Dua Klub Jerman, Dua Teknologi Latihan Berbeda

Sains

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Dua Klub Jerman, Dua Teknologi Latihan Berbeda

Di zaman serba maju ini, menggunakan teknologi ketika berlatih adalah hal yang lumrah adanya. Bahkan, kehadiran teknologi ini memberikan kemudahan sekaligus bantuan tersendiri bagi pelatih dalam menerapkan menu latihan yang mereka inginkan.

Di Inggris, ada nama David Cameroon yang menerapkan Microsoft Powerpoint, salah satu aplikasi yang merupakan bagian dari Microsoft Office, untuk membantu dirinya dalam sesi latihan yang ia terapkan di klub. Awalnya ia mencoba cara ini kepada anaknya, karena kebetulan ia punya lapangan sepakbola mini di belakang rumahnya. Setelah dirasa sukses, ia pun mencoba cara ini dalam sesi latihan di klub yang ia asuh, menggunakan Microsoft Powerpoint di dalam laptopnya.

Cerita tentang teknologi dalam sesi latihan tidak hanya menjadi milik David Cameroon saja. Negara Jerman, sebagai salah satu negara di dunia yang teknologinya cepat berkembang, sudah mulai menggunakan teknologi dalam sesi latihan klub sepakbola yang dijalankan. Sampai saat ini, tercatat dua teknologi yang sudah mulai digunakan, yaitu Footbonaut milik Borussia Dortmund, dan yang teranyar adalah Videowall milik TSG 1899 Hoffenheim.

Dua teknologi ini, bisa dibilang, merupakan jembatan sepakbola Jerman, juga sepakbola dunia, menuju masa depan.

Dua teknologi sepakbola: Footbonaut dan Videowall

Di negara Jerman, teknologi sudah mulai merambah dunia sepakbola. Borussia Dortmund adalah tim yang mulai gencar menggunakan teknologi dalam membantu sesi latihan mereka. Teknologi itu berwujud dalam sebuah fasilitas bernama Footbonaut. Lewat fasilitas ini, para pemain diasah kemampuannya dalam mengumpan secara presisi dan dapat menahan bola dengan baik.

Di dalam ruangan berbentuk 14x14 meter tersebut, terdapat 72 panel yang menjadi sasaran operan bola. Bola akan keluar dari salah satu panel, dan pemain yang berada di ruangan tersebut harus segera menendang bola ke arah panel yang menjadi tujuan. Semakin cepat sang pemain menerima, lalu mengoper bola ke arah panel yang tepat, maka poin yang didapat pemain tersebut akan semakin tinggi, Poin tiap pemain akan otomatis tercatat di Footbonaut tersebut.

Footbonaut ini dianggap cukup efektif bagi para pemain dalam meningkatkan akurasi umpan mereka sekaligus melatih kemampuan dasar para pemain seperti cara menahan bola, mengumpan bola dengan baik, dalam waktu yang terbilang cepat. Para pemain Borussia Dortmund pun mengaku merasakan manfaat dari fasilitas Footbonaut yang berbasis teknologi ini, walau kocek yang harus dirogoh oleh manajemen Dortmund untuk membangun fasilitas ini terbilang mahal.

Selain Footbonaut, per awal Juli 2017, ada sebuah teknologi baru yang dikenalkan di sepakbola Jerman. Teknologi ini dikenalkan oleh Hoffenheim, klub yang juga menggunakan Footbonaut. Teknologi ini bernama Videowall. Seperti apakah Videowall itu?

Videowall adalah sebuah layar berukuran 6x3 meter yang ditempatkan di garis tengah lapangan latihan Hoffenheim. Layar ini terintegrasi dengan empat kamera. Dua kamera bertempat di dua tiang yang berada di masing-masing ujung garis tengah, sedangkan dua kamera lagi berada di masing-masing belakang gawang. Hasil rekaman kamera tersebut bisa ditampilkan di layar berukuran 6x3 meter tersebut setiap saat.

Terkhusus untuk kamera, keempat kamera tersebut dioperasikan oleh staf pelatih Hoffenheim, sehingga laju dari video dapat dikendalikan secara bebas oleh sang operator, sesuai dengan poin apa yang ingin dibahas oleh Nagelsmann. Gambar-gambar dari video tersebut memudahkan Nagelsmann membahas sebuah situasi di dalam lapangan yang disimulasikan dalam latihan, serta bagaimana cara pemecahan dari situasi yang terjadi tersebut.

Akankah teknologi-teknologi tersebut berpengaruh?

Penggunaan teknologi dalam sepakbola kerap menimbulkan kontroversi, karena dianggap dapat menghilangkan sifat intuitif manusia, terutama teknologi yang dapat membantu wasit. Beberapa menganggap ini terobosan baru, tapi beberapa juga menganggap bahwa teknologi ini menghilangkan sifat manusiawi sepakbola. Sifat manusiawi yang kadang membuat sepakbola justru memanusiakan manusia.

Tapi, bagaimana jika teknologi diperbantukan dalam sesi latihan? Ini tentu lain hal.

Ketika berlatih, pelatih memerlukan detail dari setiap pemainnya untuk menyesuaikan diri dengan skema serta taktik yang akan diterapkan dalam sebuah pertandingan. Detail-detail itu bahkan tak jarang mencakup hal-hal yang dianggap remeh-temeh semisal detak jantung, VO2Max, seberapa keras akurasi tendangan, kekuatan lompatan, stamina, kecepatan, dan sebagainya. Detail-detail seperti itu hanya bisa didapat dengan penghitungan teknologi (seperti yang digunakan oleh Dortmund di Footbonaut).

Selain itu, lewat teknologi, baik itu pemain atau pelatih (termasuk dalam penggunaan Videowall) dapat melakukan evaluasi terhadap permainan secara lebih tajam dan akurat. Kekurangan-kekurangan yang ada dalam sebuah skema dan taktik bisa dipelajari, bahkan mungkin dibredeli sampai titik-titik terkecil.

Para pemain Borussia Dortmund sudah merasakan dari Footbonaut. Kelak para pemain Hoffenheim pun kelak mungkin akan merasakan manfaat dari Videowall ini. Teknologi, memang bisa menghilangkan sifat intuitif. Tapi, di sisi lain, teknologi ini dapat membantu manusia menemukan data-data yang tak bisa didapat dari intuisi.

foto: @NeilGreigSoccer

Komentar