Merajut Harapan di Jendela Transfer

PanditSharing

by Pandit Sharing Pilihan

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Merajut Harapan di Jendela Transfer

Oleh: Gandung Bimananta

November 1992, Alex Ferguson memandang dengan nanar jendela kantornya di The Cliff. Hujan gerimis yang membasahi tempat latihan Manchester United itu sepertinya sedikit menambah beban pikirannya.

Sudah enam tahun ia menjadi orang nomor satu di ruang ganti Man United. Sudah pula ribuan instruksi dia teriakkan dari pinggir lapangan Old Trafford. Namun, tetap saja dia belum bisa mengembalikan kejayaan kesebelasan tersebut seperti yang diminta Martin Edwards, chairman Man United, ketika dia direkrut dari Aberdeen.

Tahun itu adalah tahun bersejarah bagi Liga Inggris dengan dimulainya era Premier League. Namun, tidak begitu rasanya bagi Fergie, panggilan akrab Alex Ferguson.

Dion Dublin, penyerang yang baru saja direkrut dan diharapkan menjadi mesin gol United harus absen lama karena patah kaki. Usahanya untuk menarik Alan Shearer ke Old Trafford juga tidak membuahkan hasil. Shearer lebih memilih pindah ke Blackburn Rovers. Sesuatu yang mungkin dia sesali beberapa puluh tahun kemudian.

Liga sudah memasuki bulan keempat namun sepertinya musim sudah selesai bagi United. Saat itu mereka berada di peringkat ke-8 dan sudah terlempar dari dua kompetisi yang diikuti. Mereka seperti orang dengan Post Traumatic Stress Disorder (PSTD) hingga lupa cara mencetak gol.

PSTD adalah salah satu gangguan kecemasan yang terjadi setelah seseorang mengalami sebuah peristiwa traumatik. Peristiwa traumatisnya sendiri adalah kekalahan dalam perburuan juara pada musim sebelumnya oleh Leeds United.

Hampir saja Fergie menyudahi puasa gelar United, tapi Leeds terus melaju hingga di akhir musim mereka hanya berjarak 4 poin jauhnya. Nyaris. Leeds juara liga. Penantian selama 6 tahun kandas. Dan ketika musim selanjutnya dimulai, mereka hanya menang dua kali dari 13 pertandingan yang dijalani.

Pandangan Ferguson masih menyapu jendela kantornya. Gerimis sudah berhenti namun masih menyisakan butiran-butiran air yang menempel di jendela. Di seberang gedung terlihat beberapa pemain sudah mulai melakukan pemanasan untuk latihan hari itu. Demi melihat pemain-pemainnya berlatih, sorot mata Ferguson mulai berubah semakin tajam. Seakan-akan ada sebuah keyakinan yang pelan-pelan makin menguat dalam dirinya.

Tidak, dia tidak akan menyerah sedemikian cepat. Sudah menjadi karakter orang Skotlandia untuk terus berjuang sampai penghabisan. Fergie sangat paham apa artinya menjadi orang Skotlandia yang tumbuh di galangan kapal. Dia sudah punya rencana.

Ada satu pemain yang dia incar untuk menambah kekuatan United. Pemain ini direkomendasikan sendiri oleh Gerard Houllier, sahabatnya asal Prancis. “Skill dan visi bermainnya luar biasa, tapi catatan indisiplinernya bisa melebihi lengan kita”, saran Houllier.

Namun Fergie tahu, pemain ini akan membawa harapan yang besar bagi United. Risiko yang ditempuh dengan sifat bengal si pemain sangat sepadan.

Alam semesta memang selalu membantu dalam mendapatkan apapun yang kita inginkan dengan sangat. Tepat ketika Fergie sedang membicarakan target transfer dengan Martin Edwards, telepon di meja chairman United tersebut berdering.

Bill Fotherby, Managing Director Leeds menanyakan kemungkinan mereka bisa merekrut Denis Irwin. Segera saja Fergie menyela Edwards: “Tanyakan tentang Eric Cantona”.

Entah kenapa hanya dalam satu jam, transfer Cantona dari Leeds ke Man United disepakati. Leeds meminta 1,6 juta paun untuk transfer Cantona. Namun Edwards bisa membuat Fotherby menyetujui di angka 1,2 juta paun. Bukan angka yang besar walaupun untuk ukuran saat itu. Namun, Fergie berhasil mendapatkan buruannya.

Baca juga: Eric Cantona: Antara Tendangan Kungfu, Kapal Pukat, Burung Camar dan Ikan Sardin

Eric Cantona mendarat di United. Dan setelahnya adalah sejarah, United berhasil mendominasi Premier League hingga Alex Ferguson pensiun pada 2013. Cantona pensiun pada 1997, namun dalam kurun waktu 5 tahun itu ia berhasil membantu Fergie membangun pondasi yang kuat bagi United.

