Politikus yang Menjadi Pesepakbola Terbaik

Backpass

by Rio Pangestu

Rio Pangestu

Pembaca yang menulis.

Politikus yang Menjadi Pesepakbola Terbaik

Romario, Kakha Kaladze, George Weah, dan Sol Campbell adalah beberapa contoh bekas pesepakbola yang kemudian berkarier di dunia politik. Romario mulai berkarier di dunia politik saat terpilih menjadi anggota dewan Rio de Janeiro pada 2014. Kaladze merupakan anggota dari partai politik bernama Georgian Dream-Democratic. Weah terpilih sebagai Presiden Liberia pada 2018. Sementara Sol Campbell yang bergabung dengan Partai Konservatif Inggris pernah mencalonkan diri untuk maju sebagai Walikota London pada 2015.

Selain beberapa nama yang disebutkan itu, ada banyak eks pesepakbola lain yang juga merambah ke dunia politik setelah menyelesaikan tugas mereka di dunia sepakbola. Fenomena seperti ini cukup umum terjadi.

Yang jarang terjadi adalah fenomena politikus yang menjadi pesepakbola. Jarang terjadi bukan berarti fenomena tersebut tidak ada sama sekali. Di Bulgaria, hal ini terjadi ketika Boyko Metodiev Borisov—yang menjabat sebagai Perdana Menteri Bugaria sejak 2009—bergabung dengan klub Vitosha Bistritsa yang berkompetisi di liga amatir Bulgaria pada 2011.

Hal ini tidak terlepas dari ketertarikan besar Borisov pada olahraga. Sebelum menjadi Perdana Menteri, pria yang lahir pada 13 Juni 1959 tersebut merupakan atlet karate yang berhasil meraih sabuk hitam. Borisov juga sempat melatih Tim Nasional Karate Bulgaria dan menjadi Ketua Asosiasi Karate Bulgaria.

Sepanjang kiprahnya menyambi sebagai pesepakbola, ada satu peristiwa menarik yang agaknya akan selalu diingat oleh Borisov, yakni ketika dirinya—di usia yang sudah menginjak 52 tahun—sempat terpilih sebagai pesepakbola terbaik Bulgaria tahun 2011.

Terpilihnya Borisov tentu tidak disertai dengan pertimbangan serius yang mendasarinya. Hal tersebut merupakan sindirian dari masyarakat Bulgaria terhadap bobroknya prestasi Tim Nasional Bulgaria di ajang kualifikasi Piala Eropa 2012.

Dari total 8 pertandingan yang dimainkan Bulgaria di kualifikasi Piala Eropa 2012, mereka hanya mampu mengumpulkan 5 poin. Alhasil Bulgaria terdampar di posisi juru kunci grup G. Mereka kembali gagal lolos ke Piala Eropa setelah terakhir kali berpartisipasi di edisi Portugal 2004.

Media dan para suporter kemudian gencar melancarkan kritik kepada Timnas Bulgaria. Semua itu menemukan puncaknya pada Desember 2011 ketika sang Perdana Menteri dipilih sebagai pesepakbola terbaik Bulgaria.

Perolehan suara yang didapatkan oleh Borisov, bahkan lebih banyak dari striker masyhur Bulgaria, Dimitar Berbatov, yang telah memenangi penghargaan tersebut sebanyak 7 kali dengan 4 di antaranya diraih secara berturut-turut sejak 2007. Selayaknya Berbatov bisa dengan mudah meraih yang kelima mengingat performanya bersama Manchester United di musim 2010/11 sangatlah baik. Berbatov mencetak total 20 gol dan membawa United menjuarai Liga Primer Ingggris.

Walau dipilih sebagai pesepakbola terbaik, tak tampak sedikit pun raut kebahagiaan yang terpancar dari wajah Borisov. Sebaliknya, ia sangat kecewa dengan putusan tersebut. Borisov sadar betul bahwa ini merupakan bentuk sindiran dari masyarakat Bulgaria atas kegagalan Tim Nasional Bulgaria untuk lolos ke Piala Eropa 2012.

“Ini adalah suara protes,” ungkap Borisov kepada BBC. “Ini adalah pertanda bahwa sepakbola Bulgaria perlu direformasi dan diberikan kebijakan baru. Panitia harus menganulir hasil perolehan suara itu.”

Panitia mengabulkan permintaan Borisov. Penghargaan lantas diberikan kepada penjaga gawang Nikolay Mihaylov.

Setelah peristiwa tersebut, Borisov turut aktif dalam melakukan berbagai pembenahan sepakbola Bulgaria. Pengembangan sepakbola usia muda menjadi salah satu hal yang sangat diperhatikannya.

Yang teranyar, Borisov melakukan pertemuan dengan Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, pada Desember 2017. Mereka membahas tentang pentingnya pembangunan fasilitas olahraga untuk mendorong perkembangan sepakbola usia muda di Bulgaria.

Komentar