Keuntungan PSS Sleman Memiliki Banyak Kegagalan

PanditSharing

by Pandit Sharing 28692

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Keuntungan PSS Sleman Memiliki Banyak Kegagalan

Oleh: Ahmad Indra Pranata

Kita awali tulisan ini dengan kutipan yang menarik dari Donald Trump, Presiden Amerika Serikat yang ke-45. Presiden yang baru saja dilantik ini menegaskan bahwa terkadang melalui sebuah kegagalan, kita bisa menemukan cara baru untuk mencapai keberhasilan. Kutipan tersebut bisa digunakan secara umum, dalam kegiatan apapun. Salah satunya dalam hal sepakbola.

Jika kita mengikuti perjalanan PSS Sleman beberapa tahun belakangan, kegagalan demi kegagalan bertubi – tubi dialami tim asal Kabupaten Sleman ini. Bahkan, PSS pernah mengalami kegagalan saat mereka mengalami keberhasilan. Hal ini terjadi pada 2013 silam, saat pertandingan Final Divisi Utama LPIS.

Saat itu PSS berhasil mengalahkan Lampung FC dengan skor 2-1. PSS menjadi juara dan berhak atas tiket promosi ke kompetisi level tertinggi musim depan. Namun karena carut marutnya kondisi sepakbola nasional kala itu, PSS tidak mendapatkan jatah promosi. PSS pun terancam mendapatkan hukuman karena bermain di liga yang (dianggap) ilegal. Ini yang disebut kegagalan saat mengalami keberhasilan.

Pada 2014 PSS kembali berlaga di kompetisi Divisi Utama, yang kali ini berada di bawah naungan PSSI. Pemain-pemain matang seperti Saktiawan Sinaga, Kristian Adelmund, Guy Junior, Waluyo, dan Herman Batak didatangkan. Dengan skuat yang ada, PSS menjadi salah satu kandidat kuat juara.

Tetapi nasib berkata lain. Pada babak perdelapan final, PSS tersandung kasus sepakbola gajah. Kala itu PSS berhadapan dengan PSIS Semarang di Lapangan AAU Jogjakarta dalam pertandingan usiran tanpa penonton. Pertandingan tersebut “dimenangkan” oleh PSS dengan skor 3-2, dengan rincian tiga gol PSS dicetak oleh pemain PSIS dan dua gol PSIS dicetak oleh pemain PSS.

Peristiwa ini mungkin merupakan kegagalan paling memalukan yang Elang Jawa alami semenjak terbentuknya klub pada tahun 1976. Seluruh Indonesia, bahkan Dunia, tertuju pada pertandingan ini, peristiwa yang mencoreng sportivitas dan fair play.

Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin itu pepatah yang pas menggambarkan keadaan PSS saat itu. PSS dan PSIS langsung dicoret dari kompetisi. Komdis PSSI juga menjatuhkan hukuman bagi semua yang terlibat, dari pencetak gol, pemain, pelatih, asisten pelatih.

Hukuman yang diterima bervariasi, dari larangan bermain bola seumur hidup, larangan bermain bola selama 5 tahun, sampai hukuman percobaan 1 tahun, plus denda. Tahun 2014 adalah masa kelam untuk PSS, karena cukup banyak kegagalan yang mungkin sangat sulit untuk dilupakan. Kegagalan yang bisa terus membayangi Laskar Sembada untuk waktu yang lama.

Rasa takut dan keterpurukan di awal ternyata tidak terbukti. Dengan dukungan moril yang sangat besar dari Sleman Fans (Sebutan pendukung PSS secara umum), PSS berusaha bangkit dan kembali bersiap menyongsong kompetisi Divisi Utama 2015. Jaya Hartono dipilih untuk menjadi pelatih PSS. Pemain-pemain yang bebas dari sanksi kembali dipanggil, sedangkan pemain baru didatangkan.

Target masih sama, yaitu juara. Lagi-lagi kegagalan menghampiri PSS Sleman (dan sepakbola nasional), PSSI dibekukan dan tidak ada kompetisi pada 2015. Persiapan yang hampir 90% terpaksa dihentikan karena tidak ada kejelasan kompetisi.

Beberapa bulan kemudian, turnamen bernama Piala Kemerdekaan digulirkan untuk mengisi kekosongan kompetisi. Seluruh klub Divisi Utama diundang untuk ikut serta. Dengan persiapan yang mepet, PSS ikut ambil bagian dalam turnamen tersebut. Lagi-lagi, target yang diusung adalah juara.

