Sinyal Bahaya Duet Maut "Dyguain" di Juventus

PanditSharing

by Pandit Sharing

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Sinyal Bahaya Duet Maut "Dyguain" di Juventus

Oleh: Pradhana Adimukti*

Pada Selasa 26 Juli 2016, akhirnya drama bursa transfer terheboh Serie A sejauh ini telah selesai. Setelah melalui perang urat syaraf yang cukup menegangkan, Juventus mengumumkan secara resmi menebus nilai pelepasan top skor Serie A musim 2015/2016 dengan catatan 36 gol, Gonzalo Higuain, dari Napoli.

Higuain ditebus Juve sebesar 90 juta euro. Nilai pelepasan tersebut dibayar Si Nyonya Tua dalam dua tahap pembayaran selama dua tahun. Mantan striker Real Madrid itu setuju menandatangani kontrak selama lima tahun untuk bermain di Juventus Stadium.

Napoli pun telah secara resmi mengonfirmasikan kepindahan Higuain tersebut. Pada pernyataan resminya di kantor pusat Juventus, Higuain mengungkapkan hasratnya untuk memenangi Liga Champions. Striker Argentina itu juga tak sabar berduet dengan Paulo Dybala. Demikian pula dengan Dybala.

Duet menjanjikan tersebut menciptakan singkatan “Dyguain”, gabungan nama Paulo Dybala dan Gonzalo Higuain. Istilah Dyguain pertama kali saya baca dari artikel Fabiana Della Valle di Gazettaworld yang berjudul "Dyguain primed to lead Juventus` Champions League charge".

Dia menulis, "Duo Dybala (19 gol) dan Higuain (36 gol) mengakumulasi 55 gol di Serie A berdasarkan catatan musim 2015/2016 lalu. Hanya akumulasi gol duet Real Madrid Ronaldo dan Benzema (59) serta duet Barcelona Suarez dan Messi (66) yang mampu mengalahkan produksi gol Dyguain musim lalu. Duet Dyguain mengalahkan pasangan Bayern Munich, Thomas Muller dan Robert Lewandowski (50), duet Atletico Madrid Antoine Griezmann dan Borja Baston (40). Nama terakhir menghabiskan masa pinjaman musim lalu di Eibar serta tandem Manchester City, Sergio Aguero dan Nolito (36)."

Fabiana mengingatkan ancaman pasangan Paulo Dybala dan Gonzalo Higuain berdasarkan jumlah gol. Total gol pasangan baru tersebut memang menyeramkan. Ketepatan tendangan Dyguain menjadi salah satu penjelasan produktivitas gol mereka. Paulo Dybala mencatat 55% sedangkan Higuain menorehkan 58% ketepatan tembakan.

Ancaman di Luar Jumlah Gol

Intimidasi Dyguain bagi pertahanan lawan lebih menyeramkan dari sekadar akurasi tembakan yang berujung jumlah gol. Jumlah ketepatan umpan dan kreasi peluang keduanya juga menakutkan. Akurasi umpan Higuain tercatat 78%, sedangkan Dybala 85%

Catatan mengilap akurasi umpan Dyguain tersebut terwujud pula dalam jumlah penciptaan peluang. Total kreasi peluang Higuain dari 35 kali bertanding adalah 51. Calon duet barunya, Paulo Dybala menciptakan 73 peluang dari 34 kali bermain di Serie A musim 2015/2016 lalu.

Dyguain juga menjanjikan duet striker yang gesit. Hal itu dapat dilihat dari sentuhan sukses Higuain yang mencapai 56%, sedangkan Dybala sekali lagi berhasil menorehkan catatan lebih tinggi dari Higuain, yakni 61% sentuhan sukses.

Peluang Duet

Berdasarkan uraian angka-angka di atas Paulo Dybala dan Gonzalo Higuain sangat menakutkan pertahanan lawan Juventus di musim depan, baik di Serie A maupun calon lawan Si Nyonya Tua di Eropa. Selain total jumlah gol terbanyak di Serie A (55 gol), Dyguain juga ampuh menciptakan peluang. Total mereka mampu mengkreasi 124 peluang di Serie A musim 2015/2016 lalu. Dyguain menjanjikan duet striker dinamis.

Berdasarkan jumlah akurasi umpan dan kreasi peluang, dalam keadaan tertentu, Higuain bisa difungsikan sebagai striker kreator peluang. Kala Dybala cedera, misalnya, Higuain bisa diduetkan dengan striker Juventus lain yang bertipe sebagai ujung tombak murni.

