Riset Soal Dampak Banyaknya Laga pada Performa & Risiko Cedera

Sains

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Riset Soal Dampak Banyaknya Laga pada Performa & Risiko Cedera

Kompetisi sepakbola adalah olahraga yang menuntut fisik dan mental atlet-atletnya. Bayangkan, jika satu klub di Eropa harus bermain pada tengah pekan di Liga Champion, dan harus bermain lagi di akhir pekan di kompetisi domestik.

Selain berefek pada performa (kemungkinan menderita kekalahan yang akan semakin besar), bahkan jika pun kedua pertandingan dilaksanakan di kota yang sama, misalnya keduanya sebagai tuan rumah, risiko kelelahan dan cedera tetap saja meningkat.

Hal ini semakin muncul ke permukaan ketika malam nanti (23:00 WIB) Real Madrid harus menjamu FC Barcelona di Santiago Bernabeu di Kota Madrid.

Real Madrid, yang baru selesai melaksanakan pertandingan Liga Champion-nya pada Kamis dini hari (01:45 WIB), memiliki masalah kebugaran yang serius. Sialnya, mereka harus terbang dari Liverpool, yang membuat waktu istirahat mereka semakin sempit. Jika dihitung kotor saja, mereka hanya bisa beristirahat selama 69 jam (tiga hari dikurangi tiga jam) dari satu pertandingan ke pertandingan lainnya.

Bandingkan dengan Barcelona yang memiliki masa istirahat yang lebih banyak 24 jam. Ditambah lagi jarak tempuh pemain dan ofisial mereka yang hanya melakukan perjalanan antar kota, yaitu dari Barcelona (ketika mereka menjadi tuan rumah melawan Ajax Amsterdam di Liga Champion pada Rabu dini hari) ke Madrid.

Namun, dalam sepakbola modern, apakah hal-hal di atas tetap menjadi masalah serius? Apakah sebaiknya jadwal pertandingan diundur menjadi Hari Minggu? Di bawah ini akan kami bahas hal-hal mengenai banyaknya pertandingan, waktu pemulihan, dan risiko cedera yang ditelaah melalui sains olahraga.

Riset Sains Olahraga Mengenai Banyaknya Jumlah Pertandingan

Peraturan sepakbola dari musim ke musim, apalagi dibandingkan dari dekade ke dekade, telah menunjukkan banyak perubahan. Umumnya memang peraturan tersebut akan meminimalisasi kontak fisik yang terjadi di atas lapangan, namun hal ini tidak secara otomatis menurunkan risiko cedera.

Beberapa cedera pada sepakbola modern memang tidak melulu karena kontak fisik. Sekarang ini risiko cedera semakin tinggi karena faktor-faktor non kontak fisik misalnya kelelahan. Kelalahan fisik dan mental sangat berpengaruh dari kompetisi dan juga jumlah latihan.

Secara umum, kelalahan dapat terjadi ketika jarak pertandingan satu ke pertandingan lainnya sangatlah singkat untuk standar waktu pemulihan (recovery).

Riset dari Gregory Dupont dkk dari Lille University dan Celtic Lab pada tahun 2010 menunjukkan bahwa memainkan dua pertandingan dengan jarak 3-4 hari untuk pemulihan akan meningkatkan kemungkinan penurunan performa dan risiko cedera.

Riset tersebut memonitor performa fisik dan cedera selama dua musim untuk 32 pemain sepakbola profesional. Riset tersebut menunjukkan bahwa jumlah pertandingan dalam satu pekan (1 atau 2 pertandingan per pekan) ternyata tidak berpengaruh begitu besar terhadap jumlah total jarak tempuh dan jumlah sprint, namun justru berpengaruh enam kali lipat untuk meningkatkan risiko cedera.

Penelitian ini juga merekomendasikan bahwa waktu yang ideal untuk menjaga performa fisik antar dua pertandingan adalah 72-96 jam, meskipun waktu yang panjang ini juga ternyata tidak menurunkan risiko cedera dalam angka yang besar.

Mereka berspekulasi bahwa kelelahan fisik dan mental mungkin telah memainkan peran penting dalam tingkat cedera pada banyaknya pertandingan. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa periode pemulihan singkat tidaklah cukup untuk mengembalikan kekuatan otot, kecepatan lari, dan kelincahan.

Ada kemungkinan bahwa pemain yang sedang melakukan pemulihan minimal menderita beberapa bentuk kelelahan meskipun hal-hal yang telah disampaikan di atas (seperti total jarak tempuh dan jumlah sprint) tidak begitu terpengaruh. Kekuatan otot merupakan faktor kunci dalam menstabilkan pergelangan kaki dan lutut. Jika hal ini belum sepenuhnya pulih pada pertandingan kedua, kedua sendi bisa berisiko cedera.

Berdasarkan hasil riset tersebut, para peneliti juga menekankan perlunya pemulihan pasca-pertandingan yang memadai. Pemulihan fisik dan mental sangat penting untuk persiapan pertandingan berikutnya, sementara pemulihan gizi juga sangat penting.

Tanpa pemulihan yang tepat, pertandingan kedua dapat menyebabkan kelelahan fisik, kelelahan mental, kurang konsentrasi dan mengurangi motivasi. Hal-hal di atas adalah faktor yang mempengaruhi risiko cedera.

Dalam riset lainnya, Ekstrand dkk (2004) mengelompokkan pemain tim nasional sesuai dengan jumlah pertandingan yang dimainkan selama 10 pekan sebelum Piala Dunia 2002. Kinerja para pemain selama Piala Dunia dievaluasi oleh 3 pakar internasional.