Saat itu PSS tergabung dengan klub-klub dari Jawa Timur seperti Madiun Putra, Persepam, Persekap Pasuruan, dan Persatu Tuban. Sekali lagi, kegagalan seperti sedang ingin bermesraan dengan PSS Sleman. Jangankan juara, lolos fase grup saja PSS tidak mampu. PSS gagal total di Piala Kemerdekaan, skuat besutan Didik Listantara ini pun dibubarkan sampai batas waktu yang tidak diketahui.

Gagal bukan berarti harus terpuruk, PSS terus mencari cara supaya kegagalan tidak terulang. Terbentuknya PT GTS sebagai penyelenggara kompetisi selama PSSI dibekukan menjadi titik kebangkitan PSS. Super Elja mencoba bangkit setelah tiga tahun terakhir dipenuhi kegagalan. Turnamen ISC B diinisiasi oleh PT GTS berisikan tim-tim Divisi Utama yang akan dibagi dalam beberapa grup.

Manajemen langsung bergerak cepat untuk membentuk tim, diawali dengan menunjuk Seto Nurdiantoro sebagai pelatih. Dengan masa persiapan yang panjang, PSS berhasil menggaet pemain-pemain matang seperti Agung Pras, Waluyo, Deni Rumba, Dirga Lasut, Busari, Riski Novriansyah dan lain-lain.

Manajemen memasang target menjadi finalis ISC B, namun Sleman Fans menuntut untuk menjadi juara. PSS melangkah mulus di babak penyisihan, dengan hanya mengalami satu kekalahan di kandang Martapura FC. Di babak 16 besar sampai semifinal, PSS mencatatkan catatan sensasional, tanpa satupun kekalahan.

Catatan-catatan di atas membuat PSS menjadi tim yang diunggulkan di partai final. Teriakan “Juara, Juara, Juara, Juara” menggema di Stadion Gelora Bumi Kartini malam itu. Namun disaksikan langsung oleh lebih dari 10 ribu pendukungnya, PSS malah dipecundangi oleh PSCS dengan skor 3-4. Yang menyesakkan adalah gol penentu kemenangan PSCS dicetak beberapa menit sebelum pertandingan usai.

Lagi-lagi PSS gagal. PSS gagal dalam memenuhi ekspektasi tinggi para pendukungnya. Malam itu adalah malam anti klimaks bagi PSS Sleman, bermain apik sepanjang turnamen namun gagal pada laga pamungkas.

PSS Sleman di Liga 2

Mulai 2017 ini, sepakbola nasional kembali bergulir di bawah naungan PSSI. PSSI memutuskan pergantian nama kompetisi, ISL akan berubah menjadi Liga 1, dan Divisi Utama berubah menjadi Liga 2, Liga Nusantara berganti menjadi Liga 3. Pada kompetisi tahun ini, 3 tim terbaik di Liga 2 berhak promosi ke Liga 1.

PSS langsung bersiap. Jauh sebelum tim lain membentuk tim, PSS langsung mengontak para pemain yang layak dipertahankan. Dengan harapan, persiapan yang matang, maka hasil yang akan diraih juga maksimal. Tampaknya, rentetan kegagalan empat tahun ke belakang ingin segera dihentikan oleh PSS Sleman. Target juara Liga 2 dan promosi dipasang oleh manajemen.

Berita mengejutkan datang dari kursi pelatih. Seto Nurdiantoro mengundurkan diri dari posisi pelatih dan lengser menjadi asisten pelatih. “Bukannya saya menolak menjadi pelatih kepala kembali, namun saya masih harus banyak belajar dari pengalaman kemarin dan dari pelatih kepala nantinya,” pernyataan tersebut diungkapkan oleh Seto terkait alasannya mundur dari pelatih kepala.

Gerak cepat dilakukan oleh manajemen dengan menunjuk Fredy Mulli sebagai pelatih. Penunjukan Fredy Muli sempat membuat Sleman Fans kaget, karena selama ini nama seperti Eduard Tjong dan Iwan Setiawan yang diisukan santer membela PSS Sleman.

Penunjukan Fredy Mulli ini bukan tanpa alasan, seperti diungkapkan oleh manajer PSS Sleman. "Pak Fredy menyampaikan visi pada manajemen dan kami menilai ada kecocokan. Dia siap dengan target (juara dan promosi) dan punya gambaran jelas akan dibuat seperti apa tim PSS."

Berdasarkan hasil evaluasi dari tim pelatih selama ISC B, pemain-pemain senior seperti Busari, Dirga Lasut, Waluyo, dan Riski Novriansyah dipertahankan oleh pihak manajemen. Untuk pemain muda, Candra Waskito, Candra Luckmana, Rama Yoga, dan Wahyu Sukarta akan tetap berseragam PSS di Liga 2.

