Tercipta di Rotterdam, Abadi di Villa Park

Backpass

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Tercipta di Rotterdam, Abadi di Villa Park

Pada 26 Mei 1982 Aston Villa menapak final European Cup (sekarang Liga Champions) di Rotterdam sebagai kuda hitam. Lawan mereka Bayern München. Saat itu Bayern diperkuat Klaus Augenthaler, Paul Breitner, dan peraih dua penghargaan European Footballer of the Year, Karl-Heinz Rummenigge.

“Jika kami melihat susunan pemain Bayern dan melihat satu-satu pemain, kami gak ada apa-apanya. Jadi, kami gak lihat,” kenang Peter Withe, pemain Villa saat itu. “Bayern punya 13 [pemain] internasional. Kami hanya punya 2. Bayern mungkin mengira kami tak lebih dari turis-turis yang datang menonton ke Rotterdam.”

Banyak turis dari Jerman dan Inggris datang saat itu. Tambahan penonton lokal asal Belanda membuat Feijenoord Stadium dipadati 46 ribu penonton.

Di luar stadion, orang-orang Belanda lebih ramah ketika bertemu orang Inggris dibandingkan Jerman. “Pelayan bar di Rotterdam memberiku minuman gratis. Ia bilang ia menagih biaya dobel untuk orang-orang Jerman,” kenang Mick Bodd, seorang suporter Villa.

“Aku menikmati atmosfer sebelum pertandingan, tak ada ekspektasi untuk sesuatu yang lebih baik ketika peluit panjang,” lanjutnya seolah Villa pasti dilumat Bayern.

Ketika hampir semua orang pesimis, Dave Horridge dari Daily Mirror mencoba anti-mainstream: “Aku bisa melihat Villa mengais kemenangan melalui sebuah gol ganjil.”

Prediksi Horridge menjadi kenyataan. Banyak yang menganggap pahlawan Villa saat itu adalah penjaga gawang berusia 23 tahun yang sebelumnya tak diketahui banyak orang, Nigel Spink.

Sebelum final, Spink hanya kiper pengganti yang baru sekali bermain, di boxing day 1979. Kiper utama Villa saat itu, Jimmy Rimmer, mengalami cedera leher saat latihan sehari sebelumnya. Rimmer mencoba bermain tapi tak bisa menahan rasa sakit sehingga harus diganti di menit ke-9. Masuklah Spink.

Spink beraksi dengan menyelamatkan tendangan-tendangan Bernd Dürnberger. Sekalinya ia membiarkan bola lolos ke gawang, ada Allan Evans yang menjadi penyelamat melalui sapuan sundulan di depan gawang.

Salah satu momen yang mendebarkan bagi Spink dan para pendukung Villa adalah saat salto Rummenigge yang juga berhasil mengelabui Spink. Tendangan Rummenigge meleset.

Momen yang ditunggu akhirnya datang pada menit ke-67. Villa tak banyak menciptakan peluang, tapi satu peluang itu berawal dari Gary Shaw yang mengirimkan bola ke sisi kiri kepada Tony Morley. Morley mengecoh Hans Weiner, kemudian mengumpan ke Withe, di tengah lumpur, yang mencetak gol dengan satu sentuhan tak sempurna.

“Bolanya sempat terkena gundukan dan berhenti. Aku menendangnya setengah dengan kakiku dan setengah lagi dengan tulang keringku,” kenang Withe, yang pernah melatih Tim Nasional Indonesia pada 2004 sampai 2007.

Menjelang akhir pertandingan, Bayern sempat mencetak gol melalui Dieter Hoeneß. Namun gol tersebut dianulir karena offside.

Peluit panjang dibunyikan. Villa menang 1-0. Para pemain dan pendukung Villa tak percaya mereka berhasil menjadi juara Eropa. “Aku tak pernah melihat sekumpulan pemain merasa hancur lebur. Aku menghampiri Breitner untuk bersalaman tapi ia hanya duduk di lapangan menganggukan kepala,” kenang Withe.

“Rummenigge adalah satu-satunya yang terlihat menerima apa yang terjadi. Pers Jerman tak bisa mempercayainya. Pers Inggris juga gak percaya, sih.”

Gol Withe tersebut diabadikan di tribun utara Villa Park, dengan tulisan yang menggambarkan suara komentator Brian Moore saat gol itu: “Shaw, Williams, prepared to venture down the left. There’s a good ball played in for Tony Morley. Oh, it must be! And it is! Peter Withe!

Komentar