Merelakan Boaz Solossa Berbaju Oranye

PanditSharing

by Pandit Sharing

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Merelakan Boaz Solossa Berbaju Oranye

Karya: Taufan Abdillah Andi Wajuanna

Buat suporter, menyaksikan pemain yang pindah ke tim rival jauh lebih pedih ketimbang melihatnya pensiun di tim. Terlebih pemain tersebut adalah idola dan legenda klub.

Sulit membayangkan perasaan penggemar Chelsea saat melihat sang legenda, Frank Lampard mengenakan kostum biru langit milik Manchester City. Atau saat Iker Casillas harus pindah ke FC Porto. Ini sama halnya saat The Jakmania melihat kapten yang juga ikon tim hijrah ke Bandung, kota tim rival, meskipun hanya pindah sementara ke Pelita Bandung Raya (sekarang Persipasi Bandung Raya).

Hari itu akhirnya tiba. Saya dan mungkin juga semua Persipura Mania merasakan apa yang dirasakan suporter kesebelasan tadi. Ini soal kerelaan; Kerelaan saat melihat ikon, legenda, dan kapten tim kesayangan berlaga tetapi bukan membela klub kecintaanmu, melainkan klub lain.

Boaz Solossa, el capitano klub kebanggan  kami, Persipura Jayapura, bertanding di pertandingan resmi tetapi bukan membela panji mutiara hitam. Melainkan berbaju oranye milik Pusamania Borneo FC (PBFC).

Sudah lebih dari 10 tahun Boaz membela Persipura terhitung dari debutnya di Ligina XI saat Persipura bertemu Persegi Gianyar. Dan selama 10 tahun itu juga banyak tawaran dari tim-tim lain di Indonesia yang ingin memakai jasa top skor Liga Indonesia tiga musim ini. Termasuk yang heboh saat 2011 lalu adalah Boaz juga diminati tim luar negeri, Cesena (Italia) dan VVV Venlo (Belanda).

Kita bisa berdebat dalam banyak hal, tapi agaknya kita bisa dengan mudah membuat kesepakatan: Boaz adalah pemain terbaik Indonesia dalam satu dekade terakhir. Baca Akal Sehat dalam Tiga Kejadian Bersama Boaz

Pun saat kompetisi QNB League 2015 akan dimulai, santer dikabarkan Boaz akan pindah ke tim lain. Boaz yang saat itu sedang berada di Vietnam untuk Piala AFF, bahkan harus dikunjungi oleh Rudi Maswi (Manajer Persipura) untuk “diamankan” mengingat begitu sentral dan pentingnya sosok Boaz di Persipura.

Seumur hidup di pertandingan resmi saya hanya menyaksikan Boaz dengan tiga kostum berbeda. Pertama saat 2004 kala membela tim Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua, kedua seragam merah putih timnas Indonesia, dan ketiga tentu saja Persipura.

Bagi saya, perasaan perasaan campur aduk itu pertama kali muncul saat mendengar desas desus pemain Persipura diminati beberapa kontestan Piala Presiden. Seperti saat membaca berita Zulham Zamrun membela Persib Bandung, atau Lancine Kone yang ke Arema Cronus. Namun akhirnya seolah saya biasa saja—tanpa menafikan kontribusi keduanya di beberapa laga Pramusim, AFC Cup, dan QNB League—dikarenakan mereka baru sebentar saja bersama Persipura.

Akan berbeda jika itu menyangkut  sang legenda, Boaz. Kabar-kabar itu awalnya datang dari Sriwijaya FC yang diberitakan tertarik menggunakan jasanya (bersama seorang pemain Persipura lainnya). Namun arah angin berubah, Pemain asal Sorong ini akhirnya menerima pinangan PBFC yang dikenal jago mendatangkan pemain pemain “berkelas”.  Ferinando Pahabol juga ternyata ikut menerima pinangan dari PBFC tetapi belum bisa bergabung dengan tim tersebut.

Saat membaca cuitan dari akun resmi PBFC yang mengucapkan selamat bergabung kepada Boaz, saya bingung dan tak percaya. Ekpresi saya jika digambarkan menggunakan meme, bisa terwakili dengan karakter rage comic yang  menampilkan tokoh kartun berkepala besar, dengan muka bingung, serta ber-caption WAT? -slang dari “what”-  Dimana menurut knowyourmeme.com,

Boaz ketika ditanya alasan kenapa memilih PBFC,  mengatakan karena memang tim inilah yang paling intens melakukan komunikasi dengan dirinya. Boaz juga mengaku sangat rindu untuk berkompetisi.

