ini sudah tertanam di alam bawah sadar sehingga mereka seperti refleks saja untuk benar-benar melakukannya.

Bukan hanya soal mendukung (support), bentuk negatif dari nyanyian yang terdengar dan tersuarakan ini juga bisa dicermati dari nyanyian atau ucapan “wasit go*lok” atau peristiwa pelemparan botol.

Menurut psikoanalisis, keinginan ini memang terpendam dan seringnya tidak mendapat kesempatan untuk muncul ke permukaan. Seseorang yang sadar dan rasional tidak akan sembarangan untuk memuaskan keinginan alam bawah sadarnya karena adanya rambu-rambu hukum sosial.

Oleh karena itu, permasalahan suporter sepakbola ini adalah permasalahan sosial yang sudah ditanamkan sejak kecil, kebanyakan secara tidak langsung, melalui alam bawah sadar mereka.


Baca juga: Berdamailah, Sepakbola Itu Indah...


Mudah menyamaratakan

Masalah berikutnya dari suporter sepakbola adalah terlalu mudah menggeneralisasi. Salah satu aspek dari generalisasi adalah penyamarataan.

Dalam fenomena suporter sepakbola, kita bisa menemuinya setiap saat, misalnya pada pernyataan “seluruh orang Jawa Barat adalah bobotoh Persib”. Padahal, generalisasi ini bisa jadi sangat keliru.

Immanuel Kant, seorang filsuf Jerman, memisahkan jenis pernyataan menjadi dua, yaitu analitik dan sintetik. Pernyataan analitik adalah pernyataan yang benar secara definisi. “Persib adalah kesebelasan yang ada di Jawa Barat” adalah pernyataan analitik meskipun, misalnya, Persib tidak boleh menggelar pertandingan di Jawa Barat dan harus pindah kandang ke luar Jawa Barat.

Sementara itu, pernyataan “Mayoritas pendukung Persib adalah orang Jawa Barat” merupakan pernyataan sintetik. Pernyataan tersebut menambah informasi yang kita ketahui tentang sepakbola, tapi tidak menjadi sesuatu yang pasti, karena “orang Jawa Barat” bukan bagian dari definisi “Persib”.

Masalahnya, generalisasi membuat seolah seluruh orang di Jawa Barat adalah pendukung Persib. Padahal tidak semua orang Jawa Barat suka Persib, bahkan besar kemungkinannya ada orang Jawa Barat yang menyukai Persija (rival Persib).

Hal ini sering terjadi ketika pendukung sedang bergerombol, tidak hanya di stadion ketika menonton sepakbola. Misalnya ketika bobotoh bertemu mobil berplat B (Jakarta), mereka biasanya mudah untuk menggeneralisasikan kejadian tersebut dengan sebuah kesimpulan: seisi mobil tersebut adalah suporter Persija.

Pembenaran yang berkelompok

Dari tadi, hal-hal kebanyakan menjadi buruk ketika suporter sedang dalam gerombolan atau berkelompok bersama suporter-suporter lainnya.

Kembali menurut Freud, dorongan bawaan yang bersifat naluriah dari manusia pada umumnya bersifat destruktif. Hal inilah yang menyebabkan para suporter seperti memiliki hobi bersama ketika mereka bergabung bersama pendukung yang berasal dari kesebelasan yang sama, seolah apa yang mereka lakukan mendapatkan pembenaran karena banyak yang melakukannya juga.

Sebenarnya jika dicampurkan ke alam bawah sadar, perilaku destruktif ini tidak hanya terjadi pada satu kelompok yang berciri sama secara langsung, tapi bisa juga secara tidak langsung. Contoh umum dari hal ini adalah perilaku melanggar berjamaah seperti tidak memakai helm, berhenti di zebra cross, dan membuang sampah sembarangan.

Para pelanggar melakukannya karena mengetahui jika mereka tidak sendirian. Dalam kasus berkelompok seperti ini, kesadaran bisa menjadi bias karena sudah terakumulasi menjadi kebiasaan.

Tidak bisa membedakan “lawan” dengan “musuh”

Sepakbola adalah olahraga beregu. Bahkan bagi suporter sepakbola juga demikian. Maka dari itu, sepakbola sebenarnya mengajarkan jika kita semua saling membutuhkan, di manapun kubu kita berada.

Jean-Paul Sartre, filsuf asal Prancis, pernah berkata: “Di dalam sepakbola, segalanya menjadi lebih rumit dengan hadirnya kesebelasan lawan.”

Sartre menggunakan istilah “kesebelasan lawan” (opposite team), bukan “kesebelasan musuh” (the enemy team). Tentunya “musuh” dan “lawan” adalah dua hal yang sangat berbeda. Dalam sebuah pertandingan, kita akan menemukan jika “Persib melawan Persija”, bukan “Persib memusuhi Persija”.

Sebagai lawan, satu sama lain tidak boleh dan tidak bisa saling memusnahkan. Sepakbola hanya bisa dimainkan jika ada dua kesebelasan yang bertanding. “Lawan” adalah prasyarat mutlak untuk memainkan sepakbola. Tanpa “lawan”, tidak akan ada pertandingan.

Jika syarat itu dimusnahkan, jika lawan dimusnahkan, maka tak akan pernah ada pertandingan, tak akan pernah ada sepakbola. Hal ini yang seharusnya tertanam di alam bawah sadar suporter sepakbola sejak anak-anak.

Lagipula, andaikan ada pembenaran dari nyanyian bobotoh tersebut jika The Jak harus dibunuh, apakah jika The Jak dan Persija musnah, lantas kemudian Persib bisa berjaya dan menjadi juara?

Tanpa adanya Persija sebagai “lawan”, bisa jadi Persib tidak akan pernah ada. Atau kalaupun ada, makna mendukung Persib tidak akan sempurna tanpa adanya Persija sebagai lawan.

***

Kadang apa yang kita lihat dan dengar adalah hal-hal yang tidak memiliki makna yang positif yang sudah tertanam di alam bawah sadar kita, sehingga hal tersebut tidak perlu lagi dilakukan, apalagi kepada anak-anak yang tidak tahu apa-apa.

Berikutnya, penyamarataan juga tidak bisa dibiarkan terus terjadi. Seorang suporter yang baik adalah yang bisa membedakan tiga hal, yaitu kawan, lawan, dan netral (termasuk pihak yang tidak tahu apa-apa) yang tidak bisa diputuskan secara sepihak, melainkan secara konfirmatif dan penuh kehati-hatian.

Sebagai makhluk sosial, suporter sepakbola juga sama seperti para pemain yang mereka dukung, yaitu membutuhkan satu sama lain dan bergerak berkelompok. Tapi itu tidak lantas menjadikan apa yang dilakukan secara berkelompok adalah perilaku yang sudah pasti benar, sehingga suporter yang berkelompok juga tetap harus mematuhi rambu-rambu hukum sosial.

Kemudian, justru dengan berkelompok itu yang menunjukkan jika kita saling membutuhkan. Begitu juga dengan lawan. Lawan bukanlah musuh yang boleh atau bisa dimusnahkan. Lawan adalah syarat sah untuk terjadinya pertandingan sepakbola, sehingga kita semua membutuhkan lawan.

Jika setiap suporter sudah bisa memahami empat hal di atas dan ditanamkan sedari kecil kepada generasi selanjutnya, maka kita semua bisa berdamai untuk kemudian merasakan dan menyaksikan kemuliaan sepakbola dengan berjamaah.


Baca juga: Alasan Psikologis: Motivasi Fans Sepak Bola Indonesia Berbuat “Terlalu Barbar”


Komentar