Pelajaran dari Ronaldo de Lima untuk Falcao

PanditSharing

by Pandit Sharing

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Pelajaran dari Ronaldo de Lima untuk Falcao

Ditulis oleh Ibnu Ahmadsyah

Radamel Falcao sedang mengalami penurunan dalam karirnya. Reputasinya sebagai penyerang berbahaya di dunia tengah meredup. Karirnya yang cemerlang tiba-tiba berbalik 180 derajat setelah satu kejadian mengenaskan menimpanya. Dalam sebuah pertandingan antara AS Monaco Monts d’Or Azergues, Falcao mengalami cedera pada ligamen lututnya. Ia pun mengalami cedera ACL dan harus menjalani perawatan dalam beberapa bulan.

Sejak cedera tersebut, Falcao seperti menjadi sosok yang berbeda di lapangan. Ia tidak sesangar saat sebelum cedera. Penampilannya menurun drastis ketika ia membela Manchester United di Liga Inggris musim 2014/2015. Dari 29 penampilan yang dilaluinya, hanya 4 gol yang berhasil ia sumbangkan.

Cedera ACL memang merupakan salah satu cedera yang paling ditakuti oleh atlet, termasuk pemain sepakbola. Tidak hanya masa penyembuhannya yang lama, ACL juga memberikan trauma yang cukup berat bagi atlet. Hal inilah yang membuat banyak atlet tidak bisa kembali ke performa asalnya pasca mengalami cedera ACL.

Simak tulisan tentang hantu ACL yang bersemayam di kepala Falcao

Falcao pun menjadi salah satu korban dari cedera ini. Dan Falcao juga menjadi salah satu atlet yang kesulitan untuk kembali ke performa maksimal pasca mengalami cedera ACL. Namun, Falcao sebenarnya juga bisa banyak belajar dari atlet-atlet yang berhasil bangkit pasca mengalami cedera ACL. Salah satu atlet tersebut adalah legenda tim nasional Brasil, Ronaldo Luis Nazario de Lima.

Kisah Kemunculan Ronaldo Sang Fenomena

Membicarakan kehebatan Ronaldo tentu membuat memori penggemar bola harus flashback sejenak ke masa lalu. Pemain yang terkenal dengan kepala pelntosnya ini meruapakan salah satu pemain muda berbakat pada zamannya. Kiprahnya diawali dengan torehan 44 gol dalam 47 penampilan dua musimnya bersama Cruzeiro ketika masih berusia 17-18 tahun.

Berkat pencapaiannya tersebut, Ronaldo pun dipanggil ke skuat juara timnas Brazil pada piala dunia 1994. Meski pada Piala Dunia di Amerika Serikat tersebut, Ronaldo hanya duduk di bangku cadangan.

Tak lama kemudian, dirinya pun direkrut klub Belanda, PSV Eindhoven. Lagi-lagi, bersama PSV Ronaldo membuat sensasi dengan menjadi top scorer Eredivisie 1994-1995 dengan 30 gol saat masih berusia 19 tahun. Catatan luar biasa ini kembali membuat klub besar Eropa lainnya, FC Barcelona, tertarik untuk mendatangkan Ronaldo.

Kiprah Ronaldo bersama FC Barcelona bisa dibilang merupakan pencapaian terbaik sepanjang karirnya. Ronaldo sanggup menjadi Top Scorer La Liga edisi 1996-1997 dengan 34 gol dan membantu Barca menjuarai Copa Del Rey dan Piala Winners. Kiprahnya bersama Barcelona inilah yang mulai membuka mata dunia tentang kehadiran sang fenomena. Puncaknya, pada 1996 dan 1997 Ronaldo pun berhasil menjadi pemain terbaik dunia versi FIFA. Ronaldo pun tercatat sebagai pemain termuda yang pernah memenangi penghargaan ini.

Kehancuran Karier Ronaldo di Inter Milan   

Musim 1997-1998, Ronaldo hijrah ke Serie A bersama Inter Milan. Di musim pertamanya bersama Inter, Ronaldo harus beradaptasi dengan gaya Serie A yang terkenal dengan pertahanan tangguh. Namun kemampuannya menggiring bola yang fenomenal ternyata masih mampu menyihir Serie A. Bahkan Paolo Maldini mengakuinya sebagai penyerang terbaik yang pernah dihadapinya. Kariernya di Inter Milan pun terlihat lancar-lancar saja dan Ia berhasil menjadi runner up Top Scorer Serie A dengan 25 gol dan runner up Pemain Terbaik Dunia 1998 di bawah Zinedine Zidane.

Kami juga memilih Ronaldo de Lima sebagai salah satu penyerang terbaik yang pernah membela Inter Milan

Namun petaka cedera perlahan mulai merusak karier Ronaldo. Pada pertandingan Serie A antara Inter melawan Lecce pada November 1999, Ronaldo menderita cedera di lutut kanannya. Tendonnya terkoyak cukup parah. Ronaldo pun harus menjalani operasi pembedahan lutut yang mengharuskannya absen lama. Serangkaian program pemulihan pun dijalani Ronaldo untuk kembali ke lapangan hijau secepat mungkin. Pemulihan Ronaldo berjalan cukup cepat dan ia berhasil comeback pada Final Coppa Italia antara Inter versus Lazio pada 12 April 2000.

