Perang Sepakbola dengan Sponsor Alkohol

Sains

by Dex Glenniza Pilihan

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Perang Sepakbola dengan Sponsor Alkohol

Alkohol jelas akan memberikan dampak buruk langsung jika dikonsumsi pemain sepakbola, namun kekhawatiran paling tinggi dari pengaruh alkohol justru pada penonton.

Sebelumnya, kami pernah membicarakan dampak alkohol atau bir di dalam artikel ini. Tidak seperti di Indonesia, di Eropa bir bukanlah hal yang tabu untuk dikonsumsi. Ini yang membuat bir dapat dengan mudah menjadi sponsor acara olahraga. Di Liga Inggris juga bir menjadi salah satu sumber pemasukan klub dan pengelola liga.

Hampir semua kesebelasan memiliki sponsor, baik sponsor utama maupun sponsor pendamping, dengan produk minuman beralkohol. Misalnya saja kesebelasan Everton dan Celtic yang mengiklankan bir pada seragam mereka.

Tapi, menurut laporan dari Guardian, baru-baru ini tim dokter menuntut larangan perusahaan alkohol untuk mensponsori kesebelasan dan acara olahraga karena mereka mengklaim bahwa hal tersebut bisa memicu praktek konsumsi alkohol bagi anak-anak di bawah umur.

Desakan dari dokter

Para pemimpin perawat serta spesialis dan dokter rumah sakit di Inggris mendesak para menteri untuk melarang jenis kesepakatan sponsor untuk mengiklankan bir di seragam kesebelasan sepakbola.

Dalam sebuah surat kepada Guardian, mereka menyerukan aksi ini karena mereka sudah melihat sponsor alkohol olahraga telah menjadi " iklan yang biasa, seperti iklan untuk sereal atau sabun".

Intervensi ini datang ketika jutaan penggemar olahraga mempersiapkan diri untuk menghadiri atau menonton televisi pada program Boxing Day yang umum di Inggris entah itu pada sepakbola, balap, dan rugbi. Seluruhnya telah membantu untuk mempromosikan minuman beralkohol.

Surat itu mengatakan: "Tidak kah seharusnya olahraga nasional menjadi inspirasi anak-anak untuk memimpin gaya hidup sehat dan positif? Hal ini akan dianggap keterlaluan jika tim-tim seperti Everton atau Celtic ada untuk menjadi brand ambassador untuk produk tembakau. Tapi ketika mereka mempromosikan alkohol, kenapa masih bisa diterima?"

Seperti yang kita tahu, Everton disponsori oleh produsen bir Chang dari Thailand sejak tahun 2004, dan awal tahun ini mereka menyetujui perpanjangan sponsor selama tiga tahun senilai 16 juta poundsterling.

Celtic juga mengikat kesepakatan sponsor dengan perusahaan Magners dari Irlandia, yang dilaporkan mencapai 1,5 juta poundserling setiap tahunnya.

Bersama dengan Glasgow Rangers juga, kedua kesebelasan disponsori sampai tahun lalu oleh bir merek Tennent. Bahkan, sebelumnya mereka juga secara bersamaan disponsori oleh Carling, yang juga merupakan merek bir. Kedua raksasa Skotlandia itu menolak untuk menanggapi surat tersebut.

Surat di atas mengklaim: "Iklan alkohol mendominasi acara olahraga yang menarik minat anak-anak dan orang dewasa. Hal ini tanpa sadar bisa menciptakan hubungan antara merek alkohol dan olahraga yang terakumulasi dan dibangun selama bertahun-tahun."

Protes pada hubungan alkohol dan olahraga tersebut juga memberikan alasan bahwa, "bukti menunjukkan bahwa iklan alkohol menyebabkan remaja untuk minum lebih banyak dan juga minum pada usia lebih dini."

Dengan melayangkan surat protes tersebut, mereka ingin pemerintah untuk campur tangan dan menggiring opini publik untuk mendukung lahirnya larangan iklan alkohol pada olahraga. "Mari mengambil tindakan untuk melindungi anak-anak kita dengan memastikan bahwa olahraga yang kita tonton mempromosikan dan menginspirasi gaya hidup sehat, bukan budaya minum. Mari kita membuat sponsor alkohol pada olahraga menjadi sesuatu dari masa lalu," kata mereka.

"Bukti menunjukkan bahwa sponsor alkohol pada olahraga membuat anak sekolah dan olahragawan untuk minum lebih banyak. Mengingat ratusan ribu poundsterling disalurkan oleh sponsor, tidak mengherankan mereka mampu meningkatkan penjualan," kata Katherine Brown, direktur Institute of Alcohol Studies.

"Sudah jelas bahwa anak-anak tumbuh memuja pahlawan olahraga dengan merek bir di dada mereka sehingga akan mengembangkan sikap positif yang mengakar terhadap tradisi minum. Juga jelas bahwa profil tinggi iklan alkohol bekerja untuk menormalkan hubungan yang sebenarnya tidak wajar antara minum dan olahraga," tambah Brown.

