Yang Paling Beruntung dan yang Paling Sial dalam Sepakbola

PanditSharing

by Marini Saragih

Marini Saragih

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Yang Paling Beruntung dan yang Paling Sial dalam Sepakbola

Ditulis oleh Rian Yona Irawan


Sepakbola, pada akhirnya, tidak hanya membicarakan kemenangan dan kekalahan, ia juga membicarakan keberuntungan dan kesialan.

Pada sepakbola, dualitas yang saling bertentangan itu, semacam oposisi biner, sudah menjadi kenyataan yang tak bisa dihindarkan. Setiap kali ada kemenangan, sudah pasti ada yang menderita kekalahan. Selalu ada yang jadi juara, dan saat yang sama juga ada yang disebut pecundang. Sebab sepakbola sendiri mustahil dimainkan tanpa dua tim yang saling berhadapan. Sepakbola adalah permainan oposisi binarian.

Tim Nasional yang Paling Beruntung

Walaupun Denmark berhasil menjadi juara Piala Eropa 1992, namun keikutsertaan mereka dalam ajang ini juga berkat keberuntungan. Waktu itu terjadi konflik yang membuat Yugoslavia dicoret sebagai peserta. Karena secara klasemen Denmark dan Yugoslavia hanya terpaut satu poin, tim Dinamit berhak maju sebagai peserta.

Denmark sempat dipandang sebelah mata karena berada dalam satu grup yang sama dengan Inggris, Perancis dan tuan rumah Swedia. Skor imbang saat melawan Inggris dan kekalahan mereka atas Swedia, membuat mereka harus mengalahkan Perancis dan Swedia harus unggul atas Inggris, jika ingin lolos dari fase grup.

Ternyata, keberuntungan Denmark tak hanya menyoal keikutsertaan. Di pertandingan selanjutnya mereka berhasil mengalahkan Perancis dengan skor 2-1. Ajaibnya, Inggris pun harus angkat koper terlebih dulu karena kalah 1-2 atas Swedia.

Di babak semifinal, giliran Belanda yang menjadi korban keberuntungan Denmark. Sampai babak perpanjangan waktu, skor tak berubah dari 2-2. Akibatnya, babak adu penalti harus digelar. Dari lima penendang penalti untuk Belanda, hanya Marco van Basten yang gagal menambah angka untuk negaranya. Sedangkan di kubu Denmark, kelima algojonya sukses mendulang angka. Mereka pun melangkah ke partai puncak.

Di babak final, Denmark bertemu dengan juara dunia, Jerman. Mereka pun berhasil mengalahkan Jerman dengan skor 2-0 dan berhak atas gelar juara Eropa 1992. Hasil yang benar-benar sulit dipercaya, mengingat mereka hanya memiliki waktu 11 hari untuk persiapan pasca Yugoslavia dibatalkan keikutsertaannya.

Keberuntungan dalam Kesialan Pemain

Keberuntungan atau kesialan pun bisa juga melingkupi perjalanan karier seorang pemain, contohnya, Fernando Torres. Saat masih berbaju Liverpool, permainan pesepakbola asal Spanyol ini begitu trengginas. Ia menjadi mesin gol utama bagi Liverpool, bahkan sempat menempatkan namanya sebagai salah satu pencetak gol terbanyak EPL musim 2007/2008 dengan 24 gol. Penampilannya yang begitu mengesankan membuat Chelsea tertarik memboyongnya ke Stamford Bridge.

Sejak bergabung bersama Chelsea, penampilan Torres menurun drastis. Ia hanya berhasil mencetak 20 gol dalam 110 pertandingan. Akibatnya, Torres menjadi sasaran olok-olok di dunia maya.

Kisah Fernando Torres yang lainnya bisa anda simak di


Uniknya, di balik kesialan tersebut, Torres menikmati bentuk lain dari keberuntungan. Adalah bagian dari kejayaan Spanyol yang memenangkan Piala Eropa 2008, 2012 dan Piala Dunia 2010. Tak sekadar nimbrung mengangkat piala, gol tunggal Torres lah yang membuat Spanyol keluar sebagai juara Piala  Eropa 2008. Ia pun berhasil menjadi pencetak gol terbanyak di ajang Piala Eropa 2012, serta berhasil merebut gelar Sepatu Emas di Piala Konfederasi 2013. Bersama Chelsea, ia pun merasakan nikmatnya mengangkat Piala FA 2012 dan Piala UEFA Champions League 2012.

Lain Fernando Torres, lain pula Zlatan Ibrahimovic. Penyerang jangkung yang sering mencetak gol-gol fantastis tersebut memang terkenal sebagai pemain petualang akibat sering berganti klub. Lucunya, kepindahannya ke satu klub selalu dibarengi dengan keberhasilan klub tersebut meraih gelar juara.