Di Piala Presiden ini Persipura tidak ikut ambil bagian mengingat tim sudah dibubarkan sejak Juni 2015. Dengan status pinjaman, memang sah-sah saja jika Boaz membela tim lain. Kita tak bisa menutup mata kalau kondisi persepakbolaan Indonesia yang sedang carut marut membuat pemain harus pintar-pintar menjaga kondisi, menjaga sentuhan bola, dan juga menjaga dapurnya agar tetap mengepul.

Soal loyalitas, dalam satu wawancara, Boaz pernah mengatakan akan pensiun hanya di Persipura. Jika harus bermain di tim lain, Adik kandung Ortisan Solossa ini akan tetap memilih Persipura sebagai pelabuhan terakhirnya. Boaz sendiri di akun media sosialnya mengatakan Persipura selalu dihatinya. Ia hanya bermain di PBFC sebatas gelaran Piala Presiden saja. Pernyataan yang cukup melegakan hati Persipura Mania.

Dari sejumlah grup Persipura Mania yang saya ikuti di Facebook, nada-nada komentar soal Boaz dan PBFC ini cukup beragam. Tidak sedikit Persipura Mania yang menyesalkan langkah Boaz ini, tidak sedikit juga yang turut senang karena bisa melihat Boaz bermain lagi.

Yang ramai dibicarakan juga adalah soal tuah Boaz jika bermain di tim selain Persipura. Beberapa kawan mengatakan jika Boaz bermain di luar tanah Papua, tuahnya tidak akan sama ketika Boaz membela Persipura. Saya cukup sependapat dengan pernyataan ini karena atmosfer dalam internal Persipura yang kondusif dengan pengelolaan manajemen yang bagus, membuat pemain pun nyaman.

Boaz Solossa pernah patah kaki dua kali sepanjang karirnya, sesuatu yang mengerikan bagi seorang pemain sepakbola. Namun seperti yang kita tahu, ia masih bisa bangkit dan seolah hal tersebut tidak berpengaruh baginya. Baca Aubade untuk Boaz: Yang Tak Patah Meski Pernah Patah

Soal produktivitas gol, kita tak bisa memungkiri gol-gol Boaz selain dikarenakan kemampuannya sendiri, tetapi  sokongan “pemain yang mengerti” pun menjadi faktor utama. “Pemain yang mengerti” dalam artian paham betul bagaimana memberi umpan-umpan manis untuk diselesaikan oleh Boaz. Akankah jika Boaz pindah ke tim lain akan ada pemain-pemain seperti Imannuel Wanggai, Gerald Pangkali, atau Ian Kabes yang “mengerti keinginan Boaz?

Namun Boaz memang pemain istimewa. Ketakutan soal tuah Boaz yang tak akan keluar jika membela tim lain hari ini seratus persen tidak terbukti. Boaz membuktikan memang dia berada di level atas rata-rata pemain Indonesia. Baru dua hari bergabung dengan PBFC, dan langsung diturunkan saat melawan Gresik United, PBFC menang dengan skor 1-3. Dan ketiga gol PBFC tidak dipungkiri hasil dari sedikit tuah Boaz.

Gol pertama PBFC dilesakkan oleh Srdan Lopicic melalui titik putih. Penyebab penalty-nya? Basry Lohy dijegal oleh Kiper Gresik United saat berlari kencang setelah menerima turn pass dari Boaz. Gol kedua dicetak oleh Terens Puhiri menerima sodoran Boaz. Gol terakhir yang dicetak Lopicic memanfaatkan bola liar hasil sundulan Hamka Hamzah saat menerima bola sudut dari pemain asal Sorong ini. Beberapa kali juga Boaz melepaskan shooting ke gawang Gresik United.

Menarik menyaksikan kiprah Boaz bersama PBFC di Piala Presiden ini. Apalagi mereka sudah memastikan diri lolos ke babak delapan Besar. Buat Persipura Mania di mari kita berusaha tenang menanggapi keputusan sang kapten. Toh, jika sepakbola Indonesia menjadi lebih baik, Boaz pun akan kembali.

Penulis adalah mahasiswa tingkat akhir. Persipura Mania sekaligus penikmat sepakbola lokal. Menggunakan Twitter dengan akun @taufanabdilah24

Komentar