Tajam di Dalam dan Luar Lapangan

Backpass

by Rio Pangestu

Rio Pangestu

Pembaca yang menulis.

Tajam di Dalam dan Luar Lapangan

“Wilf Mannion adalah seorang Mozart sepakbola di Middlesbrough. Ia penuh dengan gaya, lembut, santun, dan sangat cakap saat menguasai bola.” Pujian setinggi langit itu keluar dari mulut legenda besar sepakbola Inggris, Stanley Matthews.

Sebagai pemain depan, postur Mannion sebenarnya kurang ideal. Akan tetapi ia punya kelebihan dalam hal kontrol, kecepatan, dan ketajaman di mulut gawang. Ketika bola sudah dalam penguasaannya, Mannion bisa dengan mudah mengobrak-abrik pertahanan lawan.

Dalam 18 tahun masa baktinya untuk Middlesbrough (1936-1954), Mannion total membukukan 110 gol dari 368 laga yang dimainkannya.

Akan tetapi Mannion tidak hanya tajam di dalam lapangan. Di luar lapangan pun ia sangat tajam dalam hal melakukan perlawanan terhadap segala sesuatu yang ia anggap salah dan tak adil. Middlesbrough, klub yang begitu mencintainya, pernah menjadi sasaran perlawanan yang digencarkan Mannion.

Saat itu tahun 1948. Mannion yang berusia 30 tahun tengah menikmati puncak karier sepakbolanya. Selain semakin diandalkan Middlesbrough, ia juga menjadi andalan di Timnas Inggris.

Middlesbrough jelas memanjakannya dengan gaji serta fasilitas yang terbilang mewah pada saat itu. Akan tetapi Mannion sadar bahwa semua yang diperolehnya itu hanyalah siasat dari Middlesbrough, agar ia bertahan di sana selama mungkin—tak peduli walau kontraknya bersama Middlesbrough sebenarnya sudah habis, dan ia sebetulnya sudah berhasrat untuk hengkang. Aturan yang berlaku saat itu pun masih membolehkan sebuah klub untuk mempertahankan seorang pemain di luar masa kontraknya.

Bagi Mannion, ini semua tak ubahnya perbudakan. Klub bisa begitu mengekang pemainnya.

“Aku melawan perbudakan dalam sepakbola seperti ini. Bahkan bergabung bersama militer tampaknya akan lebih menjanjikan kebebasan daripada ini,” ujarnya.

Mannion tak hanya melawan lewat retorika. Ia juga melakukan aksi nyata dengan mengancam akan tetap hengkang dari Middlesbrough menuju klub Divisi Ketiga, Oldham Athletic. Ia ingin bisa bermain sepakbola sembari menjalankan bisnisnya, yang mana kegiatan tersebut tak bisa ia lakukan di Middlesbrough.

Middlesbrough jelas tersentak dengan kabar ini. Sang manajer, David Jack, mengaku tak akan melepas Mannion andai ada sebuah klub yang menawarnya dengan harga 50.000 paun sekali pun. “Apa alasan kami untuk membiarkan seorang pemain terbaik di Inggris pergi?” ujarnya.

Mannion merespon pelarangan itu dengan melakukan mogok bermain pada 1948. Ia menolak menandatangani kontrak baru di Middlesbrough.

Selama Mannion absen, Middlesbrough terseok-seok menjalani kompetisi. The Boro sempat terdampar di peringkat keempat terbawah klasemen Divisi Utama Inggris.

Hingga akhirnya, setelah kasusnya semakin ramai diperbincangkan, Mannion bersedia untuk kembali ke Middlesbrough. Middlesbrough kembali membaik penampilannya. Mereka terselamatkan dari ancaman degradasi pada 1949.

Mannion lalu mengakhiri kebersamaannya dengan Middlesbrough pada akhir musim 1953/54. Sempat mengungkapkan hendak gantung sepatu, Mannion ternyata kembali ke lapangan hijau dengan bergabung bersama Hull City pada 1954.

Mannion lagi-lagi berulah saat membela Hull. Pada satu kesempatan ia menulis artikel di sejumlah surat kabar yang mengungkap tentang kasus suap dan upaya transfer illegal yang terjadi di sepakbola Inggris.

Federasi Sepakbola Inggris lalu mendesak Mannion untuk menjelaskan lebih spesifik perihal kasus tersebut. Mannion menolaknya. Akhirnya pada tanggal 6 Juni 1955, Federasi Sepakbola Inggris menjatuhkan larangan bermain akibat ulah kontroversialnya.

Karier Mannion tak jelas setelah itu. Ia sempat bergabung bersama sebuah klub non liga, sebelum akhirnya memutuskan pensiun. Mannion kemudian melanjutkan hidupnya sebagai buruh dan tinggal di perumahan rakyat.

Komentar