Pokemon yang Membuka Karier Simon Tibbling

PanditSharing

by Pandit Sharing Pilihan

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Pokemon yang Membuka Karier Simon Tibbling

Oleh: Rahman Fauzi*

Perilisan permainan “Pokemon Go” pada 6 Juli 2016 lalu jelas menjadi salah satu sensasi besar bulan ini. Ah iya, sensasi besar lainnya tentu saja Eder dan para ngengat di Saint-Denis, Perancis. Pokemon Go, permainan berbasis teknologi realitas bertambah (augmented reality) mewujudkan keinginan orang-orang bisa menangkap pokemon, seperti apa yang dilakukan sosok Ash Ketchum.

Ide pokemon datang dari benak Satoshi Tajiri, sekitar periode 1989-1990 saat Game Boy diluncurkan. Kesenangan Tajiri mengumpulkan serangga saat kecil menjadi ide dasar baginya mendesain video game untuk Game Boy yang dipublikasikan Nintendo pada 1996.

Dunia Pokemon menawarkan imajinasi manusia hidup bersama 729 spesies pokemon (pocket monster) yang bisa ditangkap dengan Poke Ball, dikumpulkan untuk melengkapi Pokedex, dilatih untuk ditingkatkan kekuatannya, dan diadu dengan pokemon lain. Orang yang melakukannya disebut Pokemon Trainer.

Selain video games, Pokemon juga melebar ke dalam bentuk lain, seperti permainan kartu, film, anime, komik, dan mainan. Sampai akhirnya kehebohan menjadi-jadi saat permainan berbasis teknologi realitas bertambah rilis. Seperti dikutip dari tirto.id, rilisnya Pokemon Go membuat saham Nintendo melonjak sampai 25 persen hanya dua hari sejak permainan diluncurkan dengan nilai sekitar tujuh miliar US dolar.

Pokemon Go langsung menduduki peringkat pertama aplikasi terlaris di Amerika Serikat hanya dalam 13 jam pertama saat diluncurkan. Pengguna harian Pokemon Go yang sampai berjumlah 21 juta orang melebihi jumlah pemakai aplikasi kencan Tinder. Untuk sementara waktu, kegiatan mencari pokemon ternyata lebih penting daripada urusan mencari jodoh.

Itupun dengan tambahan catatan permainan ini baru dirilis di Amerika Serikat, Australia, dan Selandia Baru pada dua pekan awalnya. Kini, dengan tersedianya permainan ini secara resmi di Kanada dan 26 negara Eropa, kehebohan bisa berlanjut sedemikian rupa. Bahkan sebetulnya pun, pengunduhan secara ilegal bisa dilakukan siapa saja tanpa ada hambatan zona wilayah, seperti yang sudah dilakukan Pokemon Trainer di Indonesia.

Sudah ada kisah konyol bermuatan lokal terjadi. Seorang remaja di Solo diperiksa ke kantor polisi, karena bersikap mencurigakan padahal hanya mencari monster imut di sekitar situ. Status Facebook kocak pengemudi Go-Jek yang keheranan dengan perilaku pelanggannya yang mengatur-atur dirinya saat berkendara menjadi viral menyaingi kabar putusnya Awkarin dengan Gaga Muhammad (Duh!). Belum lagi keabsurdan yang tidak tercatat seperti tabrakan, tersandung, dan terpeleset, saat banyak orang saling jejal di sebuah PokeStop (kawasan yang dianggap biasa Pokemon bersarang, seperti tempat wisata, bangunan bersejarah, tempat ibadah, dll.) pada akhir pekan.

Eh jadi, sampai paragraf keeenam ini, di mana bagian sepak bolanya? Oh iya jelas, Pokemon Go tentu menyita perhatian publik sepak bola juga. Kiper legendaris Jerman, Oliver Kahn, berkicau di Twitter kalau menangkap Squirtle tidak perlu pakai Pokeball karena dia bisa menangkapnya dengan tangan. Bek Dortmund, Marcel Schmelzer memergoki dua kawannya, Pierre-Emerick Aubameyang dan Ousmane Dembele, yang sibuk mencari Pikachu. Para penggawa FC Koln beserta pelatih Peter Stoger, saat melakukan aktivitas Bundesliga Media Day pun sempat terdistraksi dengan urusan perburuan pokemon. Tampaknya Stadion RheinEnergie juga termasuk Pokestop.

