Sepakbola dan Kotak Imajinasi

PanditSharing

by Pandit Sharing Pilihan

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Sepakbola dan Kotak Imajinasi

Oleh: Firdaus Amri

Sampai tulisan ini dibuat, saya masih belum rampung membaca buku “Simulakra Sepakbola”. Namun rasanya jari-jemari ini tak tahan ingin segera menuliskan pengalaman saya ‘menyaksikan’ piala AFF 2010. Loh kok? Ya, saya begitu tergugah untuk segera berbagi kisah perjuangan ‘menyaksikan’ turnamen antar negara ASEAN itu, sebagaimana Zen Rachmat Sugito mendongeng dalam bukunya tersebut.

Membaca bagian awal "Simulakra Sepakbola" memang membuat memori saya langsung kembali pada peristiwa kurang lebih enam tahun yang lalu. Di dalam asrama sebuah boarding school di pelosok salah satu provinsi di Pulau Sulawesi, berkumpul sekelompok siswa (yang lebih cocok disebut santri) mengerubungi sebuah kotak bersuara. Mereka adalah para pecinta sepakbola, yang tak pernah alpa menjejakkan kaki di rumput hijau yang terletak di dalam komplek sekolah tiap diberi jatah dua kali seminggu.

Pada suatu ketika, kami mengerubungi kotak tersebut ketika timnas Indonesia menghadapi Malaysia di Piala AFF 2010. Ya, kami ‘menyaksikan’ laga tersebut dengan bantuan sebuah kotak yang lebih mirip brankas. Sebuah kotak yang hanya memancarkan gelombang suara, tanpa visualisasi yang memanjakan mata; radio.

Tayangan Sepakbola dan Asrama

Menjadi seorang pemirsa sepakbola yang terkurung dalam asrama merupakan sebuah siksaan batin tersendiri. Yang biasanya dengan mudah menikmati tayangan sepakbola dalam maupun luar negeri lewat layar kaca, harus legowo karena tidak ada satu televisi pun yang terjangkau oleh mata.

Untuk melihat perkembangan tim favorit atau mengetahui hasil pertandingan di akhir pekan, tiap Senin di jam istirahat kami selalu bergegas menuju lab komputer, sambil berharap ada koneksi internet tersambung sehingga setidaknya kami bisa membuka situs hasil sepak bola dan berita sepak bola lainnya.

Namun bukan remaja namanya kalau tidak ada sisi nakal. Pernah satu-dua kali saya dan beberapa teman sembunyi-sembunyi keluar asrama, pukul tiga pagi, menuju pos keamanan di gerbang utama demi memuaskan hasrat kedua mata ini menyaksikan tayangan Liga Champions. Tidak lama memang, karena pukul empat kami sudah harus kembali ke kamar masing-masing agar tidak ketahuan.

Kembali ke soal ‘menyaksikan’ Piala AFF 2010, ketiadaan layar televisi memaksa kami mengubur harapan untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri laga pembuka antara tuan rumah Indonesia melawan musuh bebuyutan, Malaysia. Untungnya salah seorang dari kami memiliki sebuah alat yang mampu menangkap gelombang radio, yang untuk beberapa hari selanjutnya menjadi pahlawan kami yang begitu antusias mendukung Merah-Putih.

Perbedaan waktu satu jam antara tempat pertandingan dengan lokasi kami terasa begitu menguntungkan, karena kami bisa menyaksikan laga tersebut tepat setelah melaksanakan rutinitas dan keadaan dirasa mulai aman. Kemudian radio dinyalakan.
Suara gemuruh langsung menyambut. Teriakan dukungan dan chant dari para pendukung yang menyaksikan laga tersebut dari tribun Gelora Bung Karno langsung memberikan suntikan semangat untuk kami, para pemirsa gelombang radio.

Selang beberapa saat, dua orang paling penting buat kami pada pertandingan itu, yaitu sepasang komentator mulai membuka suara dengan intonasi yang tak kalah dengan riuh-gemuruh suporter. Mereka inilah yang bertanggung jawab penuh melaporkan jalannya pertandingan dan membentuk imajinasi kami tentang segala sesuatu yang terjadi di dalam lapangan.