Sebelumnya, Prancis telah melarang sponsor alkohol olahraga sejak tahun 1991. Pembatasan tersebut nyatanya tetap membuat Prancis berhasil membuat acara olahraga yang besar, seperti sepakbola dan Piala Dunia rugbi.

"Hal ini menunjukkan alkohol tidak berarti keharusan untuk sukses dalam olahraga," lanjut Brown. Rusia, Ukraina, dan Norwegia juga telah memiliki larangan tersebut. Sementara Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan, dan Republik Irlandia sedang mempertimbangkan hal tersebut.

Desakan dari ilmuwan

Selain dokter, para ilmuwan dan peneliti juga telah menyerukan pembatasan pemerintah yang lebih ketat atau bahkan larangan pemasaran alkohol selama pertandingan sepakbola di televisi, dengan alasan bahwa pesan yang dilihat bisa mempengaruhi jutaan anak-anak.

Penelitian mereka menunjukkan penggemar sepakbola melihat sekitar dua referensi untuk merek alkohol setiap menit ketika mereka menonton pertandingan di televisi, yaitu pada adboard di pinggir lapangan dan juga iklan resmi selama jeda iklan.

"Rata-rata pemasaran alkohol di Inggris adalah sekitar 800 juta poundsterling, dan 200 juta-nya dihabiskan untuk iklan," kata Andy Graham, seorang spesialis kesehatan masyarakat yang bekerja untuk NHS.

"Ini adalah ambien dari pemasaran yang berlangsung, yaitu melalui kampanye viral, media sosial, dan sponsor, yang memiliki lebih banyak dampak."

Jean Adams, seorang dosen senior di bidang kesehatan masyarakat di Newcastle University, yang melakukan penelitian dengan Graham, mengatakan bahwa ini memiliki dampak bagi anak-anak, khususnya yang melihat iklan di televisi.

"Anak-anak yang tidak minum, yang terkena pemasaran alkohol, lebih mungkin untuk mulai minum. Dan anak-anak yang sudah minum, lebih mungkin untuk minum lebih banyak lagi setelah melihat pemasaran alkohol," katanya.

Alkohol dalam sepakbola adalah masalah penting karena sepekbola merupakan olahraga sangat populer di Inggris dan di seluruh dunia. Pada Piala Dunia 2014 saja diperkirakan 46% dari populasi dunia menyaksikan setidaknya satu menit cakupan partai final.

Di Inggris, lebih dari sepertiga dari populasi Inggris menyaksikan final Piala Dunia, dan lebih dari 5 juta anak-anak usia 14 sampai 15 tahun terkena pemasaran alkohol di televisi sepanjang musim.

Menurut laporan terbaru oleh peneliti untuk Alcohol Health Alliance UK, setiap pekan sebanyak 26% pria dan 17% wanita minum pada tingkat yang berbahaya di Inggris. "Konsekuensi dari tingkat paparan di Inggris termasuk sekitar 8.750 kematian terkait alkohol per tahun, 1,2 juta dirawat inap terkait alkohol (di Inggris dan Wales) dan hampir 10.000 korban minuman mengalami kecelakaan lalu lintas pada saat mengemudi," kata laporan itu.

Dalam studi sepakbola, Graham menonton lebih dari 18 jam dari pertandingan sepak bola yang telah ditampilkan pada BBC, ITV, dan Sky, termasuk pra-pertandingan, pertandingan itu sendiri, dan analisis pasca-pertandingan dari Liga Primer, Liga Champions, Piala FA, Piala Liga, Liga Europa, dan Football League Championship.

Heineken sebagai sponsor utama Liga Champions UEFA - sumber: uefa.com Heineken sebagai sponsor utama Liga Champions UEFA - sumber: uefa.com


Graham lalu mencatat setiap merek alkohol yang disebutkan atau ditampilkan di layar televisi, baik dalam komentar, di papan reklame di sisi lapangan, di layar logo sebelum dan sesudah tayangan ulang, atau ketika skor ditampilkan atau pergantian pemain sedang dilakukan.

Hasilnya, sebagaimana dipublikasikan alam jurnal Alcohol and Alcoholism, dalam enam pertandingan yang diteliti, ada 2.042 referensi visual untuk alkohol dari berbagai jenis, sebagian besar bir.

Sementara itu 32 lisan menyebutkan sponsor (terutama Carling mengacu pada Piala Carling - sekarang sudah menjadi Piala Capital One) dan 17 iklan selama pertandingan. "Ada empat referensi dalam komentator tentang tim pemenang yang cenderung memiliki hangover di pagi hari keesokan harinya," kata Dr. Adams, menyiratkan hubungan yang kuat antara minum dan kesuksesan.

