Menelaah Psywar dalam Sepakbola

PanditSharing

by Pandit Sharing

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Menelaah Psywar dalam Sepakbola

Oleh: Gilang Nugraha Cahyatama

Psywar mungkin tidak asing dalam istilah sepakbola di mana seringkali para pelatih lakukan sebelum pertandingan berlangsung, seperti yang Iwan Setiawan lakukan pada pertandingan Piala Jenderal Sudirman kemarin. Secara harfiah, psywar yang merupakan singkatan dari psycological warfare berarti perang psikologis. Istilah ini lebih terkenal dengan perang urat saraf dalam Bahasa Indonesia.

Di sepakbola, psywar kerap digunakan pelatih melalui metode komunikasi yang salah satunya ketika konferensi pers. Namun, apakah hal ini jitu untuk memenangkan suatu pertandingan?

Mari mengingat psywar a la Sir Alex Ferguson yang mengibaratkan sepakbola dengan pacuan kuda. Nama kuda Devon Loch, seekor kuda milik Ratu Elizabeth yang andal pada eranya, tiba-tiba melompat keluar dari lintasan dengan jarak 30 meter dari garis finis. Dan psywar itu ditunjukan kepada rival terberat mereka, Newcastle United, pada tahun 1995/96 dalam perebutan gelar juara Liga Inggris.



Newcastle yang begitu dominan kala itu di liga justru menyia-nyiakan kesempatan mereka untuk mendapatkan gelar Premier League. Mereka yang sedang di atas angin, diberikan psywar oleh Ferguson. Perang urat saraf dari Ferguson tersebut langsung memancing manajer Newcastle saat itu, Kevin Keegan, untuk meledak.

Meledaknya Keegan (seperti yang ditunjukkan pada video di atas) kemudian berpengaruh kepada performa anak-anak asuhannya. Alhasil, Manchester United keluar sebagai juara dengan keunggulan 4 poin dari Newcastle kala itu. Setelah hal ini, agaknya psywar ala-ala manajer atau pelatih menjadi suatu cara untuk meruntuhkan mental lawan yang akan dihadapi.

Namun, apakah psywar selalu ampuh untuk meruntuhkan lawan? Nyatanya tidak, Fergie kembali melakukan hal serupa dengan contoh yang sama kepada Manchester City dengan pelatih Roberto Mancini pada tahun 2012, tetapi hasilnya berbeda. Manchester City tetap memimpin klasemen sampai gelaran liga selesai (walaupun dengan perbedaan selisih gol). City keluar sebagai juara, entah psywar Fergie yang kurang ampuh ataupun suatu faktor keberuntungan yang hilang.

Meskipun begitu, perlu diakui ini adalah psywar terbaik yang datang dari seorang manajer. Kata-katanya tidak terlalu provokatif dan kalimat yang dilontarkan Fergie sangatlah jenius, berbeda dengan psywar-psywar yang pernah ada dalam sepakbola modern yang cenderung menggunakan suatu kalimat yang menyerang langsung bahkan memprovokasi lebih dari seorang manajer dan pemain, tetapi kerap menyinggung fans klub tersebut.

Sebagai contoh, ada Jose Mourinho yang mengatakan bahwa Arsene Wenger adalah seorang “specialist of failure” sebelum laga Arsenal melawan Chelsea pada laga Community Shield tahun 2015. Alhasil manajer dengan hobi psywar tersebut harus gigit jari pada akhir pertandingan, timnya kalah dari tim yang dilatih “specialist of failure” satu gol tanpa balas.

Kala itu Mou berdalih bahwa Arsenal meninggalkan filosofi permainannya, namun itu mungkin hanya kata-kata pembela untuk dirinya sendiri. Kerap kali seorang manajer melontarkan psywar dengan keras dan memprokasi lawan namun ada juga seorang manajer yang berani gila-gilaan dalam hal ini seperti misalnya jika timnya kalah melawan tim tersebut maka ia akan mundur sebagai manajer.

Saya pikir psywar tidak perlu terlalu ekstrem seperti itu karena tugas Anda sebagai manajer adalah memenangi pertandingan tersebut dengan berharap mental lawan Anda akan terpengaruh, bukan menjadi senjata yang justru membuat Anda terlihat bodoh pada akhirnya.

Sedikit bergeser, apakah psywar merupakan suatu keharusan pada sepakbola modern yang dilakukan beberapa pelatih ternama seperti Fergie dan Jose Mourinho, atau justru psywar adalah hal yang manajer lakukan untuk keluar dari tekanan?

Menarik untuk dibahas karena pada pasalnya seorang Fergie dengan psywar a la Devin Loch yang timnya kala itu, Manchester United, tertinggal beberapa poin dari sang pemuncak klasemen, Newcastle United dan kemudian Manchester City. Namun, sekarang para manajer di dunia melakukan psywar justru untuk satu pertandingan saja. Hal ini seakan menjadi  bumbu dari sebuah konfrensi pers sepakbola yang ditunggu setiap media, atau mungkin media lebih peduli dengan sebuah psywar yang akan dilontarkan dibandingkan taktik yang manajer terapkan pada pertandingan tersebut.

Agaknya ini adalah omong kosong karena mental tim juara tidak akan terpengaruh dengan sebuah gertakan sambal sebelum pertandingan. Apalagi ketika kata-kata psywar manajer sampai membuat hubungan manajer menjadi buruk dengan manajer lain dan juga dengan fans yang kerap kali terprovokasi.

Ya, berlajarlah dari Fergie. Walaupun dia kerap kali melontarkan psywar, namun ia tidak pernah membuat hubungan dirinya dengan rival seperti Arsene Wenger, Jose Mourinho, atau Roberto Mancini menjadi rusak.

Pilihlah kata-kata yang tepat untuk melontarkan psywar, jangan terlalu berlebihan karena tugas manajer sebenarnya adalah mencari cara dengan kejeniusan dalam taktik yang akan digunakan dalam pertandingan, bukan hanya sekadar meruntuhkan mental lawan.

Itu semua penting, karena apabila psywar manajer lebih kuat daripada taktik yang ia racik, maka hasilnya akan jelas bahwa manajer tersebut hanya akan termakan kata-katanya sendiri.

Penulis adalah seorang mahasiswa asal Cimahi yang berakun Twitter @gilangcahyatama.

Sumber foto: Cover FIFA Manager 13 dari EA Sports

Komentar