Paulo Dybala terkenal dengan kaki kirinya yang kuat, sedangkan bagi Higuain, kaki kanannya adalah yang paling kuat Dari 19 gol di Serie A musim lalu, Dybala mencetak 18 gol dengan kaki kiri. Hanya satu gol yang berasal dari kaki kanan. Sedangkan dari 36 gol pada musim lalu, Higuain mencetak 24 gol dari kaki kanan dengan delapan gol yang dicetaknya dengan kaki kiri.

Dyguain juga menjanjikan Juventus gol-gol baik dari dalam maupun luar kotak penalti. Sebanyak 32 dari 36 gol Higuain dicetak dari dalam kotak penalti, hanya empat gol yang ditembak dari luar kotak penalti. Sedangkan Dybala mencetak enam gol dari luar kotak penalti dari total 19 gol. Betul-betul kombinasi mematikan.

Dengan datangnya Gonzalo Higuain, bisa saja jumlah gol Dybala berkurang. Dybala akan difungsikan sebagai pencipta umpan matang bagi Higuain. Seluruh aliran bola akan berakhir di kaki Higuain sebelum dieksekusi. Namun jika Higuain dikunci mati lawan, dia bisa mengalah dan menciptakan peluang buat Dybala mencetak gol.

Aspek Non Teknis yang Menjanjikan

Paulo Dybala dan Gonzalo Higuain sama-sama berasal dari Argentina. Hal tersebut tentu mempermudah komunikasi. Kesamaan bahasa dapat mengurangi risiko kesalahpahaman dan kecanggungan. Dybala dan Higuain bisa beradaptasi dengan cepat.

Baik Dybala maupun Higuain sudah berpengalaman main di Serie A. Kemampuan adaptasi Higuain dan Dybala telah teruji. Higuain yang merupakan mantan striker Real Madrid mampu bermain baik setelah pindah dari La Liga ke Serie A Italia sejak musim 2013/2014.

Demikian pula dengan Dybala. Setelah bermain cemerlang di Palermo pada musim 2014/2015, striker kelahiran 1993 tersebut bisa langsung nyetel setelah pindah ke Juventus pada musim pertamanya, musim 2015/2016. Higuain tinggal beradaptasi dengan Dybala beserta tim dan sebaliknya

Pasokan Umpan Miralem Pjanic

Di Napoli musim lalu, Higuain mencetak 36 gol. Di belakang Higuain, terdapat gelandang Marek Hamsik yang mencetak 11 asis dan gelandang/penyerang sayap Lorenzo Insigne dengan 10 asis. Di Juventus, Higuain akan didampingi Miralem Pjanic (12 asis) dan Paulo Dybala (9 asis). Total asis Hamsik dan Insigne sama dengan total asis Pjanic dan Dybala sebanyak 21. Menggunakan logika melompat, Higuain akan menyegel 21 gol. Sisanya, ia tinggal berharap asis dari rekan setim lain.

Begitupun dengan Dybala. Musim lalu, dia mencetak 19 gol di Serie A. Paul Pogba memberikan 12 asis, sama dengan yang dicatatkan Pjanic di Roma. Kalaupun Pogba pindah ke Manchester United, kemungkinan catatan gol Dybala pun tak akan berkurang.

Kalkulasi imajinatif gol-gol tersebut sudah pasti mengesampingkan ketepatan logika. Belum tentu semua 21 gol Higuain berasal dari umpan Hamsik dan Insigne. Pun dengan Dybala. Ada banyak variabel yang bisa dikaitkan dalam total gol Higuain dan Dybala musim lalu.

Tetapi intinya di Juventus, Higuain akan bekerja sama dengan distributor asis handal yang sepadan dengan Marek Hamsik dan Lorenzo Insigne. Dybala pun tak perlu khawatir pasokan assist untuknya berkurang pasca kepergian Pogba ke MU. Penggantinya, Pjanic mencatat jumlah assist yang sama dengan Pogba musim 2015/2016 lalu.

Asis Pjanic yang dikonversi menjadi gol oleh Mehdi Benatia pada laga uji coba pramusim melawan Tottenham Hotspur akhir Juli kemarin, menunjukkan mantan gelandang Olympique Lyon itu sudah menyatu dalam ritme permainan tim.

