Tradisi "Hampir Juara" Leverkusen

PanditSharing

by Aun Rahman

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Tradisi

Kesuksesan tiap-tiap klub itu tak sama. Ada yang sukses perihal pembinaan usia muda, ada yang sukses sebagai tempat paling tepat buat perkembangan karir pemain. Buat yang tak sukses-sukses amat, biasanya gemar mengklaim diri sebagai klub kurang beruntung karena terpeleset di putaran akhir sehingga harus merelakan gelar juara.

Namun, dibanding dengan kebanyakan klub yang berlaga di Liga liga Top Eropa, mungkin tidak ada yang mengalami nasib yang lebih mengenaskan dibandingkan dengan Bayer Leverkusen.

Bayer 04 Leverkusen Fussball GmbH atau lebih sering disebut sebagai Leverkusen, merupakan sebuah klub asal Jerman yang didirikan oleh perusahaan farmasi Bayer pada 1904.  Leverkusen sendiri dulunya merupakan bagian dari klub olahraga perusahaan TSV Bayer 04 Leverkusen, yang tidak hanya membawahi sepakbola, tetapi juga cabang olahraga lain seperti bola tangan, bola basket, hoki dan atletik.

Banyak pemain hebat pernah mengenakan kostum kebesaran merah hitam kebanggangan Leverkusen, mulai dari legenda legenda sepakbola Jerman seperti Rudi Voller, Michael Ballack, Oliver Neuville, mantan bintang turki Yildiray Basturk sampai legenda Korea Selatan Cha Bum-Kun.

Meskipun memiliki komposisi bertabur pemain hebat, nyatanya klub rival FC Koln ini memiliki nasib yang sangat mengenaskan. Dibandingkan tim tim besar asal Jerman lain, seperti FC Bayern, Borussia Dortmund, VLF Wolfsburg dan Schalke 04, Die Bayer – Julukan Leverkusen sama sekali belum pernah merasakan manisnya gelar juara Bundesliga. Lebih menyedihkan lagi adalah fakta mereka pernah menjadi runner-up Bundesliga empat musim beruntun dari 1997 hingga 2002, yang lebih sering disebut oleh penggemar mereka sebagai “The Almost Champions Era” atau Neverkusen oleh media dan para penggemar klub rival.

The Almost Champions Era

Empat kali gagal meraih gelar juara dalam jangka waktu berdekatan, memang sangat mengenaskan. Di antara semua kegagalan menjadi kampiun, musim 1999-2000 dan 2001-2002 adalah yang paling tragis bagi tim yang bermarkas di BayArena ini. Karena dibandingkan edisi lain di mana Leverkusen tertinggal jauh dari peringkat pertama, baik FC Bayern atau Borussia DortmunD, pada dua musim tersebut Leverkusen benar benar sial dalam upaya meraih gelar juara.

Pada hari akhir musim 1999-2000, Leverkusen hanya membutuhkan hasil imbang untuk memastikan gelar juara. Berhadapan dengan tim semenjana Unterhaching, Leverkusen bahkan difavoritkan untk meraih kemenangan. Akan tetapi yang terjadi justru di luar perkiraan, klub yang kala itu diarsiteki oleh legenda mereka, Rudi Voller, harus takluk dengan skor 0-2, keadaan diperparah dengan salah satu gol yang bersarang di Pascal Zuberbuhler hari itu adalah hasil gol bunuh diri bintang mereka Michael Ballack. Di tempat lain, FC Bayern berhasil mengandaskan perlawanan Werder Bremen dengan skor 3-1 sekaligus memindahkan perayaan gelar juara ke Olympiastadium, Munich.

Dua musim berselang, sindrom runner-up masih saja menghinggapi Leverkusen. Namun musim 2001-2002 akan selalu dikenang oleh para pendukung Leverkusen sebagai musim yang paling mengenaskan. Pada musim tersebut Leverkusen mengalami treble horror, bukan hanya menjadi runner up di kompetisi domestik baik Bundesliga ataupun DFB Pokal, tetapi juga mereka gagal meraih gelar Liga Champions pertama mereka.

