Menjadi Pesepakbola dan Momok Bernama "Dewasa"

PanditSharing

by Pandit Sharing Pilihan

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Menjadi Pesepakbola dan Momok Bernama "Dewasa"

Oleh: Dias Lanang Prabowo

“Aku kelak akan bisa seperti Ronaldo, bisa bermain di stadion besar seperti Old Trafford, ditonton puluhan ribu penonton, meliak-liuk dan membuat gol penting," begitu kelakar dari bocah cilik 11 tahun lalu dari kota bernama Sidoarjo. Kelakarnya sangatlah polos, jujur, dan penuh kesungguhan.

Hanya bermodalkan bola plastik, yang terkadang sudah kempes ataupun penyok, tanpa sepatu tanpa kaos kaki alias nyeker (telanjang kaki). Tak ada guratan kesedihan sama sekali, yang ada hanya kegembiraan. Tak ada wasit disana, aturan bebas sesuai konvensi yang memainkan. Bila tendangan yang masuk di gawang terlampau tinggi untuk dijangkau oleh kiper maka tak dianggap masuk. Entah dari mana aturan itu terumuskan.

Peluit panjang pun memiliki dua opsi, pertama tergantung konvensi pemainnya atau kedua bertandakan seorang ibu yang membawa sapu, mengingatkan anaknya untuk mengaji ataupun hari telah beranjak gelap. Kebanyakan opsi dua sering terjadi, kalau kita tidak dilakukan sapu ibu akan berubah menjadi Nimbus 2000. Layaknya injury time bahwa permainan harus segera usai.

Kala itu, hidup terasa mudah, tanpa beban, dan hari terasa panjang untuk dinikmati. sudah seperti jaminan hidup bahwa kita adalah mahkluk yang tercipta untuk bermain bola. Sangat menyenangkan, segar, bebas nilai. Tak sedikit yang yakin bahwa bakat yang diasah tiap sore, dengan suasana yang bersahaja itu merupakan cinta pertama setiap insan anak yang mencintai olahraga ini. Tak jarang cinta itu menjadi obsesi cita-cita.

Tak terasa, 11 tahun setelah kelakar bocah tersebut segalanya telah banyak berubah. Ronaldo makin sukses ketika pindah ke Santiago Bernabeu dengan gelimang berbagai trofi. Gaji pemain sepakbola (di Eropa) semakin tembus batas kewajaran. Harga transfer pemain sudah melonjak tajam, dengan Paul Pogba pada 2016 dan Neymar pada 2017 yang menjadi wakilnya.

Kehidupan bocah 11 tahun lalu itu pun juga berubah, namun yang mencengangkan bukan semakin dekat dengan apa yang ia dambakan. Ia justru menjauh dari apa yang ia impikan dahulu. Bahkan ia sama sekali jarang menyentuh bola sekarang. Sekarang yang ia pegang hanyalah sebuah data, angka, huruf yang sulit dibaca, dan gelar bernama mahasiswa. Sangat jauh dari bola yang ia tendang dahulu.

Tentu fenomena tersebut bukanlah anomali. Saya berspekulasi itu jamak terjadi, sama halnya kelakar ingin menjadi pesepakbola juga jamak di dengar. Namun mengapa mimpi itu tidak pernah terwujud? Mengapa impian tersebut seolah lenyap tanpa sadar, layaknya kentut tak berbunyi yang kurang ajar.

***

Renungan itu semakin nyata saat saya menonton film animasi dari Prancis yang berjudul Le Petit Prince (The Little Of Prince). Film yang diangkat dari novel berjudul sama tersebut memiliki pesan yang sarat makna. Penonton yang jeli akan paham bahwa film ini sedikit menyindir pedagogi-andragogi masa kini. Ringkasnya, momok dari segala momok menakutkan dari fase hidup kita hanya terdiri dari dua kata: menjadi dewasa.

Dariyo dalam buku psikologinya, menyebut bahwa menjadi dewasa adalah hal yang tak terhindarkan dari hidup. Selain secara biologis akan bertambah besar dan tua, manusia juga akan dituntut untuk bertanggung jawab atas kelangsungan hidupnya sendiri. Realitas yang bisa kita tangkap saat kanak-kanak sungguh berbeda ketika telah dikatakan dewasa.