Itu semua tidak akan terjadi jika Fergie tidak merekrut pemain dengan temperamen yang bisa dibilang liar tersebut. Eric “The King” Cantona saat itu telah meyalakan api harapan di Manchester United.

***

Jendela transfer merupakan periode yang tidak boleh dilewatkan dalam satu musim sepakbola. Menarik untuk melihat pemain-pemain yang datang dan pergi, pemain-pemain yang bertahan atau tersingkir, atau bahkan nilai fantastis yang rela dikeluarkan kesebelasan untuk membeli pemain baru.

Setiap tahun, ada saja berita menghebohkan mengenai transfer sepakbola. Jika musim panas lalu adalah Neymar yang membuat jagat sepakbola berguncang karena nilai transfernya untuk melunasi hutang 3 negara pun masih sisa, kali ini seorang Van Dijk-lah (Virgil, bukan Sergio) aktor utamanya.

Nilai transfer Van Dijk sangat luar biasa untuk seorang pemain belakang. Bayangkan, biaya transfer satu orang Virgil van Dijk bisa digunakan untuk membangun 1300 sekolah di Indonesia dengan masing-masing sekolah mempunyai empat ruang kelas, sebuah ruang guru, sebuah perpustakaan, beberapa toilet, sebuah ruang serba guna, dan sebuah lapangan sekolah.

Namun, yang menarik bukan soal pemecahan rekor transfer atau perpindahan pemain bintang. Lebih dalam dari itu, transfer pemain adalah soal harapan. Ya, harapan.

Sepakbola bukan hanya sekadar permainan, dia mencerminkan filsafat hidup bahkan melebihi nilai hidup dan mati itu sendiri. Bill Shanky, pelatih legendaris Liverpool, menegaskan hal itu dalam ucapannya:

"Some people think football is a matter of life and death. I assure you, i`ts much more serious than that”.

Sepakbola dengan segala tetek bengeknya –drama, persaingan, budaya, politik; untuk menyebut beberapa di antaranya– merupakan mikrokosmos dari kehidupan manusia. Dan salah satu unsur dalam menunjang kehidupan adalah harapan.

Baca juga: Kenapa Semua Orang Menyukai Transfer?

Harapan adalah bahan bakar yang luar biasa bagi setiap makhluk hidup untuk berjuang mempertahankan hidup dan menghindari kematian. Pada manusia, usaha menghindari kematian jauh lebih kompleks, karena kematian pada manusia bukan hanya pada fisiknya saja, tapi juga pada jiwa.

Setiap usaha yang rumit dalam menghidupkan jiwa tersebut sejatinya hanya satu saja bahan bakarnya, yaitu harapan. Kehilangan harapan berarti kita sudah mempersiapkan kematian.

Inilah esensi transfer itu sendiri, yaitu menghindari kematian dan memperpanjang kehidupan. Banyak kesebelasan menolak untuk terdegradasi dari liga yang mereka ikuti, karena terdegradasi bisa menyebabkan hilangnya basis fans dan penghasilan, yang pada ujungnya adalah kematian.

Pada kesebelasan-kesebelasan yang mempunyai stabilitas pada liga, mereka ingin memperpanjang status tersebut atau bahkan mencari hakikat hidup yang lebih agung dengan menjadi juara. Pada jendela transfer lah mereka menaruh harapan.

Harapan dan resolusi adalah satu paket yang tak terpisahkan. Dengan dilakukannya resolusi, maka akan memunculkan harapan. Dengan adanya harapan, maka dibentuklah resolusi. Keduanya saling terkait.

Resolusi sendiri mempunyai sejarah yang panjang dalam kehidupan manusia. Dimulai dari 4000 tahun SM ketika bangsa Babilonia kuno melakukan upacara musim panen selama 12 hari. Pada hari ke-11, mereka membuat sebuah resolusi bahwa mereka akan memperbaiki diri dengan harapan dewa-dewa juga akan meningkatkan hasil panen musim depan.

Pada zaman Romawi kuno, raja Roma Numa Pompilius mengubah kalender masehi dengan menambahkan Bulan Januari dan meletakkannya di awal tahun. Bulan Januari mengambil namanya dari tokoh mitologi Romawi, yaitu Janus, yang mempunyai dua muka, yang satu menghadap ke belakang dan yang lainnya menghadap ke depan. Janus melambangkan transisi dari masa lalu ke masa depan.

Kemudian di masa modern ini lah orang-orang biasanya membuat resolusi tahun baru di Bulan Januari, dengan harapan untuk mewujudkan transisi hidup dari masa lalu ke masa depan yang lebih baik.

Baca juga: Sepakbola Modern Sebagai Entitas Kompleks

Anggaplah kesebelasan adalah manusia dan satu musim sepakbola adalah satu tahun masehi. Maka pada akhir tahun (musim) mereka berkontemplasi mengenai bagaimana tahun tersebut berjalan bagi mereka.