Hasil analisis menunjukkan bahwa pemain yang underperformed bermain lebih banyak pertandingan selama 10 pekan sebelum Piala Dunia daripada mereka yang memiliki performa lebih baik.

Hal ini tentu saja sedikit bertentangan dengan pemahaman umum pelatih selama ini bahwa jika ingin bermain lebih baik, maka jumlah pertandingan pun harus ditingkatkan, terutama jika jarak tempuh antar pertandingan juga terlampau terlalu jauh, seperti kasus tim nasional Indonesia U-19 misalnya.

Dua riset ini juga menggarisbawahi kebutuhan untuk penelitian lebih lanjut dan untuk sport scientist agar berpikir lebih kritis lagi dalam menyelaraskan sains dengan sepakbola.

Bagaimana Klub Menyiasati Banyaknya Jumlah Pertandingan dalam Satu Pekan?


Pada permainan tingkat tinggi, waktu 72-96 jam pemulihan antara dua pertandingan mungkin sudah cukup sebagai batas minimal untuk mempertahankan performa fisik pemain-pemainnya. Namun, ini mungkin akan tetap berpengaruh secara negatif terhadap risiko cedera.

Sebelumnya, perlu dicatat bahwa hasil kedua riset di atas adalah dengan menggunakan subjek pemain elit dan hasilnya mungkin telah dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti teknik pemulihan dan lain-lain.

Para peneliti juga menekankan kebutuhan untuk rotasi pemain selama kompetisi dengan masa pemulihan yang singkat. Dengan membatasi waktu bermain individu, kelelahan dapat diminimalkan, stres mental berkurang, dan risiko cedera diturunkan.

Apalagi untuk kompetisi jangka pendek seperti Piala Dunia yang biasanya diadakan selama satu sampai dua bulan penuh pada akhir musim, hal-hal di atas akan semakin diperhatikan.

Kemampuan untuk pemulihan sangat penting terutama pada dunia profesional ketika permainan sudah dimainkan pada tingkat elit. Kemampuan ini tampaknya positif dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain kebugaran aerobik yang tinggi, teknik pemulihan yang efektif yang meliputi diet yang tepat, jam tidur, serta regenerasi fisik dan mental.

Sebuah strategi pemulihan yang tepat memang harus dilaksanakan. Sebuah pendinginan yang cocok dan nutrisi pasca-pertandingan yang sesuai adalah dua hal yang penting dalam mempersiapkan pertandingan berikutnya.

Gunakan diet yang tinggi karbohidrat untuk mengisi glikogen otot setelah pertandingan pertama. Hal ini dapat meningkatkan performa fisik dan mental selama pertandingan kedua dan mengurangi risiko cedera.

Sayangnya, pemulihan pasca-pertandingan sering diabaikan oleh banyak pemain dan pelatih. Beberapa jam pertama setelah pertandingan adalah waktu yang sangat penting. Mempersiapkan untuk pertandingan kedua dimulai sesegera mungkin setelah pertandingan pertama berakhir. Mengabaikan pemulihan dapat mengakibatkan kinerja yang buruk dan mungkin (menurut kedua penelitian ini) meningkatkan risiko cedera.

Tampak bahwa tingkat pemulihan dipengaruhi oleh banyak parameter dan banyak merujuk pada masalah individual setiap pemain. Oleh karena itu, tugas pertama adalah untuk mengembangkan pola pemulihan secara individual setelah pertandingan.

Liga Europa Sebagai Korban Utama


Di atas kertas dan atas nama sains, mungkin Real Madrid mengalami kerugian besar dari jadwal pertandingan bertajuk El Clasico ini. Namun, mereka bukan hanya satu-satunya tim yang memiliki masalah kebugaran akibat jarak antar dua pertandingan yang terlalu dekat.

Tim-tim yang berlaga di Liga Europa juga memiliki masalah serius karena mereka harus bermain pada Jumat dini hari (WIB) dan harus bermain kembali pada akhir pekan, bisa pada Hari Sabtu maupun Minggu, atau jika beruntung mereka bisa memainkan pertandingan berikutnya pada Hari Selasa dini hari (WIB).

Sekarang ini, banyak hal sudah berpengaruh pada jadwal pertandingan yang melibatkan jarak waktu dan juga jarak tempuh. Performa dan risiko cedera bukan lagi sorotan utama, melainkan bisnis melalui pemasukan hak siar.

Tak ayal, Liga Europa yang dianaktirikan tersebut menjadi korban. Karena meskipun tetap menuntut, Liga Champion dan Liga Europa secara manusiawi seharusnya dijadwalkan pada urutan hari yang sama.

Ini lah kenapa beberapa klub di Liga Champion mati-matian untuk lolos ke 16 besar, atau lebih memilih peringkat juru kunci saja daripada harus menduduki peringkat tiga dan berlaga di Liga Europa yang sangat menuntut fisik dan mental.

Apapun yang terjadi di El Clasico nanti, terutama bagi Real Madrid, di atas kertas mungkin merupakan refleksi yang lebih ringan daripada efek Liga Europa di atas. Jadi sebaiknya para pendukung El Real jangan terlalu berkecil hati mengenai jadwal pertandingan ini. Sebaliknya, ini adalah dampak utama sepakbola atas nama bisnis dan hiburan. Selamat menikmati.

Sumber jurnal:

Dupont G, Nedelec M, McCall A, McCormack D, Berthoin S, Wisloff U (2010) Effect of 2 soccer matches in a week on physical performance and injury rate. American Journal of Sports Medicine 38:1752-1758, 2010.

Ekstrand et al (2004). A congested football calendar and the wellbeing of players: correlation between match exposure of European footballers before the World Cup 2002 and their injuries and performances during that World Cup. British Journal of Sports Medicine 38: 493-497, 2004.

Komentar