Menurut jurnalis tirto.id, Arman Dhani, pokemon memang bukan sekadar mencari monster, tapi jalan hidup. Bagi sebuah generasi yang menggandrungi pokemon saat kecil, pokemon adalah mimpi. Permainanan Pokemon Go yang lengkap dengan teknologi realitas bertambahnya mewujudkan impian tersebut: berinteraksi dengan monster-monster lucu nan menggemaskan atau jelek nan menyebalkan.

Pada kenyataannya memang demikian, pokemon bisa sangat berpengaruh besar dalam hidup seseorang. Tidak terkecuali bagi seseorang dari Skandinavia bernama Simon Tibbling. Namanya mungkin masih terasa asing bagi banyak penggemar sepak bola. Pesepak bola Swedia berusia 21 tahun ini membela klub Eredivisie, FC Groningen. Namun barang kali, tanpa adanya Pokemon, kita benar-benar tidak bakal mengetahui sosok Tibbling.

Pokemon membuka pintu karier Tibbling. Tanpa Pokemon, Tibbling tidak akan menjadi pesepak bola. Kegemarannya mengoleksi kartu Pokemon menjadi asal muasal penyebabnya.

“Benar bahwa tanpa kartu itu, saya pasti tidak pernah menjadi pesepak bola profesional,” ujar Tibbling kepada situs FIFA.

Berlatih sepak bola sejak berusia enam tahun ternyata tidak membuat Tibbling menikmatinya. Tibbling kecil yang berlatih di klub Grodinge berniat menyudahi karier sepak bolanya bahkan sejak hari pertama latihan. Sampai kemudian ibunya membujuknya untuk tetap bersabar sembari mengiming-imingi sesuatu yang dia sangat gemari sebagai bocah.

“Ibu saya meminta saya melanjuutkan, tapi saya tidak mau melakukan sampai dia memberi penawaran: ‘Pergi latihan dan ibu akan memberikan dua pak kartu Pokemon.’ Saya mengumpulkannya dan itu cukup meyakinkan saya tetap bermain sepak bola,” tambah Tibbling.

Selagi getol mengumpulkan kartu Pokemon, Tibbling juga memang rajin meningkatkan kemampuan olah bolanya. Barang kali hanya supaya ibunya senang dan paling penting, koleksi kartu Pokemon miliknya bertambah. Di waktu bersamaan, Tibbling bisa membuat orang tua bangga, sekaligus membuat teman-temannya iri dengan koleksinya. Sebuah pencapaian.

Pada usia sembilan tahun, Tibbling berlatih bersama IF Brommajkoparna. Selama tiga tahun di sana, Tibbling pun pernah berkesempatan menjalani uji latihan bersama Manchester United, Bayern Muenchen, dan Ajax Amsterdam. Ajax sempat menawarinya bergabung pada 2010, tapi Tibbling yang masih berusia 16 tahun masih ingin tinggal di Swedia. Sampai akhirnya klub Stockholm, Djurgardens, merekrutnya.

Selang dua tahun sejak pertama kali bergabung, Tibbling melakukan debut sebagai pesepak bola profesional pada laga melawan Kalmar FF. Tidak banyak yang bisa Tibbling lakukan, karena baru dimasukkan pada menit ke-91. Baru pada pekan ke-13 musim 2012, Tibbling menjadi starter di laga melawan Goteberg yang dimenangi Djurgardens 3-2.

Selama tiga musim membela Djurgardens, Tibbling membukukan 73 penampilan dan tiga gol di kompetisi teratas Swedia, Allsvenkan. Pertengahan kompetisi Eredivisie 2014/2015, Groningen mendaratkan Tibbling ke Stadion Euroborg guna membantu mereka menembus zona Liga Europa. Berposisi sebagai gelandang tengah, Whoscored menilai Tibbling memiliki kekuatan dalam mengoper, menggiring, dan punya konsentrasi mumpuni di lini tengah. Sepintas, permainannya mirip Aaron Ramsey di Arsenal: Memberi tusukan dari tengah secara gesit, operan-operan pendeknya asyik ditonton, dan sesekali mencoba melepaskan tendangan dari luar kotak penalti.