Hal itu terepresentasi saat pembukaan film Le Petit Prince tersebut. Sang narator menunjukkan gambaran ringan namun satir ketika ia menceritakan masa kecilnya. Ia menganggap sebuah topi (preferensi orang dewasa), ialah ular boa yang sedang memakan gajah. Tentu orang tua-nya (orang dewasa) hanya menertawakan dan menjawab sinis bahwa hal itu salah, dan menjustifikasi yang benar dan jelas adalah topi. Alih-alih memperjelas gambarnya lagi, orang tuanya menghentikan dan menyuruhnya belajar pada hal eksakta yang lebih penting dan berguna.

Foto: Wordpress.com

Alegori itu terjadi juga di sepakbola. Layaknya premis Le Petit Prince, orang tua akan menertawakan dan geleng-geleng ketika anaknya memilih sepakbola sebagai cita-cita. Alih-alih menyekolahkan kita ke SSB, orang tua lebih memilih untuk menyuruh kita les tambahan yang berbau eksakta dan kawan-kawannya yang terhormat. Bahkan bila disandingkan dengan sesamanya (bidang ekstrakurikuler), SSB masih kalah pamor dengan les musik. Sepakbola bukanlah angka yang bisa diperhitungkan oleh orang dewasa.

Seolah terkait, skena berikutnya beralih ke seorang gadis kecil yang hidup bersama dengan ibunya. Rutinitas anak tersebut telah dijadwal dalam bentuk papan skema oleh ibunya. Makan, belajar, dan jadwal-jadwal lainnya telah tersusun secara detail. Ibu tersebut yakin dengan papan tersebut kelak akan mengantarkan anaknya menjadi anak yang sukses, karena tak ada celah bagi anaknya untuk melakukan hal tidak produktif. Semua telah dipersiapkan dengan matang.

Dari situ kita tahu, segala sesuatu yang indah harus diraih dengan pendidikan, dan pendidikan menuntun kita menuju kesuksesan. Tolok ukur kesuksesan dapat dilihat saat kita dewasa akan menjadi apa. Karenanya, perencanaan adalah kunci. Namun, sepakbola tidak bisa dianggap sebagai standar konvensi orang tua pada umumnya.

Karenanya, secara eufemis ataupun frontal, (meski anda akan tetap dapat kesempatan bermain bola yang cukup), orang tua kita lebih suka mengarahkan kita di bidang profesi yang menurut mereka rasional, gengsi, dan membanggakan. Sepakbola tak cukup menjadi syarat rasional tersebut. Maka tak heran bila di zaman sekarang tak asing melihat anak usia SD sudah memiliki jadwal yang super padat.

Seperti yang digambarkan di Le Petit Prince, pendidikan kita sedari kecil sudah layaknya pedagogi yang harus kita lewati. Orang tua kita telah merancang sedemikian indahnya rencana bagi anaknya. Menginvestasikan uang mereka demi pedagogi berkualitas, bukanlah masalah.

Habis sekolah formal, terdapat sepak mula eksakta, besoknya bahasa asing, lusanya musik. Hampir tak ada celah untuk kegiatan yang tak produktif seperti bermain bola. Adakalanya mungkin hanya mendapat jatah waktu 2% dari seminggu. 2% yang tak sebanding dengan jejalan teori yang diterima seminggu.

Awalnya dengan sepakbola kita mengenal dunia sangat indah dan menggembirakan. Namun seiring jalannya waktu dan umur, dengan beban rutinitas yang ada, lingkungan mendoktrin kita bahwa sepakbola bukanlah hal yang indah. Apalagi profesinya, semua berjalan penuh perhitungan dan monokromatis.

Tentu bukan hal asing bila di suatu komunitas kita menemui orang dewasa yang bertanya ke anak sekolah menengah misalnya “Kamu besar mau jadi apa?" Jawabannya kalau tidak dokter ya pilot, ataupun bila tidak ya pekerjaan idaman kolektif bagi orangtua ataupun mertua, PNS (Pegawai Negeri Sipil). Kita bisa melihat pragmatisme Oktavius Maniani, mantan bintang timnas di Piala AFF 2010.

Bila orang tua berpikir pragmatis pun sebenarnya tak sepenuhnya salah. Mereka hanya ingin berkontribusi yang terbaik untuk anaknya. Memang bila mau jadi pesepakbola, apa jaminannya? Masyarakat bisa menilai seberapa susahnya perjuangan menjadi pesepakbola di Indonesia. Bilamana menjadi pemain pun belum tentu mendapat garansi kesuksesan.