Lalu, dengan kesadaran penuh, mereka membuat resolusi untuk pencapaian-pencapaian dan rencana-rencana untuk tahun (musim) depan. Selanjutnya mereka akan menginvestasikan sumber daya yang tersedia untuk mewujudkan rencana-rencana tersebut. Sumber daya tersebut bisa uang, waktu, ilmu, keahlian, apapun yang mereka punya, bahkan koneksi sekalipun.

Jika manusia tersebut merasa dia membutuhkan bimbingan untuk melaksanakan rencana-rencananya di tahun depan, maka dia akan mencari seorang mentor. Begitupun dengan sepakbola. Jika pelatih (baca: mentor) pada musim sebelumnya tidak berhasil dalam mencapai target yang direncanakan, maka kesebelasan akan mencari pelatih baru.

Leicester City melakukannya dengan merekrut pelatih baru, yaitu Claudio Ranieri pada musim panas 2015 setelah musim sebelumnya mereka hampir saja terdegradasi. Mereka mempunyai resolusi tahun baru, yaitu untuk bertahan di Premier League. Dan untuk mencapainya, mereka harus mencari pelatih baru yang bisa menumbuhkan harapan untuk bertahan di liga terkeras di dunia tersebut. Siapa sangka Ranieri malah membawa kesebelasan dengan logo rubah itu menjadi juara liga?

Mungkin saja manusia tersebut adalah seorang pengusaha dan membutuhkan beberapa karyawan baru di bagian sales, supervisor, serta audit dengan harapan agar perusahaannya mencapai target-target yang ditentukan untuk tahun depan. Inilah yang juga rutin dilakukan oleh klub sepakbola. Mereka menambah pemain baru, dengan harapan pemain tersebut bisa membawa kesebelasan menuju sukses.

Biasanya penambahan pemain dilakukan untuk memperkuat sektor yang dirasa lemah. Liverpool merekrut Loris Karius dari Mainz karena Simon Mignolet dianggap menjadi titik lemah pertahanan Liverpool di musim sebelumnya. Namun Karius gagal memenuhi harapan publik Anfield.

Memang kadang-kadang perencanaan yang sudah matang, usaha yang sudah dilakukan, investasi yang sudah ditanam, gagal memberikan hasil yang diinginkan. Itulah kehidupan. Tapi toh selalu ada tahun depan untuk memperbaiki keadaan dan menumbuhkan harapan.

Lalu bisa saja manusia ini seorang pemimpin negara yang begitu kerasnya menggenjot investasi karena ingin membangun infrastruktur di negaranya agar negara yang dipimpinnya tersebut mempunyai daya saing yang tinggi dan bisa memenangkan kompetisi dagang dengan negara lain.

Manchester City melakukannya ketika membangun Etihad Campus, yaitu sebuah kompleks yang terdiri dari akademi sepakbola, sekolah setingkat SMA, dan institut yang mempelajari sport science, untuk bisa bersaing dengan Manchester United. Usaha itu cukup berhasil karena saat ini The Citizens bisa membuktikan bahwa sebenarnya United lah yang pantas dijuluki sebagai “tetangga yang berisik”.

Baca juga: Deritamu, Bahagiaku

Semua usaha di atas dilakukan oleh manusia karena manusia mempunyai angan-angan agar tahun depan menjadi tahun yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Antara klub sepakbola dengan manusia sama-sama mempunyai resolusi agar kehidupan mereka menjadi lebih elok, lebih gagah, lebih digdaya dibanding periode yang telah dilalui.

Jikapun tidak menjadi lebih baik, minimal mereka berusaha untuk mempertahankan hidup. Klub sepakbola merajut harapannya di jendela transfer, manusia menyusunnya saat pergantian tahun.

Saat ini sudah 26 abad lewat ketika Heraclitus mengatakan bahwa tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan adalah sebuah keniscayaan.

Manusia dan juga klub sepakbola sebagai mikrokosmosnya akan selalu dituntut untuk berubah, dari awal tahun ke awal tahun lainnya, dari jendela transfer ke jendela transfer lainnya. Tuntutan perubahan tersebut digerakkan oleh harapan, sesuatu yang abstrak namun menjadi sugesti akan sebuah kejadian baik di masa datang.

Harapan lah yang memacu semangat hidup kita, mengeluarkan yang terbaik dari kita, karena kita percaya bahwa masih ada kesempatan untuk menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.

Selamat Tahun Baru 2018! Selamat berbelanja di jendela transfer!


Penulis adalah penyuka sejarah dan sepakbola terutama Liga Inggris. Lebih menyukai klub-klub papan tengah yang mempunyai semangat juang tinggi daripada klub-klub yang sudah mapan. Biasa berkicau di akun Twitter @bimananta. Tulisan ini merupakan hasil kiriman penulis lewat rubrik Pandit Sharing. Isi dan opini di dalam tulisan merupakan tanggung jawab penuh penulis.

Komentar