Mengelola Rasa Sakit saat Cedera

Sains

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Mengelola Rasa Sakit saat Cedera

Dalam dunia olahraga, tidak jarang kita menemukan atlet yang menderita trauma akibat cedera yang pernah dideritanya. Penampilannya tak kunjung mencapai puncak. Trauma memengaruhi mental sang atlet sehingga sulit untuk mengembalikan kondisinya seperti saat dulu kala.

Fisioterapis olahraga dari organisasi Cook Children, Bruce Morgan, menyebut pentingnya pain management sebagai pengendur rasa traumatis bagi seorang atlet. Ia menyebut ungkapan “no pain, no gain” masih berlaku hingga saat ini. Jika ingin mendapatkan hasil yang maksimal, maka diperlukan pula usaha yang keras.

Sejumlah atlet pada usia muda, pernah merasakan rasa sakit yang luar biasa dalam olahraga yang dilakoninya. Beberapa dari mereka mengalami cedera yang bisa mengakibatkan trauma seperti cedera pergelangan kaki dan robeknya otot ligamen. Cedera tersebut terasa begitu menyakitkan bahkan bisa mengancam karier si atlet itu sendiri.

Pada dasarnya, olahraga apapun itu membutuhkan fleksibilitas, kekuatan, stabilitas, daya tahan, serta waktu istirahat di sela aktivitas agar bisa dilakukan dengan aman. Kini, sejumlah atlet memiliki spesialisasinya tersendiri dalam satu cabang olahraga. Pun di sepakbola misalnya seseorang yang berposisi sebagai striker dan bek akan memiliki porsi latihan yang berbeda.

Selain spesialisasi kini mulai terlihat adanya tren pemain muda yang telah dibekap cedera berkepanjangan. Karier sang atlet biasanya sudah terganggu sebelum ia memasuki masa pensiun di usia 35-40 tahun. Cristiano Ronaldo misalnya. Berdasarkan catatan transfermarkt.co.uk, Ronaldo mulai mengalami cedera pada musim 2008/2009 saat masih membela Manchester United. Saat itu, ia mesti absen di 11 laga atau 93 hari. Selama setahun ini, ia telah mengalami dua kali cedera yang hampir membuatnya tak bisa tampil di Piala Dunia.

Morgan berpendapat cedera ini kemungkinan didapat karena sejumlah atlet memulai kariernya sejak usia yang masih teramat muda. Cedera tersebut mengakibatkan adanya tekanan pada mental dan bagian yang terkena cedera tersebut. Akibatnya, terjadi peningkatan nyeri kronis yang lebih dari tiga bulan di antara atlet yang berusia muda. Dalam generasi seperti sekarang ini, ungkapan “no pain, no gain” menjadi relevan.

Cara terbaik untuk menghindari cedera sejak dini tentu dengan mencegahnya. Namun, tentu saja yang namanya rasa sakit atau nyeri yang diderita tak akan bisa dihilangkan, melainkan mesti dihadapi. Tubuh kita tahu benar ketika ada sesuatu yang salah, salah satu caranya adalah dengan menstimuli rasa sakit.

Terdapat empat cara standar yang bisa digunakan untuk menghadapi rasa sakit: rest, ice, compression dan elevation (RICE). Namun, banyak atlet yang melupakan cara yang pertama: beristirahat. Ini yang menjadi kendala jika sang atlet adalah tumpuan bagi klub atau negaranya. Ia akan dipaksa klub atau tim pelatih, atau sengaja menyembunyikan cederanya sebagai senjata agar ia bisa main.

Padahal, jika cedera tidak ditangani dengan baik, maka cedera tersebut malah dapat berdampak lebih buruk di kemudian hari. Morgan pun mengingatkan dasar-dasar agar cedera dapat diminimalisasi.

Fleksibel

Fleksibilitas otot amatlah vital. Otot yang tegat akan lebih rentan cedera terhadap otot yang telah “dipanaskan” terlebih dahulu. Otot-otot tegang dapat rusak saat melakukan gerakan yang cepat. Ketegangan tersebut dapat mengubah pergerakan sendi, dan membuat struktur lain rentan cedera seperti ligamen, sendi, dan tulang.

Kekuatan Otot

Ada perbedaan antara otot yang tegat dan otot yang kuat. Otot yang kuat memungkinkan tubuh kita melakukan tugas-tugas yang kita lakukan pun menjaga tubuh kita dari cedera.

Keseimbangan

Keseimbangan adalah bagian yang penting bagi seorang atlet. Tanpa keseimbangan tubuh yang baik, jangan harap seorang pesepakbola dapat menghindari cedera pada engkel ataupun cedera lutut.

Kembali Berolahraga

Jika rasa sakit telah dapat dikendalikan, maka sang atlet sudah dapat kembali beraktivitas dalam olahraga yang ditekuninya. Inilah di mana seorang fisioterapis atau pelatih fisik berperan penting, karena mereka yang mengontrol kondisi sang atlet.

Jika rasa sakit dari cedera sebelumnya masih belum teratasi, maka nyeri kronis pun mungkin saja berkembang. Fisioterapis seperti Dr. Artee Gandhi, dan Dr. Aimee McAnally menganjurkan empat perawatan yang bisa dilakukan:


  1. Penggunaan obat-obatan untuk mengurangi rasa sakit atau peradangan.

  2. Terapi biofeedback bersama dengan fisioterapis, untuk membantu atlet bagaimana caranya menenangkan otot, mengurangi stress, dan memvisualisasikan cara mengurangi rasa sakit.

  3. Terapi pijat pediatric untuk mengatasi ketegangan atau menurunkan tegangan.

  4. Terapi akupuntrul untuk mengendalikan rasa sakit.


Inti dari apa yang dikemukakan Morgan di atas sebenarnya adalah penggunaan metode standar dalam menghadapi cedera. Ada kalanya kita lupa satu hal yang menjadi bagian paling penting: istirahat. Karena sekeras apapun kita mengendalikan cedera dan rasa sakit, jika otot atau bagian tersebut tak diistirahatkan, hasilnya pun tak akan maksimal.

Sumber gambar: footballbible.com

Komentar