Adanya regulasi baru yang menuntut klub Liga 2 hanya boleh mempunyai 5 pemain di atas 25 tahun membuat beberapa pemain musim lalu menjadi korban. PSS terpaksa memutus kerjasama dengan pemain senior seperti Dicky Prayoga, Tri Handoko, Deni Rumba, Eko P, dan Agung Prasetyo.

Sementara itu dua pemain muda andalan PSS juga memilih bergabung dengan klub Liga 1, Bagas Adi Nugraha (Arema FC), dan Dave Mustaine (Persegres). Seleksi pemain dilakukan untuk menambal skuat, seleksi dilakukan secara tertutup khusus untuk pemain yang diundang. Kurang dari 2 minggu sejak dikumpulkan, PSS sepakat dengan 19 orang pemain yaitu :

Penjaga Gawang : Choirun Nasirin, Gratheo Hadi, Try Hamdani

Belakang : Waluyo, Jodi Kustiawan, Zamzani, Rama Yoga, Revi Agung, Bagus Nirwanto.

Tengah : Wahyu Sukarta, Candra Luckmana, Dirga Lasut, Busari, Ilham Irhas, Angga,

Depan : Riski Novriansyah, Kito Candra, Toni Yuliandry, dan Rudiyana.

Sebelum menghadapi Liga 2, PSS akan mengikuti dua turnamen pra musim, yaitu Piala Presiden dan Piala Dirgantara. PSS mendapatkan kesempatan ikut serta di dalam Piala Presiden karena menjadi runner-up ISC B. PSCS juga berhak mengikuti Piala Presiden dengan status juara ISC B. Selain itu, PSS juga diberikan kehormatan menjadi salah satu tuan rumah selain Bandung, Madura, Malang, dan Bali.

PSS tergabung di grup A, yang berisikan Persipura, Mitra Kukar, dan Persegres. Stadion Maguwoharjo akan digunakan sebagai venue dan menjadi laga pembuka Piala Presiden yang akan dihadiri langsung oleh Presiden Jokowi.

Fredy Mulli menekankan bahwa PSS tidak memasang target apapun di Piala Presiden. Dia ingin memanfaatkannya sebagai ajang untuk mematangkan persiapan tim. Bahkan PSS tidak akan menggunakan jasa pemain asing, walaupun hal tersebut diizinkan oleh PSSI.

Dikutip dari media official PSS Sleman, keikutsertaan PSS Sleman sebagai kontestan turnamen Piala Presiden akan dimanfaatkan oleh tim pelatih untuk mengukur sejauh mana perkembangan anak asuhnya dan sebagai rujukan evaluasi sebelum bulan Maret mendatang dimulainya Liga 2 Indonesia.

"Saya ditargetkan oleh manajemen PSS Sleman membentuk tim untuk kompetisi DU musim 2017 bukan untuk turnamen. Prioritas utama kami menatap kompetisi," ungkap Fredy Mulli.

Selanjutnya, PSS berencana akan mengikuti Dirgantara Cup yang juga digelar di Stadion Maguwoharjo 17 - 27 Februari 2017. PSS akan bertanding bersama PSIS Semarang, PSIM, Persikama, Persebaya Surabaya, Persita Tangerang, dan PSN Ngada. Delapan tim akan dibagi ke dalam dua grup, dengan tim terbaik akan melaju ke babak semifinal dan memperebutkan tiket ke final. Untuk target, pihak PSS belum mengeluarkan pernyataan resmi. Apakah masih akan dimanfaatkan untuk mematangkan tim, ataukah sudah berani memasang target juara.

Semoga tahun ini menjadi akhir dari serentetan kegagalan PSS Sleman beberapa musim ke belakang. Belajar dari kegagalan, dan berbenah menjadi lebih baik. Sehingga PSS bisa memenuhi target yang diberikan kepada manajemen dan pendukungnya; juara dan promosi. Tidak ada lagi kurang persiapan, tidak ada Gajah, tidak ada anti klimaks.

Sebagai penutup, PSS beruntung memiliki banyak kegagalan, karena : “Sometimes by losing a battle, you find a new way to win the war

foto: @PSSleman

Penulis adalah seorang dokter dan pecinta sepakbola lokal. Biasa bercuit di akun @mamas_ahmad


Tulisan ini merupakan bagian dari Pesta Bola Indonesia, meramaikan kembali sepakbola Indonesia lewat karya tulis. Isi tulisan dan segala opini dalam tulisan merupakan tanggung jawab penuh penulis

Komentar