Pledoi untuk Lord Atep

PanditSharing

by Pandit Sharing

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Pledoi untuk Lord Atep

Oleh Ali Buschen

Banyak bobotoh yang hobi membuat satir soal Atep. Lord Atep, sebuah sindiran mengekor apa yang dilakukan fans sepakbola luar kepada Nicklas Bendtner. Agak menyedihkan sebenarnya jika membandingkan gelar untuk Atep dan Bendtner.

Bendtner seorang pemain yang memiliki potensi bagus ketika masih mudanya. Dilatih seorang manajer bergelar Professor dan memiliki rekam jejak yang ciamik dalam mengorbitkan pemain muda, Bendtner seperti punya masa depan cerah.

Di kemudian hari, ketika potensi itu tak kunjung menjadi kenyataan, Bendtner mulai banyak ulah. Ia sempat nekat mengklaim dirinya akan pindah dari Arsenal, yang tak kunjung mendapat tropi, ke Real Madrid atau Barcelona. Klaim lain dari seorang Bendtner adalah dia selevel Lionel Messi, sebagai pemain terbaik dunia.

Karena omongan-omongan itulah, yang tidak dibarengi dengan kinerja apik kala menjadi ban serep Van Persie, Bendtner mulai mendapat gelar Lord Bendtner dari  para Gooners. Karena dia adalah pemain terbaik di dunia (bagi dirinya sendiri).

Baca cerita lengkap tentang Lord Bentner di sini

Ribuan kilometer jauhnya dari London, di Bandung, seorang Atep mendapatkan beban berat karena diserahi ban kapten Persib dari Maman Abdurahman. Nama kedua tertekan betul karena gagal menampilkan permainan sesuai ekspektasi bobotoh. Saking tertekannya dikritik terus oleh bobotoh, beberapa bahkan mencemooh, Maman akhirnya menyerahkan ban kapten kepada Mang Djanur. "I quit!"

Jaman itu, hanya ada sedikit pemain yang bisa dibilang senior untuk menggantikan Maman menjadi kapten Persib. Jika soal senioritas dihitung oleh lama waktu bermain di Persib, maka paling depan adalah Atep, Hariono, Cecep Supriatna dan Airlangga dengan 5 tahun masa pengabdian. Dua nama terakhir pergi di akhir musim itu. Maman mengabdi 4 tahun, tapi dia orang yang mundur dari pos kapten. Abanda Herman dan M Agung (3 tahun), Jajang Sukmara dan Tony Sucipto (2 tahun) masih kurang senior. Sisa pemain di skuad adalah pemain yang baru masuk.

Jika senioritas urusannya dengan kharisma, maka yang paling berkharisma saat itu selain Atep adalah Mas Har dan Bang Utina yang baru datang dari Sriwijaya FC. Mas Har terlalu pendiam untuk dijadikan seorang kapten.

Pun haqul yaqin, Mas Har menolak saat dijadikan kandidat kapten. Menyisakan Atep dan Bang Utina. Musim lalu, Hariono sempat mengenakan kapten saat laga melawan Persita Tangerang. Ban kapten itu diserahkan begitu saja oleh Firman Utina yang diganti oleh pemain lain. Hariono seperti tak kuasa menolak. Hasilnya: pemain didikan Persida Sidoarjo itu malah menerima kartu kuning kedua dan harus keluar lapangan karena diusir wasit.

Firman Utina pada akhirnya menjadi deputi kapten Persib. Walau, harus diakui, Firman yang lebih sering jadi kapten musim lalu, karena lebih sering menjadi starter ketimbang Atep.

Atep baru saja menyelesaikan musim terbaiknya. Musim 2011/2012 dirinya bermain juoss bingits dan musim 2013 itu dia berani menargetkan 12 gol! Melihat grafik permainannya sejak masuk Persib, target tersebut dirasa realistis. Kata Atep soal pengkaptenannya:

“Kalau masalah beban, pasti setiap pekerjaan mempunyai beban masing-masing. Tapi saya tidak merasa terbebani, karena saya tidak menanggung sendiri, ada teman-teman di lapangan yang membantu saya. Di sana juga ada senior saya, yang telah berpengalaman. Kalau ada salah pasti mereka membantu.”

Menjadi seorang Kapten Persib adalah pekerjaan yang luar biasa berat. Maman bukanlah korban pertama. Setelah Adeng Hudaya dan Robby Darwis, yang lama memegang peran penting itu, kapten persib berpindah dengan relatif cepat dari satu pemain ke pemain lainnya. Nandang Kurnaedi, Dadang Hidayat, Suwitha Patha, Eka Ramdani, Maman Abdurahman dan Atep.

