Apa Nikmatnya Bermain Street Soccer?

Sains

by Randy Aprialdi

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng !

Apa Nikmatnya Bermain Street Soccer?

Indonesia kembali berkecimpung di ajang street soccer sebagai tuan rumah International Street Soccer Championship (ISSC) 2016. Ajang tersebut merupakan salah satu upaya Asosisasi Street Soccer Indonesia (ASSI) untuk memperkenalkan regulasi street soccer di acara TAFISA World Games 2016 yang terselenggara di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, dari 6-12 Oktober 2016. Jika dibandingkan dengan olahraga konvensional lainnya, ISSC 2016 bisa dibilang lebih ramai.

Penonton selalu ada saat pertandingan ISSC 2016 yang digelar di Lapangan Tengah Taman Impian Jaya Ancol tersebut. Apalagi jika Indonesia yang bermain, para pendukung tuan rumah semakin ramai menyemut ke arena street soccer. Sebetulnya apa yang membuat street soccer itu menarik? Padahal sama-sama memainkan si kulit bundar menggunakan kaki.

Menurut Fauzi Malik salah satu warga Jakarta di kawasan Tebet, street soccer ditonton karena masih sama-sama memainkan bola walau ukurannya lebih minim. Tapi ia sendiri tidak terlalu tahu tentang regulasi street soccer dan masih dianggap sama dengan futsal. Namun, ia tahu bahwa street soccer berawal dari permainan sepakbola jalanan.

"Street soccer tidak terlalu terikat dengan lapangan. Karena street soccer aslinya tidak tergantung kepada lapangan yang kotak. Kan, street soccer juga bisa dimainin di jalanan," ujarnya.

Memang street soccer memiliki beberapa perbedaan dengan sepakbola dan futsal. Terkadang, street soccer sering dianggap sama dengan futsal. Awang, wasit ISSC 2016 mengatakan jika street soccer dengan futsal itu berbeda. Bahkan ia merasakan memimpin laga street soccer lebih sulit ketimbang futsal yang biasa ia adili. Apalagi memimpin laga street soccer perlu mata yang jeli karena posisi aturan pemain di lapangan.

"Wasit street soccer lebih susah lagi daripada futsal. Sebab futsal prosedurnya sedikit. Kalau street soccer, prosedurnya bermacam-macam lagi. Macam bolanya tidak ada out, kalau kena dinding main saja [terus dilanjutkan]. Kipernya tidak boleh keluar petak," jelasnya.

Tingkat kesulitan regulasi street soccer diakui dua pemain dari tim nasional (timnas) yang berbeda. Sandy Putra Wijaya yang menjabat kapten Indonesia mengakui hal tersebut. Perbedaan lapangan street soccer memang soal ukuran lapangan karena lebih minim daripada sepakbola. "Lebih sulit street soccer karena kita membutuhkan fisik yang lebih banyak dibandingkan lapangan bola," cetusnya.

Begitu pun yang diserukan Md Dzohril Hafeeq bin Ismawi yang menjadi kapten Malaysia. Sebelumnya, ia lebih banyak berkecimpung di olahraga futsal ketimbang street soccer, "Kalau futsal, lapangannya lebih besar. Street soccer kecil. Street soccer lebih mempenatkan [memusingkan], kalau futsal enggak," beber Dzohril.

Namun, bukan berarti tidak ada enaknya bermain street soccer. Bagi kedua pemain tersebut, street soccer memberikan kelebihannya masing-masing, "Enaknya street soccer itu kita bisa cepat mempersatukan tim. Karena kita harus tau kemampuan teman dan lawan, kita bisa ngebacanya di situ," kata Sandy.

Sementara menurut Dzohril, enaknya main street soccer bisa mencetak gol lebih banyak dalam waktu 10 menit. Hal itu memang terbukti dengan jumlah gol yang terjaring di ISSC 2016. Indonesia pun bisa mencetak sampai 62 gol. Rumania mencetak 48 gol dan Malaysia sendiri menjaringkan 33 gol ke gawang lawan, "Kelebihan street soccer [adalah] mudah untuk mencari gol. Mudah untuk dimainkan," singkat Dzohril.

Di sisi lain, Rochy Putiray selaku pelatih timnas street soccer Indonesia mengatakan tidak ada perbedaannya. Ia merasa tingkat kesulitan street soccer cuma karena perbedaan tiga lawan dua dan tidak ada out. Tapi itu tidak akan menjadi masalah jika para pemainnya bisa bermain pintar. Dalam artian pintar mengambil posisi, akurasi operannya bagus, dan mampu membaca jalannya bola. Sebab street soccer menurutnya bukan bermain memakai otot saja.

Kendati demikian, pada dasarnya Rochy merasakan tidak ada perbedaan atau tingkat kesulitan yang benar-benar kentara bagi street soccer, futsal, maupun sepakbola. Baginya, semuanya sama saja asal bisa menikmati permainannya, "Sama enaknya. Selama bisa menikmati, itu pasti semua permainannya enak," seru Rochy yang mengaku baru pertama menangani tim street soccer ini.

Regulasi antara street soccer, futsal, dan sepakbola, memang berbeda-beda. Maka dari itu menjadi visi dan misi ASSI untuk memperkenalkan regulasi street soccer ke seluruh Indonesia, yaitu dengan merangkul berbagai komunitas street soccer dan menggelar kompetisi street soccer nasional pertahun dan internasional setiap dua tahunnya.

Komentar