Hijau atau Mati!

Backpass

by Evans Edgar Simon

Evans Edgar Simon

Kontributor PanditFootball.com

Hijau atau Mati!

Manchester United boleh membusungkan dada karena menggunakan seragam hasil daur ulang sampah laut, tapi upaya mereka menjaga kelestarian lingkungan hanya sampah dibandingkan hijaunya Forest Green Rovers.

Rovers merupakan salah satu kesebelasan tertua di dunia. The Green Devils dibentuk oleh sekelompok anggota Non-komformis di Kota Nailsworth, Keresidenan Cluchestershire, pada 5 Juni 1889.

Jika Anda menganggap nama Forest Green Rovers asing, itu wajar. Musim 2017/18 adalah musim perdana mereka mencicipi League Two (divisi terbawah liga sepakbola profesional Inggris). Lebih dari satu abad sebelum itu Rovers hanya malang-melintang di sepakbola amatir dan semi-pro.

Rovers tidak punya banyak prestasi di atas lapangan hijau. Satu-satunya yang paling bisa dibanggakan barangkali hanya fakta bahwa Nailsworth adalah kota dengan jumlah penduduk paling sedikit (sekitar 5.800 orang) yang pernah berpartisipasi di sistem sepakbola profesional Inggris. Namun, untuk urusan inovasi dan kesadaran akan kelestarian lingkungan, kedudukan mereka jauh lebih tinggi dari klub-klub ternama Eropa favorit kalian.

Markas Rovers, Stadion New Lawn, menggunakan rumput organik. Rumput tersebut dirawat dengan pemotong rumput bertenaga surya dan air daur ulang. Mereka juga memiliki 170 panel surya di atap stadion untuk meminimalisir emisi karbon. Mereka bahkan mendorong para pemain untuk menggunakan kendaraan listrik. Berkat hal tersebut, Rovers mendapatkan banyak penghargaan terkait program/bisnis ramah lingkungan.

Meski nama klub sejatinya sudah sangat berunsur alam, status mereka sebagai klub ramah lingkungan baru dirintis ketika pengusaha bernama Dale Vince menyelamatkan Rovers dari kebangkrutan pada 2010. Setelah menjadi pemilik saham terbesar, ia menerapkan ide tersebut secara perlahan. Kebetulan, Vince memang memiliki perusahaan energi ramah lingkungan bernama Ecotricity.

“Semua berawal dari membantu keuangan klub, kemudian saya menyadari bahwa klub ternyata membutuhkan lebih banyak uang. Ini adalah soal ‘terlibat sepenuhnya, menyelamatkan, dan membangun kembali’ atau ‘pergi dan melihatnya hancur’. Jadi, kami (manajemen klub) memutuskan untuk totalitas,” kata Vince kepada CNN.

Selain peduli soal energi, Rovers juga merupakan satu-satunya kesebelasan profesional di dunia yang sepenuhnya vegan sejak pengujung 2015. Mereka hanya menjual makanan dan minuman yang mengandung zat-zat nabati.

Kebijakan tersebut menuai pro-kontra, apalagi orang-orang Inggris memang sangat gemar minum teh dicampur susu sapi. Namun, lebih banyak suporter yang menyatakan dukungan.

Vince menegaskan bahwa tema “Back to Nature” ini bukan aksi publikasi semata. Ia merasa memiliki tanggung jawab moral sebagai seorang pencinta lingkungan dan vegan.

"Utamanya, ini adalah soal mengubah cara klub bekerja dan menarik audiens yang berbeda ke sepakbola. Makanan yang kami sediakan sebenarnya berharga lebih mahal, tetapi kami tetap menjual dengan harga yang sama (seperti daging)," jelas dirinya kepada BBC.

Menu-menu vegan tidak hanya dijual ketika pertandingan. Klub membuka jasa katering dan berhasil mendapatkan penghargaan Menu Terbaik versi Sport and Leisure Catering Magazine pada 2016. Terlebih lagi, 50% bahan makanan di dapur Rovers berasal dari perkebunan setempat, membantu keberlangsungan hidup komunitas dan memangkas emisi karbon dari proses transportasi hasil kebun.

Kalau begitu, apakah vegan merupakan syarat utama bagi klub untuk merekrut pemain dan staf? Tidak juga. Klub hanya membatasi mereka ketika bekerja, tetapi tidak di luar itu.

Cita-cita besar Vince ada dua: membawa Forest lolos ke Championship dan membangun stadion baru yang sepenuhnya terbuat dari kayu!

Untuk hal yang disebutkan terakhir, klub memilih Zaha hadid Architects (ZHA) sebagai desainer. Sebagai informasi, ZHA adalah otak di balik pembangunan London Aquatics Center untuk Olimpiade 2012. Mereka juga akan membangun salah satu stadion di Qatar untuk Piala Dunia 2022.

Vince mengakui bahwa sepakbola dan isu lingkungan sebenarnya tidak akrab-akrab amat. Namun, justru situasi itu sendiri yang membuat Forest bisa terus melangkah maju.

“Kami telah mencapai titik yang sangat jauh dibandingkan tipikal-tipikal klub di League Two. FIFA menyebut kami sebagai klub paling ‘hijau’ di dunia. Kami menyukainya,” kata pria yang sempat menjadi pembicara dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB tersebut.

Ya, Vince. Rasa-rasanya, Forest memang akan menjadi tipikal klub yang mudah disukai oleh pecinta sepakbola di masa mendatang.

Komentar