Trezeguet, Pahlawan yang Menjadi Pesakitan

PanditSharing

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Trezeguet, Pahlawan yang Menjadi Pesakitan

Oleh: Fahmin

Ada masa di mana orang yang awalnya disalahkan, malah menjadi pahlawan di masa depan. Tidak pula ada yang tahu seseorang yang ditahbiskan menjadi pahlawan, yang namanya dielu-elukan di seantero negeri, pada suatu masa menjadi pihak yang paling disalahkan.

Suatu masa pada pertengahan 2000 di Stadion Faijenoord, Rotterdam, gol Marco Delvecchio hasil umpan silang Gianluca Pesotto dari sisi kiri pertahanan Prancis pada menit ke-55, membawa Italia begitu dekat dengan gelar Piala Eropa. Namun, menit-menit berikutnya adalah bencana bagi Italia. Dimulai saat memasuki masa injury time, Silvyain Wiltord berhasil menyamakan kedudukan. Gelar juara Italia tertunda karena harus dipastikan lewat perpanjangan waktu. Kala itu, FIFA menerapkan sistem sudden death atau golden goal. Kesebelasan mana yang mencetak gol terlebih dahulu, dia yang menang.

Serupa seperti naskah film-film Hollywood, David Trezeguet muncul sebagai aktor protagonis bagi Prancis.

“(Robert) Pires telah melewati Fabio Cannavaro dan memberikan umpan kepada saya. Apa yang saya pikirkan adalah sangat sulit. Saya hanya menendang sekuat tenaga dan tidak menyangka itu menjadi gol,” ungkap Trezeguet.

Tendangan first time-nya menghujam sisi kanan gawang Italia yang dikawal Francesco Toldo. Gol tersebut membuat harapan Italia untuk berjaya pupus. Gol tersebut pula yang mengantar Perancis sebagai juara Piala Eropa, sekaligus menyandingkan dengan trofi Piala Dunia 1998.

Nama Trezeguet pun dielu-elukan oleh segenap masyarakat Prancis. Karena momen tersebut pula, Juventus mengeluarkan mahar begitu besar untuk meminang Trezeguet dari AS Monaco: 23 juta euro.

Piala Dunia 2006

Enam tahun berselang setelah malam gemilang di Rotterdam, Prancis kembali bertemu dengan Italia. Kali ini dalam gelaran yang lebih besar: Piala Dunia. Dalam partai final yang dihelat di Berlin, Jerman, Prancis seperti mengalami de javu, seperti Piala Eropa 2000.

Pertandingan berakhir 1-1 dan harus dilanjutkan lewat babak tambahan waktu. Bukankah itu cukup untuk mengingat lagi kejadian enam tahun sebelumnya?

Rupanya, tambahan waktu 2x15 menit tak membawa perubahan. Namun, skuad Prancis masih percaya bahwa keberuntungan di Piala Eropa 2000 tak akan terlalu jauh dari mereka pada malam itu. Maka, ketika pertandingan terpaksa harus diteruskan ke babak adu penalti, Prancis menugaskan Wiltord dan Trezeguet sebagai dua eksekutor pertama. Mereka berdua adalah aktor yang sama yang memberikan mimpi buruk pada tim Azzuri enam tahun sebelumnya.

Dalam adegan lambat, de javu itu kian nyata. Trezeguet menempatkan bola ke sisi kanan atas gawang Italia. Arah tendangan tersebut sama persis ketika ia menaklukan Toldo enam tahun lalu. Sebelumnya, Wiltord sebagai penendang pertama juga berhasil menyarangkan bola.

Malang tak dapat ditolak. Meskipun  Gianluigi Buffon sudah mati langkah, bola tendangan Trezeguet membentur tiang. Sialnya, itu merupakan satu-satunya penalti yang gagal dieksekusi. Prancis gagal menjadi juara.

Pahlawan yang Gagal

Takdir dan perjalanan hidup seseorang tak pernah bisa lepas dari pengaruh masa lalu. Malam di Berlin tak sama dengan malam di Rotterdam, tapi mirip dengan malam di Manchester.

Suatu malam di Stadion Old Trafford, Manchester, Trezeguet menjadi awal kegagalan Trezeguet sebagai pahlawan. Partai final Liga Champions antara Juventus menghadapi AC Milan disaksikan lebih dari 60 ribu penonton.

Sepanjang 120 menit yang membosankan, tidak ada gol yang tercipta. Pertandingan mesti dilanjutkan dengan adu penalti.

Trezeguet ditempatkan sebagai penendang pertama, Trezege gagal. Berhari-hari setelah pertandingan tersebut, Trezege mengatakan itu adalah peristiwa yang sangat ia sesalkan dalam karirnya sebagai pesepakbola.

“Apakah saya begitu saja melupakan final Piala Dunia 2006? Cepat atau lambat, sepakbola seakan memaksa kita melakukan pembalasan,”  kata Trezeguet. Pernyataan tersebut seolah meyakini bahwa kejadian yang dialaminya adalah pengaruh dari masa lalu, dalam hal ini final di Manchester.

Usai final Piala Dunia, tidak ada lagi yang memberi pujaan bagi Trezegol. Malah, suara sumbang memojokkan sosok kelahiran 15 Oktober 1977 tersebut. Trezeguet menjadi pesakitan. Semua mengkambinghitamkan David Trezeguet, bahkan Raymond Domenech tak mau lagi menyertakan david trezeguet di skuad Prancis di Piala Eropa 2008.

Saya teringat ungkapan satir dalam sepak bola bahwa tak ada tempat untuk orang yang gagal di waktu yang tepat, barangkali itu ungkapan yang paling tepat untuk seorang David Trezeguet ketika itu.

Sumber gambar: lefigaro.fr

Penulis adalah mahasiswa semester akhir di sebuah universitas swasta di Pamekasan. Beredar di dunia maya dengan akun twitter @fahmineck

Komentar