Bobotoh adalah tipikal pendukung yang tak pernah segan mengkritik pemain jika permainan persib jadi butut karenanya. Jika kritik tak mempan, biasanya cemoohan adalah level berikutnya. Jangan bilang mereka tidak loyal, toh sambil ngomel-ngomel melihat permainan Persib yang butut, bobotoh tetap datang ke stadion.

Sejak memulai musim 2013 dan menjadi kapten permainan Atep berubah drastis. Gaya Atep semakin keronaldo-ronaldoan. Gocekannya tidak lagi ampuh melewati lawan. Operannya tidak lagi sampai kepada teman. Namun, Atep tetap bebal dengan terus berusaha menggocek melewati sebanyak mungkin lawan. Dipasang di sayap kiri, hobi Atep adalah memotong ke tengah lalu berusaha mencetak gol sendirian. Inverted winger.

Target 12 gol dalam semusim memudar seiring kritik deras kepada Atep. Sampai akhir musim, Atep hanya bisa mencetak sebiji gol. Agak tragis.

Menjadi soal karena permainan Atep sangat mempengaruhi permainan Persib. Bermain butut di sisi kiri, menjadikan pola persib berat sebelah ke kanan. Dengan permainan seperti begitu, keronaldo-ronaldoan tidak efektif, Atep memainkan 33 pertandingan dalam semusim!

Ini masalah kedalaman skuad Persib. Djanur merasa tak ada pemain lain di bangku cadangan yang cukup bisa menggantikan posisi Atep. Lagi pula, mengganti pola untuk mengakomodir pembangkucadangan Atep agar persib bermain lebih seimbang kiri-kanan bukanlah opsi. Toh, dengan hanya mengandalkan poros kanan saja Persib masih bisa menang. Ditambah Sergio bermain luar biasa ganas sebagai tukang gedor.

Musim lalu, masih dengan gaya ronaldo-ronaldoan, Atep bisa menyamai rekor 6 gol miliknya. Tak lain hal itu karena sering duduk di bangku cadangan melihat Tantan atau Ferdinand bermain di posisinya. Juga melihat bagaimana Bang Utina mengenakan ban kapten memimpin Persib.

Setiap ada kesempatan masuk ke lapangan, walau kadang masih muncul sesekali gaya sakumaha aing, terlihat Atep lebih tenang dan mau berusaha lebih. Atep masih memiliki motivasi untuk bisa bermain baik membela Persib.

Puji Tuhan, Atep bermain lebih baik. Saat Ridwan harus absen di fase krusial Babak 8 Besar karena harus pergi menunaikan ibadah haji, Atep bermain baik di fase itu. Mencetak gol dan membuat asist. Golnya ke gawang Arema, setelah menerima umpan terobosan dari Konate, akan dikenang sebagai salah satu gol paling meledakkan adrenaline dalam ingatan bobotoh.

Di awal musim ini Atep berkata mau berubah.

“Mungkin belajar dari pengalaman sebelumnya dan kalau alur serangan kita berat ke kanan jadi tidak efektif. Saya dari 2 musim kemarin lebih banyak masuk ke tengah jadi ruang gerak pun sempit. Kalau sekarang lebih banyak buka ruang ke sayap seperti waktu kemarin di Padang dan hasilnya lebih banyak dapat bola. Switch play juga akhirnya jadi lebih berjalan,”

Perkara dia benar-benar berubah atau tidak adalah urusan nanti di akhir musim, untuk saat ini niat tersebut sudah selayaknya mendapat apresiasi dari bobotoh.

Maka, yang menjadi dasar pemberian gelar kebangsawanan Atep dan Bendtner adalah dua hal yang berbeda. Atep tidak pernah banyak omong. Tidak pernah ngartis. Semua komentarnya di media seringkali ungkapan diplomatis.

Jika gelar Lord diberikan sebagai sebuah satir karena ketidaksukaan, sebuah cemoohan, maka hanya ada satu hal yang pantas dicemooh dari seorang Atep. Gaya keronaldo-ronaldoannya yang sering merugikan permainan Persib. Dilihat dari segi kesenioran, loyalitas, dan sima  Atep adalah seorang yang memang pantas menjabat sebagai kapten Persib.

Kata Adjat Sudrajat, dan ini sering dikutip para bobotoh: “Persib besar oleh cacian, pujian adalah racun.”



 

">March 11, 2015

Dikirim oleh: Ali Buschen, warga Awiligar, bekerja di lepas pantai Selat Malaka, pernah membawa kesebelasan SD RT 03 menjadi juara turnamen tujuhbelasan. http://twitter.com/alibuschen" target="_blank">@alibuschen
foto: simamaung.com

Komentar