Ilmu Psikologi Menunjukkan Jika Wenger Akan Bertahan

Sains

by Dex Glenniza 31574

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Ilmu Psikologi Menunjukkan Jika Wenger Akan Bertahan

Arsène Wenger sudah menjadi manajer Arsenal sejak Oktober 1996. Menjadi manajer sepakbola untuk satu kesebelasan dalam waktu 20 tahun tentunya adalah sesuatu yang luar biasa, apalagi ia bukan sekadar manajer biasa, karena berhasil membawa Arsenal meraih 15 gelar juara, meskipun gelar juara Liga Primer Inggris terakhirnya adalah pada 2004.

Untuk menjadi manajer terlama di Inggris, ia memang masih butuh sekitar enam musim lagi, atau pada musim 2022/2023. Ia masih kalah jumlah dengan Sir Alex Ferguson yang menjabat sebagai manajer Manchester United selama 27 tahun, yaitu dari 1986 sampai 2013.

Jika saya adalah Wenger, saya tentunya ingin sekali menjadi manajer yang terlama menjabat di salah satu kesebelasan Inggris, menggeser Sir Alex. Namun, menjadi manajer sepakbola tentunya bukan soal angka-angka, apalagi hanya angka yang menunjukkan jangka waktu.

Bahkan Alex Ferguson saja masih kalah jika dibandingkan Ronnie McFall (30 tahun bersama Portadown), Mickey Evans (31 tahun bersama Caersws), Bill Struth (34 tahun bersama Rangers), Willie Maley (43 tahun bersama Celtic), dan Guy Roux (44 tahun bersama Auxerre).

Kita semua pastinya ingin tahu apa isi kepala Wenger. Kenapa ia bisa-bisanya bertahan selama 20 tahun di Arsenal meskipun akhir-akhir ini ia sudah banyak diprotes, bahkan sampai ada yang menyewa pesawat khusus segala untuk menunjukkan pesan “Wenger Out” (dan dibalas lagi kemudian dengan pesan dukungan “In Arsène We Trust”).

Ada kabar jika jajaran direksi The Gunners memberikan waktu kepadanya sampai akhir pertandingan melawan Manchester City di akhir pekan ini (02/04) untuk ia memutuskan apakah ia akan menandatangani perpanjangan kontrak dua tahun atau tidak.

Dari berita-berita yang saya kumpulkan, katanya kontrak sudah ada, hanya tinggal ditandatangani saja. Wenger pastinya tidak akan sembarangan menandatanganinya, kan? Apalagi banyak suara yang sudah tidak mendukungnya. Eh, iya, kan?

Semakin dikritik akan semakin bermental kuat (bisa dibaca juga: keras kepala)

“Kalian semua akan segera tahu,” kata pria asal Prancis tersebut soal keputusannya. Ia memberikan komentar tersebut setelah Arsenal kalah 3-1 dari West Bromwich Albion.

Untuk mengetahui apa isi kepala Wenger, kenapa ia bisa begitu lama bertahan, apa saja yang ia pertimbangkan; maka kita bisa bertanya langsung kepada Wenger... atau, kita bisa meninjaunya dari ilmu psikologi.

Profesor Andrew Lane, seorang psikolog olahraga ternama di University of Wolverhampton, menjelaskan kepada The Independent mengenai perilaku Wenger ini.

“Apakah caci maki suporter akan berdampak kepadanya (Wenger)? Iya, jika ia baper,” kata Profesor Lane. “Tapi jika ia [baper], ia pasti tidak akan menjadi manajer sepakbola mengingat manajer adalah seseorang yang menerima banyak kritikan.”

“Ia akan menerima fakta jika suporter tidak suka dengannya. Lagipula itu bukan lah hal yang baru. Jadi itu tidak akan berdampak kepadanya. Bagaimana dengan komplain dari pemain-pemain? Itu juga ‘sepaket’."

Menurut Profesor Lane, melihat investasinya di segala bidang di kesebelasan Arsenal selama 20 tahun, hasil seburuk apapun tidak akan memengaruhi psikologi seorang Arsène Wenger.