Tak dinyana, comeback Ronaldo berjalan bak mimpi buruk baginya. Ia hanya bertahan selama tujuh menit di lapangan dan kembali menderita cedera di lutut yang sama. Ronaldo mendadak terjatuh saat dirinya berusaha melakukan trik stepover untuk mengelabui lawan. Ronaldo meronta kesakitan dan harus ditandu keluar lapangan. Pertandingan yang awalnya berjalan seru berubah menjadi penuh kesedihan.

ron
Sumber gambar : http://www.in-antrim.com/ronaldo-important-milestones-leisure-ezinemark/

Ronaldo harus kembali ke meja operasi untuk kedua kalinya. Bahka kali ini ia harus beristirahat lebih lama. Hampir dua musim Ronaldo tidak bisa bermain sepakbola untuk menjalani rehabilitasi. Namun hal ini tidak membuatnya menyerah. Baginya, kemenangannya yang utama adalah untuk bisa kembali ke lapangan hijau. Tidak peduli seberat apapun cedera yang sedang dialami.

rona
Sumber gambar : http://dor.ky/a-love-of-brasil/

Kembalinya Sang Fenomena

Akhirnya, Ronaldo pun pulih pada paruh kedua musim 2001-2002. Meski belum kembali ke performa terbaiknya, namun ia berhasil mencetak 7 gol dari 16 pertandingan yang dijalaninya. Ia pun tetap dipanggil tim nasional Brasil untuk masuk ke skuat Piala Dunia 2002.

Tak disangka-sangka, Ronaldo berhasil mengalahkan trauma cedera parahnya itu dan membawa Brazil kembali menjadi juara dunia. Tidak hanya membawa Brasil menjadi juara, Ronaldo juga berhasil menjadi Top Scorer Piala Dunia 2002 dengan 8 gol.

Tak lama kemudian, ia pun direkrut Real Madrid. Dan sekali lagi, ia berhasil kembali ke permainan terbaiknya. Ronaldo kembali berhasil meraih penghargaan pemain terbaik dunia pada 2002. Ia pun berhasil melanjutkan performa hebatnya dengan menjadi Top Scorer La Liga 2003-2004. Sungguh comeback yang impresif.

Setelah itu, penampilan Ronaldo memang kembali menurun. Penyakit Hipotiroidisme dan gaya hidup yang membuatnya mudah gemuk membuat Ronaldo tidak bisa bermain sebaik sebelumnya. Namun dunia tentu sudah mencatat Ronaldo sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah ada.

Kehebatan Comeback Ronaldo yang Patut Ditiru Falcao

Situasi cedera Ronaldo bisa dikatakan jauh lebih berat dari Radamel Falcao. Namun Ronaldo telah membuktikan bahwa cedera bukanlah akhir dari segalanya. Bahkan ia bisa kembali menjadi pemain terbaik dunia.

Salah satu kunci sukses Ronaldo kembali tajam adalah mengubah gaya permainannya. Ronaldo pasca cedera bukan lagi Ronaldo yang selalu berusaha menggiring bola dari tengah lapangan dan melewati pemain lawan. Ronaldo bermain lebih efisien dan tenang di mulut gawang sehingga terus memberikan ancaman kepada pertahanan lawan. Pengalamannya yang sudah lebih banyak tentu membuatnya mampu melakukan hal tersebut.

Sedangkan Falcao saat ini seringkali terlihat tidak tenang dan tergesa-gesa. Falcao seharusnya melakukan apa yang dilakukan Ronaldo pasca mengalami cedera, yakni tetap tenang, percaya diri, dan bila perlu mengubah gaya permainan. Falcao harus mulai meminggirkan keinginannya untuk terus beradu fisik memanfaatkan eksplosivitas yang dimilikinya, karena bekas cedera lututnya sudah pasti memengaruhi kekuatan fisiknya. Falcao harus lebih cerdik dan efisien di mulut gawang.

Satu hal penting yang didapatkan Falcao adalah kepercayaan. Jose Mourinho adalah pelatih yang tetap memercayainya di tengah keraguan sejumlah pelatih lain untuk merekrutnya. Kepercayaan ini pun sama seperti kepercayaan Scolari pada Ronaldo, dan menjadi modal penting bagi Falcao.

Pengakuan duo bek Chelsea, Gary Cahill-John Terry akan potensi dan pergerakan Falcao yang masih membahayakan pun membuktikan bahwa Falcao masih punya potensi untuk bangkit kembali. Dan kini semua pun tergantung pada usaha Falcao sendiri untuk kembali berjaya. Patut kita nantikan apakah auman El Tigre kembali terdengar nyaring seperti kebangkitan Il Phenomenon, atau auman El Tigre justru malah semakin tenggelam karena bayang-bayang cedera dan ketidakpercayaan Louis Van Gaal terhadap dirinya di masa lampau.

Penulis adalah mahasiswa jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Padjajaran, biasa beredar di dunia maya dengan akun Twitter @ibensteven.

Komentar