Sepanjang pertandingan, bapak-bapak komentator yang saya tidak ingat namanya ini (yang jelas bukan Sambas, karena beliau eksis di era Orde Baru) pantang mengendurkan volume suara. Anda bisa bayangkan, selama 90 menit mereka konsisten berteriak, memberi tahu para pendengar setia Radio Republik Indonesia (RRI) setiap momen yang terjadi; persis seperti lantangnya suara Antonio Conte ketika mengomandoi anak-anak asuhnya di timnas Italia, yang teriakannya terdengar jelas lewat televisi.

Adrenalin kami dipacu hampir sepanjang laga. Bukan karena pertandingan berjalan intens dan menegangkan selama 90 menit, tapi lebih karena setiap momen dibuat seakan-akan penting. Pada satu momen, salah satu komentator mewartakan dengan intonasi tinggi dengan redaksi kurang lebih sebagai berikut:

"Bola dioper. Pemain meliuk-liuk melewati pemain lawan. Kita saksikan pemain mulai masuk kotak penalti, APA YANG TERJADI??? DAAAAAN.... tidak terjadi apa-apa saudara-saudara..."

Geregetan, bukan? Kami yang sudah bersiap akan hal besar terjadi harus menerima kenyataan yang antiklimaks: Tidak terjadi apa-apa atau istilah zaman sekarang disebut di-PHP-in. Namun biar bagaimanapun, di situlah kombinasi antara antusiasme si bapak-bapak dalam melaporkan pertandingan dengan imajinasi liar kami terasa begitu mengasyikkan. Hanya momen ketika lawan mencetak gol-lah yang membuat volume suara mereka agak menurun, dan gairah mengendur untuk beberapa saat, yang juga membuat kami para pendengar ikut larut dalam rasa kecewa.

Kotak dan Imajinasi

Keterbatasan sensasi visual membuat imajinasi kami begitu liar. Kami hanya bisa membayangkan bagaimana superiornya timnas Indonesia ketika memukul telak sang musuh abadi, Malaysia, dengan skor 5-1 di laga pembuka Piala AFF 2010. Bagaimana apiknya permainan yang disuguhkan Firman Utina dkk., sebagus apa Irfan Bachdim, debutan malam itu bermain hingga mencetak gol, serta kejadian-kejadian lainnya, hanya ada dalam pikiran liar kami.

Kami hanya bisa berdecak kagum ketika Timnas Garuda membantai Laos 6-0 dan berjingkrak girang setelah secara dramatis anak asuh Alfred Reidl membalikkan keadaan di 10 menit terakhir lewat dua gol penalti Bambang Pamungkas.

Dan semua sensasi serta perasaan itu terjadi berkat kolaborasi hebat antara sebuah kotak kayu yang bisa difungsikan sebagai radio dengan imajinasi kami. Dalam sebuah episode serial animasi, Spongebob Squarepants, Spongebob dan rekannya, Patrick Star, membeli sebuah televisi. Alih-alih menonton dengan televisi baru, mereka dengan konyol membuang televisi itu dan malah memanfaatkan kotak kardus pembungkus televisi tersebut.

Namun justru dengan kotak itulah mereka melakukan hal-hal hebat yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, "Kita tidak membutuhkan televisi, selama kita punya... imajinasi..."

Ya, selama imajinasi bisa berfungsi dengan baik, maka sebuah kotak radio saja cukup untuk menemani kami ‘menyaksikan’ pertandingan sepakbola. Justru dengan tidak adanya akses visual membuat kami bisa membayangkan tiap momen dengan hiperbolik, tanpa dibatasi realita yang terlihat oleh mata.

Penulis adalah mahasiswa psikologi semester akhir di salah satu universitas negeri di pinggiran Jakarta. Penikmat sepakbola, musik jazz, dan The Beatles. Bisa dijumpai lewat akun twitter @FirdsAmri

Komentar