Sepakbola bukan jaminan profesi yang bisa bertahan lama. Usia emas pemain bola sangatlah terbatas. Karenanya sepakbola kerap hanya dipandang sebagai profesi anomali dan bukan rujukan pasti. Belajar anomali kita dapat melihat masalah Persegres di liga profesional kita.
Bila kita mengharapkan keniscayaan berkarir sepakbola di luar negeri, mari bangun tidur dulu. Kita bisa berkaca bagaimana kultur persepakbolaan, pembinaan, profesionalisme, serta kemandirian sepakbola di Indonesia masih sangat jauh dari apa yang disebut pantas.

Apalagi bila urusan mencari kambing hitam merupakan ikhtiar yang tak kunjung usai (menemui solusi). Selama masyarakat lelah menyindir hingga berbuih di media sosial, pemangku kebijakan makin sibuk menyumpal telinga, hasil akhir hanya seperti sebuah wacana semata.

Perkataan legenda Jerman, Franz Beckenbauer bisa jadi benar. “Sepak bola adalah cerminan sebuah bangsa”. Dan sepak bola kita memang mencerminkan bagaimana kehidupan di negeri ini berjalan. Selama pecinta bola dan pemangku kebijakan bola tak bisa bersinergi, ditambah lagi bila sepakbola masih menjadi profesi pesakitan bagi masyarakat banyak. Golnya hanya bisa sampai apa yang dicapai Man United era Van Gaal. Gila ball possession tapi membuat misuh plus ngantuk yang nonton.

Lalu apakah kita masih bisa bermimpi menjadi pesepakbola?

Foto: Pinterest

Sekira 11 tahun lalu, guru SD saya sudah mendiagnosa saya gagal menjadi pemain bola. “Kamu gendut kacamataan masak pantes jadi pemain bola, jadi dokter kan enak”. Pada nyatanya beliau benar, kini saya hanya sibuk berkutat dengan kertas. Badan saya tambun, kacamata saya tebal. Impian saya jadi pesepakbola pun bubar beraturan tanpa saya sadari, tapi saya juga mengecewakan beliau karena tak juga menjadi dokter.

Rekan sejawat saya, yang saya anggap lebih jago bahkan sempat mengikuti sekolah sepakbola yang menjadikan saya iri sewaktu kecil, tak ubahnya juga seperti saya. Kebahagiaan bermain bola saat dewasa kini hanya bisa diperoleh di di arena lapangan futsal yang disewa ratusan ribu dengan jam yang terbatas. Atau bila penat pakai kaki, eskapisme dengan bermain game Playstation FIFA ataupun PES di rental terdekat bisa menjadi ekstase temporer bagi pesepakbola gagal di era millennial kini.

Mengutip perkataan superlatif Zen RS di bukunya, Simulakra Sepakbola, kini sebagai pesepakbola gagal saya hanya bisa bermain sepakbola dengan tangan yang mengetikkan huruf demi huruf, kata demi kata, dan kalimat demi kalimat. Saya menggunakan tangan untuk apa yang sudah terlampau sukar untuk dilakukan dengan kaki.

Bocah 11 tahun lalu yang kini mahasiswa itu bisa saja bernasib seperti karakter utama Prince (pangeran kecil) di film Le Petit Prince. Prince yang mana dulunya adalah pangeran kecil yang penuh kebahagiaan dan setia dengan sekuntum mawar, di masa dewasanya lupa akan mawarnya dan hanya menjadi tukang sapu atap gedung setelah gagal berkompetisi di dunia kerja. Layaknya keceriaan kita dahulu, sepakbola layaknya bunga mawar yang bagi kita sangat spesial, namun kini….. ah, sudahlah.

Penulis adalah mahasiswa. Setelah gagal menjadi pesepakbola, kini belajar korporasi singkat di jepang dan menaruh minat di bidang kepenulisan (amatir). Jarang berkicau di @diasboy11 namun juga bisa disapa pada surel diasboyyy@gmail.com


Tulisan ini merupakan hasil kiriman penulis lewat rubrik Pandit Sharing. Isi dan opini di dalam tulisan merupakan tanggung jawab penuh penulis

Komentar