Sebagai pesepak bola muda, menit bermain yang tinggi menunjukkan kepercayaan pelatih kepadanya. Di Groningen, catatan menit Tibbling hanya kalah dari tiga pemain yang lebih senior daripadanya, kiper Sergio Padt, kapten Etienne Reijnen, dan bek Hans Hateboer. Sayang, sumbangsihnya hanya empat asis dan nihil gol sepanjang musim lalu.

Tibbling benar-benar mencuri perhatian saat membawa Tim U-21 Swedia menjuarai Piala Eropa U-21 2015 di Republik Ceska. Dia menjadi elemen penting permainan tim Blagult (biru dan kuning) guna berjaya pertama kali di Eropa meski hanya di level U-21. Gol Tibbling pada menit ke-89 yang membuat skor imbang 1-1 melawan Portugal, membuat Swedia lolos dari fase grup dan berhak menantang Denmark di babak semifinal. Tibbling kembali mencetak gol yang mengantarkan Swedia melibas negara tetangga mereka tersebut 4-1.

Pada babak final, Swedia kembali bersua Portugal. Portugal yang bertumpu kepada para pemain yang kelak kemudian membuat negaranya juara Piala Eropa 2016, seperti Joao Mario, William Carvalho, Raphael Guerreiro, dan Rafa Silva, mereka tekuk lewat drama adu penalti. Tibbling cs., berhasil mempersembahkan titel Piala Eropa U-21 bagi Tanah Air milik mereka dan lelaki 100 tahun yang kabur di hari ulang tahunnya, Allan Karlsson.

Namun tidak seperti para koleganya yang sudah disertakan ke tim senior, Tibbling belum sekalipun mengecap penampilan internasional di level atas. Padahal, Swedia cukup banyak membawa gerbong skuat junior mereka yang berjaya di Piala Eropa U-21 ke Piala Eropa 2016, seperti kiper Patrik Carlgren, duo bek Victor Lindelof dan Ludwig Augustinsson, duo gelandang Oscar Hiljemark dan Oscar Lewicki, serta penyerang Celta Vigo, John Guidetti.

Meskipun Swedia gagal total dan rekan-rekannya belum bisa berbuat banyak di Piala Eropa 2016, tapi seandainya bisa terlibat, tentu menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi karier Tibbling. Tibbling memang perlu bersabar mengingat posisinya di sektor tengah masih ditempati dua pemain senior, Kim Kallstrom dan Albin Ekdal.

Meski begitu, Tibbling tidak perlu menanti lama untuk menunjukkan kapasitasnya, karena Olimpiade Rio de Janeiro 2016 bisa menjadi panggung yang pantas untuknya mengenalkan diri kepada dunia. Kejayaan Swedia di Piala Eropa U-21 2015 menuntut pertanggungjawaban lanjutan di Brasil nanti. Kiprah Swedia di Olimpiade 2016 bisa memberikan sedikit gambaran dari ketidakpastian tentang sepak bola Swedia setelah era Zlatan Ibrahimovich bisa baik-baik saja atau tidak. Sekaligus tentu saja, pemantauan publik atas kemilau talenta Simon Tibbling.

Dengan badan yang agak gemuk (tinggi 174 cm dan berat 67 kg), berwajah merah saat lelah, memakai seragam Swedia berwarna kuning, dan akselerasi kilat seakan menghantarkan listrik, sepintas Tibbling memang mirip Pika... Ah tidak, dia tetap seorang Simon Tibbling. Sosok yang memulai kariernya bukan dari mengagumi pesepak bola yang dia tonton di televisi, bukan karena penggemar fanatik klub tertentu, bukan karena upaya mengubah nasib akibat hidup yang kelewat getir, dan bukan dari alasan-alasan lazim lainnya. Melainkan berawal dari kartu Pokemon.

Karier Tibbling memang masih seumur jagung. Masih banyak pula yang perlu dia tunjukkan di dunia sepak bola. Namun setidaknya, itu cukup menunjukkan satu hal: Pokemon mempunyai pengaruh dalam kisah hidup seseorang.

Semoga kesuksesannya di Piala Eropa U-21 2015 dan kepercayaan yang dia miliki di Groningen baru dua dari sekian banyak prestasi yang kelak dia rengkuh di masa depan. Gotta catch ‘em all, Tibbling?

Aksi Simon Tibbling

*Penulis adalah mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad. Sedang menikmati proses belajar membaca dan menulis. Bisa diajak berkicau lewat akun @oomrahman

(fva)

Komentar