Northcutt dan Orang-orang yang Meniup Gelembung Ingatan

PanditSharing

by Pandit Sharing

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Northcutt dan Orang-orang yang Meniup Gelembung Ingatan

Oleh Tedi Kholiluddin

West Ham United dimasyhurkan pemain seperti Bobby Moore hingga Paolo Di Canio dan kemasyhuran itu diabadikan oleh – salah satunya-- John Northcutt.

Northcutt adalah salah seorang sejarawan West Ham. Dokumentasi pertandingan, statistik, line up pemain, dan berbagai perkara yang berkaitan dengan laga-laga The Hammers, julukan West Ham. Tidak kurang sudah 11 karya yang ditulis Northcutt tentang subjek ini. Di antaranya: West Ham United: An Illustrated History, West Ham: The Complete Record, West Ham United FC on This Day: Hammers History, Trivia, Facts and Stats from Every Day of the Year, The Claret and Blue Book of West Ham United: Hammers History, Trivia, Facts and Stats dan lain-lain.

Di situs kumb.com, sebuah media oneline tentang West Ham, ia mengasuh sebuah rubrik bernama “Ask the Expert…” Isinya tanya jawab seputar kesebelasan yang bermarkas di London ini. Pertanyaan, tentu saja jawabannya juga, di rubrik itu kebanyakan seputar sejarah WHU.

Tanggal 24 Agustus 2013, misalnya, seorang bernama Thomas Andrew bertanya tentang kiprah ayahnya, George Andrew, seorang pemain belakang di masa silam. Thomas nyaris putus asa karena tidak mendapatkan data akurat tentang berapa kali ayahnya bermain di sekitar tahun 1967.

Didukung dengan data yang lengkap, Northcutt tidak kesulitan menjawab pertanyaan Thomas. Kata Northcutt, George Andrew bermain dua kali sebagai pemain inti pada musim 1966-1967: (1) pada 11 Februari 1967 saat memainkan kandang melawan Sunderland yang berakhir 2-2 dan pada 25 Februari 1967 saat tandang ke markas Everton dan berakhir dengan kekalahan, 0-4.

Northcutt dengan senang hati mengirimkan kepada Thomas  susunan pemain pada dua pertandingan di mana George Andrew tampil sebagai pemain inti. Debut George di kesebelasan The Irons, julukan lain West Ham, saat itu tak lepas dari cederanya kapten Bobby Moore.

***

Perdebatan tentang lagu yang diidentikkan dengan West Ham, I’m Forever Blowing Bubbles, juga ditelaah oleh Northcutt.

Sebagaimana lazimnya sejarah, tafsir terhadap lagu tersebut juga melahirkan sejumlah perdebatan. Selain Northcutt, John Helliar serta John Simkin hadir dalam adu argumen ihwal lagu Bubbles. Nama terakhir, bahkan banyak mengkritik tulisan Northcutt soal sejarah Bubbles.

Dalam Soccer History edisi Spring 2005 Northcutt menulis “Why West Ham Fans Sing I’m Forever Blowing Bubbles.” Kata Northcutt, lagu ini ditulis pada 1919 di Amerika Serikat oleh sebuah grup komposer yang terdiri dari James Kendis, James Brockman dan Nat Vincent, nama asli Jaan Kenbrovin yang dipakai untuk pamflet pertunjukan.  Lirik kemudian ditambahkan oleh John William Kellette. Lagu ini dinyanyikan Miss Dorothy Ward yang membuat Bubbles semakin terkenal.

Bagaimana lagu “Bubbles” kemudian diasosiasikan dengan West Ham memang menjadi tema debat yang berlangsung bertahun-tahun. Teori yang populer, kata Northcutt, adalah hubungan antara lagu ini dengan iklan sabun dan seorang West Ham Boys. Ada lukisan karya Sir John Millais yang dibuat pada 1829, menurut Northcutt, yang kemudian digunakan sebagai materi poster iklan sabun. Lukisan itu memperlihatkan cucu Millais yang dengan mata penuh ketakjuban melihat gelembung sabun yang melayang di udara.

Ingatan tentang poster itu bangkit kembali di kalangan suporter West Ham saat mereka mempunyai pemain muda berbakat dengan wajah dan penampilan seperti sosok dalam lukisan Millais itu.

Di tahun 1920an, sekolah sepakbola sudah sangat popular. Setiap sabtu pagi, anak-anak usia 14 tahun bertanding di sebuah liga untuk sekolah sepakbola. Lalu ada pemenang di setiap akhir liga. Salah satu yang kerap jadi juara adalah Park School. Kepala sekolahnya, Cornelius Beal, seorang penggila bola sekaligus teman pelatih dan manajer West Ham, Charlie Paynter. Di tim Park School ada seorang anak berambut pirang bernama Billy Murray. Northcutt kemudian mengatakan bahwa nama “Bubbles” disematkan di tengah-tengah nama Murray karena wajahnyna mirip dengan anak di lukisan Millais.

Versi Northcutt ini dibantah John Simkin. Ia bilang  lukisan itu dibuat pada 1886, bukan 1829.  Tak hanya itu, Simkin juga bilang bahwa foto Murray di tahun 1921 sama sekali tidak mirip dengan anak di lukisan Millais. Murray sudah remaja, sementara bocah di lukisan Millais itu baru berumur 5 tahunan.

