Sepakbola untuk Bumi

Sains

by Abimanyu Bimantoro

Abimanyu Bimantoro

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Sepakbola untuk Bumi

Dalam beberapa bulan ini, mungkin kita lebih banyak disuguhi oleh berita negatif soal sepakbola. Saat Piala Dunia 2014 Brasil lalu, isu ekonomi mengalir deras. Banyak yang bertanya soal mengapa pemerintah Brasil mampu membangun stadion super megah namun kesulitan membangun fasilitas umum seperti rumah sakit.

Piala Dunia Qatar yang baru akan digelar 8 tahun lagi pun tidak lepas dari cerita miring. Cerita soal para pekerja yang tidak diperlakukan secara layak membuat banyak korban berjatuhan.

Belum lagi soal kerusuhan-kerusuhan yang banyak terjadi di dunia sepakbola. Mendengar kabar-kabar ini, sepertinya aneh jika masih ada yang mengatakan, "football, it�s a way of life."

Namun, baru-baru ini, akhirnya terdengar kabar gembira yang hadir dari dunia sepakbola. Sepakbola tidak lagi dikabarkan sebagai sesuatu yang merusak kehidupan manusia. Kali ini sepakbola justru menjadi solusi dari salah satu permasalahan terbesar dalam kehidupan umat manusia saat ini, energi.

Salah perusahaan minyak internasional, Shell, membuat satu projek di Brasil dengan membangun lapangan sepakbola yang mampu menghasilkan energi. Lapangan yang diresmikan oleh legenda sepakbola Brasil ini, mampu menghasilkan energi listrik dari lantai kinetik yang ditanam pada lapisan lapangan.

Lapangan ini dibangun di daerah pemukiman padat Morro da Mineira, Sao Carlos, yang terdapat lebih dari 15.000 rumah. Sebelumnya, tidak ada lapangan bola di daerah ini. Anak-anak hanya bisa memainkan permainan paling populer di Brasil tersebut di jalan-jalan. Dengan dibangunnya lapangan ini, anak-anak di daerah ini bisa bermain di lapangan yang sangat layak.

Ditambah lagi, pergerakan yang dilakukan para pemain akan dikonversi menjadi energi listrik yang mampu menyalakan 6 buah lampu LED yang terpasang di stadion. Lampu ini akan berguna agar lapangan ini bisa tetap digunakan pada malam hari, tanpa harus membutuhkan biaya yang besar untuk energi listrik.

Lapangan ini menjadi salah satu langkah inovatif dalam pengembangan energi ramah lingkungan. Dan sepakbola telah menjadi bagian dalam usaha melestarikan lingkungan ini.

Namun ternyata, lapangan ini bukan satu-satunya inovatif dari dunia sepakbola. Sekitar empat tahun yang lalu, mahasiswa Harvard membuat suatu bola yang mampu menjadi sumber energi. Bola ini mampu menghidupkan lampu LED dalam beberapa jam setelah digunakan untuk bermain bola selama 30 menit.

Bola ini mengubah energi gerak menjadi energi listrik. Sebuah kumparan magnet yang dimasukan ke dalam bola akan berputar sehingga menciptakan fluks magnetik yang kemudian menghasilkan gaya gerak listrik induksi. Gaya gerak listrik induksi ini kemudian menghasilkan arus listrik yang disimpan ke dalam baterei.

Jika kita perhatikan lebih jauh, cara kerja produk ini sebenarnya sangat sederhana. Teori mengubah energi gerak menjadi listrik menggunakan kumparan magnet ini bahkan sudah dipelajari oleh anak-anak SMP di Indonesia. Karena itu pulalah, biaya yang dibutuhkan untuk membuat bola ini tidak mahal. Dikatakan bahwa harga produksi bola ini hanya sedikit lebih mahal dari biaya produksi bola biasa.

Terdapat lebih dari 1,3 milyar orang di dunia tidak mendapatkan akses listrik yang memadai. Sebagian diantara mereka kemudian menggunakan kerosin, diesel, atau kayu bakar untuk mendapatkan cahaya di malah hari. Cara ini selain tidak baik untuk lingkungan, juga berbahaya bagi kesehatan orang-orang tersebut.

Menyalakan lampu kerosin dalam satu malam sama buruknya dengan orang yang mengkonsumsi rokok dua bungkus setiap harinya. Penggunaan kerosin saat ini menghasilkan 190 juta ton karbondioksida yang setara dengan karbondioksida yang dihasilkan 38 juta mobil.

Jessica Mathews, salah satu mahasiswa yang menciptakan produk ini berharap dapat membantu orang-orang yang tidak mendapatkan akses listrik melalui produk ini. Produk yang diciptakannya juga menjadi solusi untuk permasalahan kerusakan lingkungan yang terjadi akibat penggunaan energi.

Ketika ditanya kenapa dia menggunakan sepakbola dalam menciptakan produk inovasi, mahasiswa keturunan Nigeria ini menjawab, "tentu kita semua tahu bahwa sepakbola adalah olahraga terpopuler di dunia. Bahkan untuk sebagian besar orang, sepakbola adalah dunia paling nyaman baginya. Maka kami berfikir untuk membuat semua orang tetap bisa menendang bola dan menghasilkan sesuatu darinya."

Ya, apa yang dikatakan oleh Jessica Mathews memang tepat. Sepakbola yang merupakan olahraga paling digemari ini seharusnya dapat menghasilkan sesuatu bagi manusia. Bukannya justru menghancurkan kehidupan manusia, membuat manusia menjadi hidup konsumtif, atau membuat pertikaian antar manusia.

FIFA memiliki motto yang berbunyi, "for the game, for the world." Sudah seharusnya FIFA tidak hanya menggunakan permainan terindah ini untuk mengeruk keuntungan ekonomi saja. Tapi juga untuk satu kalimat kedua pada motto mereka, for the world.



Komentar