Setelah mengawali karir di Malmo FF, Zlatan memilih untuk ke Ajax Amsterdam. Bersama klub barunya, ia berhasil menjuarai KNVB Cup 2001/2002 serta Eradivisie 2001/2002 dan 2003/2004.

Perjalanan karirnya berlanjut di Juventus. Musim 2004/2005 dan 2005/2006, Si Nyonya Tua pun berhasil meraih scudetto. Ketika skandal calciopoli merebak pada musim panas 2006, Zlatan memutuskan untuk pindah ke Inter Milan yang merupakan salah satu rival terbesar Juventus. Bersama Inter, Ibrahimovic meraih tiga gelar juara Serie A serta dua gelar Coppa Italia.

Sama seperti di musim-musim sebelumnya, Zlatan juga tak mau berlama-lama bersama Inter. Ia memilih Barcelona sebagai klub barunya di musim 2009/2010 dan berhasil memenangkan masing-masing satu Piala La Liga, Piala Super Spanyol, Piala Dunia Antar Klub dan Piala Super Eropa.

Tulisan lain tentang Ibrakadabra: "Kisah Zlatan Ibrahimovic dan Ajax Amsterdam"

Pada musim 2010/2011, Zlatan kembali ke Italia dan bermain untuk AC Milan. Ia berhasil mengantarkan klub barunya meraih gelar scudetto musim 2010/2011 serta memenangkan Supercoppa Italiana 2011.

Sampai saat ini, Zlatan merumput bersama Paris Saint Germain dan menghasilkan tiga gelar Ligue 1, dua gelar Coupe de la Ligue dan gelar Coupe de France. Menyoal gelar individu, gol spektakulernya ke gawang Inggris yang dikawal Joe Hart, mengantarkannya meraih gelar FIFA Puskas Award 2013.

Walau demikian, keberuntungan Zlatan hanya mencapai level domestik. Beruntungnya, sampai saat ini belum berhasil memenangkan Piala Champion. Sialnya, setiap kali ia pindah klub untuk memenangkan trofi si kuping besar, saat itu pula klub yang dibelanya tak bisa berbuat banyak di perhelatan ini.

Dimulai ketika memutuskan hengkang dari Inter Milan ke Barcelona pada musim 2009/2010, gelar Piala Champion justru berhasil direbut oleh mantan klubnya, Inter Milan. Pindah ke Ac Milan di musim 2011/2012, saat itu pula Barcelona sukses meraih gelar mayor keempat Eropa-nya.

Keberuntungan dalam Transfer Pemain

Kebijakan transfer klub, pada kenyatannya, juga dilingkupi keberuntungan dan kesialan. Contohnya, apa yang terjadi pada Manchester United.

Tahun 1998, penampilan Paul Gascoigne yang impresif dan berhasil mencetak 21 gol dalam 92 pertandingan membuat Sir Alex Ferguson tertarik untuk mendatangkannya dari Newcastle. Namun ketertarikan United justru dijawab dengan kepindahan Gascoigne ke Tottenham Hotspurs.

Selidik punya selidik, ternyata Spurs telah memberikan uang muka berupa rumah untuk orang tuanya. Padahal kabar sebelumnya, Gascoigne telah menyatakan minatnya untuk merumput di Old Trafford. Namun entah bagaimana awalnya, keuntungan bagi United dan sial bagi Spurs, di klub barunya, Gascoigne sering didera cedera dan terjerat alkohol yang mengharuskannya untuk direhabilitasi.

Pasca kepergian David Beckham tahun 2003, United kehilangan pemain sayap yang bis diandalkan. Awalnya, United memilih Ronaldinho yang kala itu masih berseragam PSG sebagai pengganti Beckham. Sayang, Ronaldinho memutuskan untuk berlabuh di Barcelona. United akhirnya mendatangkan Cristiano Ronaldo, pemuda Portugal yang sebelumnya memperkuat Sporting Lisbon. Banyak orang yang mempertanyakan alasan United merekrut dan memberikannya nomor punggung keramat.

Namun demikian, Ronaldo menjawabnya dengan menjadi salah satu mesin gol buat United: 84 gol dalam 196 pertandingan. Kepergian Ronaldo pun tetap  menjadi keuntungan buat United. Rekornya sebagai pemain termahal dunia kala itu, berimbas kepada menggemuknya keuangan United.

Pada akhirnya, selama sepakbola masih bisa dimainkan dan menyedot banyak animo, selama itu pula sepakbola dapat memberikan berbagai kisah-kisah tentang keberuntungan dan kesialan. Walaupun sering dianggap sebagai kebetulan belaka, namun ketidaktertebakan seperti inilah yang menjadikan sepakbola begitu menarik.

 Penulis bisa dihubungi lewat akun twitter @bangbenson

Komentar