Nama “Bubbles” Murray menjadi familiar saat ia membawa West Ham Boys memenangkan trofi setelah mengalahkan Liverpool Boys di tahun 1921. Raja George VI saat itu hadir di antara 30 ribuan penonton yang menonton di Boley Ground. Sebelum dan pada interval pertandingan, band pekerja perusahaan Gas Beckton memainkan lagu “Bubbles” dan ini berlangsung hingga tahun 1970an. Ini yang memantik para suporter West Ham untuk bersama-sama menyanyikan lagu Bubbles.

Versi lain soal kaitan Forever Blowing Bubbles dan West Ham terdapat pada kisah kedekatan klub dengan Swansea Town.

Antara 1920 hingga 1926, fans Swansea kerap menyanyikan Bubbles di setiap pertandingan kandangnya. Pada 1925, West Ham bertanding tiga kali dengan Swansea di FA Cup. Mereka kemudian mengadopsi Bubbles dari fans Swansea. Mereka kemudian bernyanyi bersama.

Kisah yang berbeda dikutip Northcutt dari Brian Belton, sejarawan West Ham lainnya. Menurut Belton, selama Perang Dunia II, Bubbles adalah lagu yang dinyanyikan banyak orang saat mereka berkumpul di East End London, tempat bersembunyi dari serangan udara. Ini menjelaskan kenapa Bubbles menjadi lagu sepakbola di kawasan East End yang sebagian besar memang pendukung West Ham.

Lagu Bubbles terdengar nyaring saat final League War Cup pada 1940 di Wembley. Saat itu, West Ham keluar sebagai pemenang dan di sinilah, menurut Belton, Bubbles menjadi lagu tema kesebelasan yang berdiri pada 1895 ini.

***

Northcutt, pria yang lahir di Leicester ini, menghabiskan masa mudanya di London Selatan. Pertandingan pertama The Hammers yang ia saksikan adalah ketika West Ham mengalahkan West Bromwich Albion pada 1959. Setelah meninggalkan sekolah ia mengikuti tim kandang dan tandang, dari Southampton ke Sunderland, bahkan ke Eropa.

Saat The Academy, julukan lain West Ham, menjuarai Piala FA pada 1964, John juga berada di sana. Termasuk saat West Ham merebut Piala Winners di Wembley setelah mengalahkan TSV Munich 1965.

Jelas ia seorang penggemar West Ham untuk sepanjang hidupnya, sejak kecil sampai sekarang, hingga di masa-masa mendatang ketika ia harus menonton sepakbola di surga. Cinta kepada West Ham itulah yang membuatnya tak pernah kekurangan daya untuk terus mengumpulkan dokumentasi dan menelaah sejarah West Ham.

Karya akademik yang berkaitan dengan West Ham selalu menyertakan nama Northcutt. Selain sebagai penulis, ia juga sering menjadi co-author. Peran sentralnya terasa tidak hanya dalam aspek pendokumentasia data. Northcutt juga menjadi penasihat klub, termasuk untuk pengembangan akademinya. Sejarah klub pekerja galangan kapal “Thames Ironworks” tak lengkap rasanya jika menafikan nama Northcutt.

Peran para pengabadi sejarah sebuah kesebelasan memang sangat penting. Tentu saja, karena sepakbola tak semata 90 menit pertandingan di lapangan hijau. Sepakbola tak melulu soal pemain hebat dan pendukung fanatik. Atau manajer jenius dan pemilik kaya raya.

Sebuah kesebelasan juga perlu sentuhan para pemikir, sejarawan, sosiolog, sastrawan, pelukis dan desainer, sineas, musisi dan lain-lainnya. Agar denyut nadi dan denyar jiwa kesebelasan tersebut bisa terus ditransmutasikan kepada para penggemar di zaman-zaman selanjutnya, merekalah yang melakukannya melalui sajak, novel, lagu, film dan karya-karya grafis.

Masyarakat sepakbola di Eropa khususnya, merasakan betapa pentingnya peran mereka. Sehingga selalu ada orang seperti Northcutt di setiap kesebelasan .

Inilah ruang yang, menurut saya, masih jarang ditemukan di jagad persepakbolaan kita – walau belakangan terlihat ada perkembangan yang menjanjikan. Ada buku Persib Undercover, dokumentasi milik Novan Herviyana, kerja intelektual nan bergairah dari Dimaz Maulana untuk mengumpulkan dokumentasi PSIM Yogyakarta, hingga yang dilakukan Gerry Putra untuk sejarah Persija Jakarta.

Ada secercah harapan dalam soal merawat ingatan sejarah sepakbola Indonesia.

Kepada merekalah ingatan dan asal usul kesebelasan-kesebelasan lokal yang kita cintai tidak akan menjadi segenang air yang makin lama akan memuai dihisap atmosfir dan waktu. Merekalah yang akan memastikan ingatan-ingatan tentang kesebelasan yang kita cintai itu sesekali akan menggelembung seperti balon-balon udara yang ditiup. Dan di momen seperti itu kita akan menjadi tak ubahnya bocah dalam lukisan Millais yang dengan penuh takjub melihat gelembung-gelembung udara itu....

============

*Tedi Kholiluddin, pegiat masalah sosial dan agama. Menikmati tarkam sebagai kompetisi sepakbola yang sesungguhnya. Kerap “terjebak” menonton koreografi supporter ketimbang pertandingan di lapangan. Saat ini menetap di Ngaliyan, Kota Semarang. Akun Twitter: @tedikholiludin

Komentar