Meski demikian, ketika para peneliti menghitung jumlah waktu yang didedikasikan untuk iklan alkohol secara formal, mereka menemukan bahwa hanya kurang dari 1% dari waktu siaran. Mereka mengatakan ini memperkuat gagasan bahwa produsen alkohol lebih senang menggunakan pemasaran yang tertanam ketimbang iklan untuk menyampaikan pesan mereka.

Emily Robinson, direktur kampanye di Alcohol Concern, menyampaikan: "Anak-anak muda mengatakan bahwa mereka sedang semakin dibombardir dengan iklan alkohol di media tradisional seperti televisi dan internet

"Sementara itu, pemerintah telah menerima fakta bahwa ada keterkaitan antara iklan dan konsumsi alkohol, khususnya untuk anak-anak di bawah 18 tahun. Jika kita serius tentang melindungi anak muda dan mendorong mereka untuk membuat pilihan yang lebih sehat, kita harus bersikap keras pada iklan alkohol dan itu berarti melarang kemunculannya pada semua acara olahraga, termasuk sepakbola."

Pembelaan dari pemerintah Inggris

Namun, pemerintah Inggris menegaskan bahwa mereka senang dengan kode sponsor alkohol yang disusun oleh Grup Portman, yaitu kendali pada iklan alkohol untuk memastikan bahwa mereka tidak menargetkan konsumsi alkohol pada anak-anak dan remaja


"The Portman Code telah mempromosikan perjanjian sponsor alkohol yang bertanggung jawab di Inggris, dan kita telah melihat contoh-contoh seperti kesebelasan sepakbola Everton tidak memasukkan sponsor alkohol yang mereka miliki di replika kaos yang dijual untuk anak-anak," kata seorang juru bicara pemerintah.

Bekerja dengan industri alkohol, pemerintah memang telah membantu mempromosikan "responsible drinking", misalnya dengan melarang penjualan yang murah. Biasanya produk alkohol memiliki harga yang ditambah PPN.

Grup Portman mengatakan larangan itu tidak perlu dan salah dipahami. "Melarang alkohol tidak mencerminkan realitas di Inggris, yaitu statistik resmi pemerintah menunjukkan bahwa tingkat pesta minuman keras di antara orang berusia 16 sampai 24 tahun mengalami penurunan signifikan, dan jumlah anak yang mencoba alkohol bahkan tercatat pada angka yang rendah," kata seorang juru bicara.

"Sponsor alkohol di Inggris membuat kontribusi yang signifikan terhadap hidup dan juga perekonomian negara, dan menyediakan dukungan penting untuk investasi program anak-anak dan remaja secara nasional," tambahnya.

Tabel kesebelasan Liga Primer yang memakai sponsor utama dari perusahaan alkohol dari 1993 sampai 2015 - sumber: Guardian Graphic Tabel kesebelasan Liga Primer yang memakai sponsor utama dari perusahaan alkohol dari 1993 sampai 2015 - sumber: Guardian Graphic


Memang pada kenyataannya, perusahaan alkohol yang setidaknya digunakan untuk menjadi sponsor utama sudah banyak berkurang.

Seperti yang terlihat pada tabel di atas, sebelumnya kita mengenal Carlsberg (Liverpool), Holsten (Tottenham), Shipstones (Nottingham Forest), dan McEwan`s (Blackburn), sementara sekarang hanya Chang (Everton) yang mnerupakan satu-satunya merek alkohol pada seragam kesebelasan Liga Primer Inggris di tahun ini.

Meskipun demikian, surat protes tim dokter kepada pemerintah memang harus disikapi secara serius.

Bahan refleksi untuk olahraga Indonesia

Jika kita merefleksikan dengan apa yang terjadi di tanah air, bir dan minuman beralkohol memang masih dianggap tabu (dan mungkin akan tetap dianggap tabu). Tapi justru di Indonesia, kita bisa menemukan kasus yang lebih ironis dengan kehadiran rokok sebagai sponsor acara-acara, terutama acara olahraga.

Ironis, karena olahraga dapat mengolah tubuh, tapi rokok malah merusak. Hubungan antara rokok dan olahraga (terutama sepakbola) di Indonesia bisa Anda simak pada artikel berikut ini.

Di luar negeri sendiri, khususnya di Eropa, penggunaan rokok sebagai alat pemasaran olahraga sudah tidak ada sama sekali. Mereka sudah sadar bahaya utama dari rokok, bukan saja untuk atlet, tetapi juga untuk penonton dan seluruh pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung di olahraga.

Dari cerita-cerita di atas, jika kita mengesampingkan tetek-bengek sponsor dan keuntungan dana untuk negara, memang pada intinya suara protes dilakukan karena sudah sewajarnya olahraga kembali ke fitrah, yaitu sebagai sarana untuk menginspirasi gaya hidup sehat dan positif.



Klik tautan berikut untuk membaca juga tulisan lainnya dari Pandit Football Indonesia mengenai alkohol dan rokok.

Sumber: The Guardian

Komentar