Romantisme Sepakbola Pesantren

PanditSharing

by Pandit Sharing

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Romantisme Sepakbola Pesantren

Oleh: Muhammad Yulian Ma’mun

Baru-baru ini foto KH Hasan Abdullah Sahal, salah satu pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Gontor viral di media sosial. Kiai berusia 70 tahun ini terekam kamera sedang bersama bintang tim nasional Jerman, Mesut Oezil. Keduanya bertemu di salah satu restoran Turki di kota London.

Keberadaan Kiai Hasan dan rombongan di ibukota Inggris adalah dalam rangka education journey penandatanganan MoU antara Universitas Darussalam Gontor dengan beberapa perguruan tinggi di Britania. Tentu saja Kiai Hasan bersantap di rumah makan ini karena menunya yang terjamin halal bagi Muslim. Sedangkan Oezil yang keturunan Turki wajar bila menikmati kuliner warisan leluhurnya, apalagi ia bermain klub London Utara, Arsenal. Tinta takdir pun mempertemukan mereka.

Semasa muda, putra dari salah satu trio Kiai pendiri Pondok Gontor, KH Ahmad Sahal ini merupakan pemain handal. Ada kalanya beliau memimpin shalat Jum’at dengan syahdu, membakar semangat a la singa podium, atau mengayomi santri bak anak kandungnya. Kesemuanya menjadi pelengkap karakter beliau yang multidimensi.

Sewaktu saya berkesempatan mondok di Gontor medio 2003-2006, kami para santri sering melihat beliau ikut latihan bersama di lapangan bersama para santri. Memang kecepatan dan fisiknya tidak segarang dulu, tapi dari sentuhannya kelihatan ia adalah sosok berkemampuan tinggi. Penempatan posisi di kotak penalti juga ciamik.

Penulis sendiri pernah berada satu lapangan dengan beliau di arena futsal saat Kiai Hasan menghadiri salah satu event yang diadakan alumni Gontor, sekitar 6 tahun silam. Itu sewaktu saya sudah lulus dari pondok dan jadi mahasiswa tingkat akhir di salah satu universitas.

“Nanti kalau pak Kyai dapat bola, kita agak longgar mainnya, jangan terlalu serius,” demikian kami berbisik-bisik.

Kyai Hasan kami berikan kehormatan untuk melakukan sepak mula. Dalam hitungan detik beliau membagi bola ke area sayap dengan satu-dua sentuhan. Rekan yang ada di sayap kiri melakukan penetrasi melewati beberapa pemain lalu memberikan umpan tarik ke bibir kotak penalti. Entah bagaimana caranya Ustadz Hasan sudah ada di sana dan menghajar bola dengan tendangan keras menyusur tanah selayak Francesco Totti!

Jika komentator Iwan Sukmawan melihatnya pasti ia menjerit histeris, “gologologologoool… mamayo, Bung!”

Semua bersorak sorai. Para penonton berhambur ke lapangan. Sayang saat itu ponsel cerdas belum marak, hingga tidak ada yang mengabadikan momen magis tersebut dan mengunggahnya ke internet. Ada yang memeluk beliau, ada yang mencium tangannya, bahkan ada juga yang menggendongnya, tentu tanpa melupakan takzim ke beliau.

Setelah gol ajib itu, alumni Universitas Madinah dan Al Azhari ini keluar minta diganti. Sadar diri faktor memang usia tidak bisa bohong, tapi satu yang abadi: the class is permanent. Sebelumnya, beredar pula di grup media sosial alumni Gontor foto beliau yang disandingkan dengan Cristiano Ronaldo saat menendang bola. Namun Kiai Hasan tampak tidak terlalu semringah.

“Saya gak suka Ronaldo. Saya termasuk (fans) Barca,” ujarnya dalam mukadimah ceramahnya pada suatu kesempatan dan disambut gelak hadirin.

Sebenarnya banyak ustadz lain di Gontor pemain sepakbola. KH Abdullah Syukri Zarkasyi, yang juga memimpin Gontor bersama Kiai Hasan tak kalah hebatnya. Sewaktu kuliah di Mesir tahun 70an ia adalah bagian dari “timnas” mahasiswa Indonesia di Asrama Madinatul Bu’uts, Universitas Al-Azhar Kairo.

Tim sepakbola Persatuan Pelajar Indonesia di Mesir. Gus Mus (jongkok Ketiga dari kiri), Prof. Quraish Shihab (berkacamata, Kedua dari kanan), KH Abdullah Syukri Zarkasyi (paling kanan). Foto: Dok Pribadi Quraish Shihab

Hal ini terungkap dalam biografi Professor Quraish Shihab, ulama tafsir Indonesia yang mendunia. Di dalam buku itu terdapat foto Kiai Syukri bersama Pak Quraish dan Gus Mus (KH Mustofa Bisri) dalam satu tim sebelum bertanding di lapangan.