Pelatih eksentrik, Klaus Topmoller adalah nahkoda Leverkusen pada musim tersebut. Topmoller membawa Leverkusen melaju kencang pada musim kompetisi tepat sebelum Piala Dunia 2002 tersebut. Hingga akhirnya pada tiga partai terakhir Bundesliga, Leverkusen harus menerima kenyataan disalip oleh Borussia Dortmund yang berhasil memaksimalkan tiga partai terakhir mereka, sementara Leverkusen hanya kalah sekali pada tiga pertandingan terakhir tersebut, satu point menjadi pembeda nasib antara Leverkusen dan gelar juara.

Ketidakberuntungan tersebut menjalar ke kompetisi lain, pada partai final DFB Pokal Carsten Ramelow dan kawan kawan, dihajar 4-2 oleh rival sekota pesaing bundesliga mereka, Schalke 04. Dan tentunya final historis di mana sepakan sensasional Zinedine Zidane menghujam gawang Hans-Joerg Butt sekaligus memberikan gelar Liga Champions ke 9 bagi Real Madrid, dan menutup kisah tragis Bayer Leverkusen pada musim tersebut.

Delapan tahun kemudian, tepatnya pada musim 2010-2011 mereka kembali menjadi runner-up, kala itu Leverkusen diasuh oleh pelatih legendari Jerman, Jupp Heynckes.

Keadaan ironis yang terjadi memang tidak terlihat tidak adil, Leverkusen nyatanya sejak lama adalah tempat yang tepat untuk pengembangan karir pemain muda. Bukan hanya legenda legenda sepakbola Jerman seperti Michael Ballack, Ulf Kirsten, Bernd Schneider, dan Carsten Ramelow yang menjadi terkenal setelah bermain untuk Leverkusen, atau Toni Kroos yang sempat dipinjamkan selama semusim sekaligus menjadi bagian tim runner up musim 2010-2011.

Tim asal negara bagian Westphalia ini juga menjadi tempat berkembangnya banyak pemain bintang. Dimitar Berbatov sebelum hijrah ke Liga Inggris sempat menghabiskan 5 musim bersama Leverkusen. Lucio dan Ze Roberto bermain apik di Leverkusen pada awal milenium hingga akhirnya hijrah ke FC Bayern pada 2003. Gelandang tangguh asal Chile, Arturo Vidal menjadikan Leverkusen sebagai klub pertama dirinya saat pertama kali menjejakan kaki di Eropa.

Dan masih banyak nama nama pemain hebat lain yang pernah berkostum Leverkusen, mulai dari Tranquillo Barnetta, Jurica Vranjes, Marko Babic, Landon Donovan, Diego Placente, hingga Kevin Kampl.

Menatap musim 2015/2016, Leverkusen mendatangkan beberapa pemain terutama di sektor pertahanan yang menjadi sorotan musim lalu. Wingback lincah asal Brasil Andre Ramalho dan bek jangkung Kyriakos Papadopoulous didatangkan untuk menambal lubang yang ditinggalkan Gonzalo Castro dan Stefan Reinartz. Lini depan Die Bayer juga kedatangan penyerang asal Swiss, Admir Mehmedi.

Pelatih Roger Schmidt juga memanggil pulang gelandang berbakat mereka Christoph Kramer yang dipinjamkan ke Gladbach musim lalu. Amunisi amunisi baru ini melengkapi skuad leverkusen yang sudah diperkuat oleh trio lini serang, Son Heung-Min, Karim Bellarabi, Hakan Calhanoglu, dan gelandang jangkar mereka Lars Bender. Dengan harapan besar bahwa tim termuda Bundesliga ini (rataan umur pemain Leverkusen adalah 24.0, bahkan menjadi paling muda dibandingkan tim besar Liga liga Top Eropa) akan meraih gelar Bundesliga pertama mereka, setelah berdiri 111 tahun lalu.

Punya sejarah hebat, diisi oleh banyak pemain muda, kostum yang keren, Bayer 04 Leverkusen klub alternatif yang bisa dipilih oleh para hipster sepakbola. Toh, seorang hipster, tak peduli-peduli amat dengan prestasi, bukan?

Penulis biasa beredar di dunia maya dengan akun Twitter @aunrrahman

Komentar