Selain Benatia, Dybala turut mencetak gol pada pertandingan yang dimenangi Juventus dengan skor 2-1. Dari uji coba tersebut terlihat Pjanic layak diberi tanggung jawab menjadi gelandang sentral kreator serangan. Pjanic akan berperan besar pada produksi gol Dyguain.

Kelemahan

Melihat data-data dan peluang duet Dyguain tentu kita akan terpesona. Bisa terbit imajinasi duet ini tak punya celah dan tak terkalahkan. Tentu saja kenyataannya tidak begitu. Kelemahan duet Paulo Dybala dan Gonzalo Higuain terletak pada catatan gol lewat kepala.

Dari 19 gol di Serie A musim 2015/2016 lalu, Dybala tidak mencetak satu gol pun dari kepala. Pemain yang mengawali karier di klub Instituto De Cordoba, Argentina ini hanya sanggup memenangi duel udara sebanyak 19%, sedangkan Higuain hanya mencetak tiga gol menggunakan kepala dari total 36 golnya. Mantan pemain River Plate tersebut hanya memenangi 30% duel udara. Bukan jumlah yang cukup seimbang bagi seorang ujung tombak.

Di bangku cadangan Juventus saat ini terdapat striker yang dapat mengisi kekurangan Dyguain dalam mencetak gol melalui kepala. Dia adalah Mario Mandzukic. Striker tim nasional Kroasia itu mencetak tiga gol dari sundulan dari total 10 gol yang dicetaknya musim 2015/2016 di Serie A. Mantan striker Atletico Madrid tersebut juga mampu memenangi 61% duel udara, sebuah catatan yang jauh lebih baik dibanding Higuain dan Dybala.

Selain Mandzukic, Juve masih punya Simone Zaza. Striker timnas Italia itu mencetak satu gol sundulan dari total lima gol. Mantan penyerang Sassuolo tersebut unggul 47% dalam duel udara.

Satu lagi risiko yang dapat mereduksi potensi Dyguain adalah cedera. Berdasarkan catatan penampilan musim 2015/2016 lalu, fisik Dyabla dan Higuain memang bisa diandalkan. Dybala tampil dalam 34 pertandingan dan Higuain turun dalam 35 pertandingan dari total 38 laga Serie A. Walaupun demikian, ancaman tekel keras tetap saja mengintai. Kebugaran keduanya harus terus dijaga agar potensi Dyguain meledak maksimal.

Kesimpulan

Jika melihat catatan jumlah gol, ketepatan tembakan, akurasi umpan, dan kreasi peluang, duet Paulo Dybala dan Gonzalo Higuain memang menyeramkan. Kelemahan Dyguain ada pada duel udara dan produksi gol lewat kepala.

Setelah dua musim terakhir menjadi raja Italia dengan memenangi Serie A dan Coppa Italia sekaligus, Juventus kini mengincar Liga Champions. Dengan bermodal kiper Gianluigi Buffon, trio Barzagli, Bonucci, Chiellini (BBC) di lini belakang lalu merekrut Pjanic dan Higuain untuk lini serang, sekarang Juventus mengumpulkan pemain-pemain terbaik Serie A.

Bayern Munich sejak beberapa musim lalu mengumpulkan talenta-talenta terbaik di Bundesliga seperti Mario Goetze dan Robert Lewandowski. Walaupun demikian, Bayern hanya sanggup menguasai sepakbola Jerman. Bayern belum berhasil memenangi Liga Champions dengan skuat yang berisi Goetze, Lewandowski, beserta pemain-pemain bintang Bundesliga lain.

Dengan demikian, mengumpulkan pemain terbaik dari kompetisi domestik memang menjanjikan. Pada kasus Bayern, strategi tersebut terbukti mengokohkan dominasi mereka di sepakbola Jerman. Tetapi langkah tersebut belum menjamin sebuah tim memenangkan Liga Champions.

Apakah Juventus akan menjuarai Liga Champions dengan mengumpulkan pemain terbaik Serie A? Kita lihat saja apakah mereka hanya akan senasib dengan Bayern Munich atau bahkan mampu memenangkan gelar treble Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions.

Sumber: http://www.football-italia.net/ , http://www.gazzettaworld.com / dan www.squawka.com

*Penulis adalah penonton sepakbola yang menulis, akun twitter @Pradhana_Adi

Komentar