Untuk menjabat lama pada sebuah pekerjaan, seseorang membutuhkan ego dan juga perilaku tidak baper-an. Menurut Profesor Lane, Wenger memiliki keduanya. Kedua hal tersebut yang membuatnya bisa bertahan di Arsenal selama 20 tahun lebih, dan dua hal tersebut juga yang membuat Sir Alex melakukan hal yang sama selama 27 tahun di Manchester United.

Dari penjabaran di atas, kita bisa tahu jika Wenger adalah seorang survivor, tapi juga sekaligus orang yang keras kepala. “Menjadi manajer sepakbola adalah pekerjaan yang menuntut, kamu harus percaya jika yang kamu lakukan memberikan keuntungan,” lanjut profesor di University of Wolverhampton tersebut.

“Dia begitu banyak dikritik dalam pekerjaan yang sebenarnya membuat kamu bisa dipecat dengan mudahnya,” lanjutnya. Menurutnya, hal tersebut yang terus mengembangkan ego seorang Arsène Wenger.

Rasa takut yang menghantui Wenger

Hal lain yang memengaruhi psikologis Wenger, yang juga membentuk karakternya adalah karena rasa takut. Menurut Profesor Lane, Wenger telah memiliki rutinitas selama 20 tahun di usianya yang sudah 67 tahun, sehingga ia tidak akan mau lagi menerima perubahan.

“Kehidupannya berputar di sekitar sepakbola saja. Aku pikir ia tidak akan melihat dirinya menjabat pekerjaan lainnya,” lanjut Profesor Lane. “Di pikiran seseorang, itu adalah tantangan untuk melakukan hal yang sama selama bertahun-tahun. Tapi ia tidak melakukan pekerjaan yang sama, [pekerjaannya] itu selalu mengalami evolusi.”

“Itu yang menjadi alasan kenapa ia akan bertahan. Itu adalah pekerjaan yang selalu berubah tapi ia memiliki kontrol dari perubahan-perubahan itu. Itu adalah keunggulan yang besar di sepakbola. Ia memiliki pengaruh yang besar. Ia melakukannya bukan hanya karena uang.”

Kita mungkin sempat melihat ia bersitegang dengan pemain-pemain seperti Alexis Sánchez atau Mesut Özil. Bahkan kemungkinan Arsenal akan kehilangan kedua pemain kuncinya tersebut sangat besar, tapi kemungkinan tersebut tidak akan pernah sebesar jika Wenger harus angkat kaki dari Arsenal.

“Kesebelasan terlihat tak termotivasi saat ini, tapi aku yakin ia masih termotivasi untuk memiliki kesebelasan yang bagus. Ia akan melihat ambisi jangka panjangnya di musim ini dan musim-musim selanjutnya. Kemudian ia pastinya akan sadar jika ia tidak membutuhkan motivasi lagi, seperti yang Sir Alex Ferguson alami,” kata Profesor Lane.

***

Sama seperti Sir Alex sampai Guy Roux, Wenger memiliki kontrol yang sangat besar dari kesebelasan Arsenal. Biar bagaimanapun, ia telah menjabat sebagai manajer sejak 20 tahun yang lalu.

Wenger memiliki pengaruh yang besar dari hal kecil sampai hal besar di Arsenal. Semua hal yang pernah terjadi dan akan terjadi di Arsenal, seperti perpindahan stadion, pembelian pemain, bahkan sampai perubahan desain jaket, pasti akan dipertimbangkan dan dipengaruhi oleh Wenger.

Tidak peduli suporter sebenci apapun terhadap Wenger, bahkan sampai memboikot sekalipun, pada akhirnya Wenger sendirilah yang akan memutuskan nasibnya.

Jika kita tidak diingkari oleh janjinya, kita akan mendapatkan jawabannya "very soon" dan kemungkinan terbesarnya adalah pekan depan. Apakah ia akan menandatangani perpanjangan kontrak dua tahun atau ia akan menyudahi kontraknya di akhir musim ini.

Tapi sejauh ini, jika kamu percaya ilmu psikologi, kamu pasti sudah tahu jawabannya: Arsène Wenger akan bertahan di Arsenal.


Baca juga: Antara Arsenal yang Sebenarnya dan Arsènal-nya Wenger


Sumber kutipan-kutipan Profesor Andrew Lane: The Independent

Komentar