Diceritakan pula bahwa ayah dari jurnalis Najwa Shihab ini adalah seorang bek handal yang sempat bergabung tim junior Zamalek, kesebelasan asal Kairo. Sebagai informasi, Zamalek bersama Al-Ahly adalah dua klub raksasa asal ibukota Mesir. Rivalitas keduanya tak kalah panas dari persaingan duo Spanyol, Barcelona dan Real Madrid. Mantan pemain klub berjuluk “Al Qal’ah Al Baydha atau Benteng Putih” ini antara lain Hazem Emam (pernah di Udinese dan 90an) dan Mido (Ajax).

Olahraga tak terpisahkan dari pendidikan

Olahraga memang mendapat porsi khusus di pesantren Gontor. Setiap sore lapangan riuh rendah oleh suara santri main bola, basket, tenis meja, bulutangkis, voli, silat, hingga senam gimnastik. Tak kalah riuh dengan mereka yang latihan berpidato bahasa asing atau menghafal pelajaran.

Setiap tahun berbagai kejuaraan diadakan baik antar asrama, kelas, klub hingga para ustadz. Saat pertandingan besar, misalnya uji tanding tim bola pondok dengan kesebelasan lokal, lapangan akan dilengkapi sound system tempat para komentator berbahasa Arab dan Inggris bercuap-cuap dengan gaya heboh seperti komentator Essam Shawaly asal Tunisia. Sesekali dengan ritme yang lebih tenang dibarengi analisa “sok tahu” layaknya duet Jon Champion dan Jim Beglin.

Televisi merupakan barang “haram” di sini. Kalau nekat mau nonton di rumah orang kampung sekitar misalnya, silakan saja asal siap dengan konsekuensi sanksi berat; digunduli, pemanggilan orang tua, skorsing hingga harus dikeluarkan dari pondok. Tapi ada beberapa momen ketika televisi “dihalalkan” untuk sementara.

Final kejuaraan sepakbola seperti Piala Dunia, Piala Eropa, dan Liga Champions adalah masa ketika televisi dihalalkan. Layar lebar pun dibentangkan di aula, pak kiai pun ikut nonton bareng di barisan paling depan. Saat pertandingan berakhir, adzan shubuh berkumandang. Kegiatan dan disiplin santri berjalan seperti sediakala.

Tujuan utamanya bukan untuk mencari prestasi, tapi bagian dari pendidikan membentuk karakter yang sportif, disiplin dan berjiwa besar (tahdzhib an-nufus). Oleh karena itu para olahragawan pondok yang kelewat lelah dan tertidur di kelas saat pelajaran akan mendapat hukuman yang sama. Dalam pekan perkenalan pada tahun ajaran baru, kiai sering mengulang-ulang motto pendidikan di pesantren:

  • Berbudi Tinggi
  • Berbadan Sehat
  • Berpengetahuan luas
  • Berpikiran Bebas

Akhlak budi pekerti tetap berada di urutan teratas. Tapi yang menarik bahwa, kesehatan raga diletakkan sebelum pengetahuan. Karena menurut prinsip pondok, Al Aqlus Salim fil Jismis Salim, dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Bila tubuh sehat dan kuat, jiwa dan pikiran akan ikut jernih. Ilmu akan mudah diserap, hidup juga bermanfaat. Sebaliknya, apabila kita sakit pikiran terganggu, aktivitas tidak maksimal dan manfaat hidup berkurang.

Tentunya tidak semua santri hobi olahraga dan menjadi anggota klub. Untuk menjaga kesehatan semua santri wajib ikut lari pagi dua kali dalam seminggu. Jarak tempuhnya beragam antara 1 hingga 3 km. Lari pagi ini juga menjadi ajang kompetisi antar asrama beradu kekompakan dan yel-yel seperti layaknya tentara ketika berlari bersama.

Cerita di atas tentu berdasarkan pengalaman penulis selama nyantri di Pesanten Gontor. Sepakbola di berbagai pesantren tentu berbeda-beda. Ada yang memiliki sistem pembinaan yang rapi, tidak jarang juga para santri bermain bola seadanya. Tanpa alas kaki dengan sarung dan peci yang masih melekat. Tapi semuanya dengan satu gairah sepakbola yang sama. Ah, tak lengkap pula jika bicara pesantren dan bola jika tidak menyebut Almarhum Gus Dur yang sering menulis kolom tentang sepakbola.

Keberhasilan Rafli Mursalim, alumni Liga Santri Nusantara menjadi bagian dari timnas U19 asuhan Indra Sjafri hanya secuil dari potensi sepakbola pesantren. Bakat-bakat yang juga dibarengi dengan karakter tangguh dengan akhlak dan disiplin inilah yang jadi kader yang hebat. Tidak hanya memajukan sepakbola, tapi memimpin bangsa Indonesia keluar dari keterpurukan.

Kiai kami pernah berpesan, “Jangan bosan jadi orang baik. Jadi ustadz, ustadz yang baik. Jadi pengusaha, pengusaha yang baik. Jadi pegawai, pegawai yang baik. Jadi polisi, polisi yang baik. Jadi Jaksa, jaksa yang baik.”

foto: @rossyfaradisi

Penulis adalah karyawan swasta sekaligus co-founder dari fabana.id. Biasa berkicau di @ymamun


Tulisan ini merupakan hasil kiriman penulis lewat rubrik Pandit Sharing. Isi dan opini di dalam tulisan merupakan tanggung jawab penuh penulis

Komentar