Pesta-pesta Magdeburg

Backpass

by Evans Edgar Simon

Evans Edgar Simon

Kontributor PanditFootball.com

Pesta-pesta Magdeburg

Dalam konteks tertentu, tidak ada yang lebih menyenangkan ketimbang berpesta. Salah satu konteks yang tepat adalah untuk merayakan keberhasilan. Misalnya: meraih tiket promosi otomatis ke Bundesliga 2, seperti yang dilakukan oleh Magdeburg FC pada Minggu (6/5) kemarin.

Sejak pukul 11.00 waktu setempat, ribuan orang telah memadati jalanan Magdeburg. Mereka berbondong-bondong berjalan dari kawasan Alter Markt menuju Balai Kota.

Sekitar pukul 14.30, muka-muka yang disebut sebagai pahlawan menampakkan diri di balkon Balai Kota. Bersama ribuan suporter yang hadir, para pemain Magdeburg itu berpesta. Sebelumnya, mereka sempat mencatatkan nama di Buku Emas pemerintah kota terlebih dahulu.

Untuk diketahui, menuliskan tinta di Buku Emas Kota Magdeburg bukanlah hal sembarangan. Hanya mereka yang dianggap penting oleh warga setempat yang boleh mencatatkan namanya di buku yang pertama kali dibuat pada 1931 itu.

Wajar jika skuat asuhan pelatih kepala Jens Härtel ingin berpesta bersama para fans secara besar-besaran. Getir tak terperi pernah dirasakan para suporter Magdeburg ketika klub mereka dinyatakan bangkrut pada 2002.

Kenangan 16 tahun lalu itu masih begitu membekas di ingatan keluarga besar Magdeburg, terutama bagi sekitar 30 ribu suporter yang menjadi saksi kemenangan historis atas klub raksasa FC Bayern München pada babak 16 besar DFB-Pokal di Ernst-Grube-Stadion setahun sebelumnya.

Musim 2001/02 memang cukup berkesan bagi Magdeburg. Jika di DFB-Pokal mereka berhasil mengalahkan klub-klub ternama macam Bayern dan FC Köln, di NOFV-Oberliga (divisi empat sepakbola Jerman) mereka keluar sebagai juara wilayah selatan dengan mencetak total 120 gol dalam 34 laga. Pada babak play-off, Magdeburg mengalahkan BFC Dynamo dan berhak promosi ke Regionalliga.

Yang tidak diketahui para suporter adalah: Magdeburg tengah menghadapi krisis ekonomi. Mereka membutuhkan minimal enam juta mark sebagai jaminan berkompetisi. Dalam dua hari, para fans mampu mengumpulkan lebih dari satu juta mark dalam penggalangan dana. Dua bank lokal pun akhirnya tergerak untuk membiayai sisa kebutuhan.

Magdeburg sempat bertahan semusim di Divisi Tiga hingga akhirnya harus gulung tikar dan kembali terdegradasi ke divisi empat.

Eksodus pemain tak terelakkan, kecuali Mario Kallnik yang memilih bertahan dalam kesendirian. Ia setia dengan Magdeburg hingga gantung sepatu pada 2008.

"Saya tidak ingin pindah (ketika itu). Saya melihat peluang bagi Magdeburg untuk membangun sesuatu," jelas Kallnik kepada Sportbuzzer.

Empat tahun setelah pensiun, Kallnik kembali ke klub sebagai CEO. Berkat tangan dinginnya, Magdeburg berhasil mendapatkan tiket promosi ke Bundesliga 2 yang telah dinantikan selama 27 tahun.

***

Pesta besar-besaran digelar hampir di seantero Jerman sepanjang November 1989. Tembok pemisah antara Timur dan Barat yang membentang di kota Berlin runtuh. Persatuan menjadi semangat yang berdengung di kaki langit.

Hampir seluruh aspek kehidupan di Jerman harus ditata ulang. Sepakbola tentu menjadi salah satu hal yang diperbaharui.

Jika sebelumnya klub-klub Jerman Timur bermain di liga sendiri, kini mereka berhak berpartisipasi di Bundesliga, tempatnya klub-klub Jerman Barat unjuk gigi. Hanya saja, tidak lebih dari dua klub yang diperbolehkan ikut.

Musim 1990/91 pun menjadi musim terakhir dari Liga Jerman Timur. Hansa Rostock (peringkat pertama) dan FC Dynamo Dresden (peringkat kedua) mengamankan tempatnya di Bundesliga. Adapun klub-klub lain harus berebut tempat di divisi-divisi bawahnya.

Magdeburg, yang di musim sebelumnya finis di peringkat ketiga, sebenarnya cukup difavoritkan untuk minimal lolos ke Bundesliga 2. Bagaimanapun, akhirnya mereka harus menerima nasib bermain di divisi tiga karena gagal di fase play-off.

Kegagalan tersebut terbilang menyakitkan. Pasalnya, pada paruh pertama musim, mereka masih sempat bermain di Piala UEFA (sekarang Liga Europa). Magdeburg disingkirkan oleh Girondins de Bordeaux di putaran kedua.

Para suporter Magdeburg ketika itu barangkali tidak pernah menyangka laga melawan Bordeaux adalah penampilan terakhir klub di kompetisi Eropa. Pasalnya, Magdeburg pernah mencatatkan tinta emas dalam sejarah, tepatnya di ajang European Cup Winners` Cup (Piala Winners) pada 1974.

Kesuksesan Magdeburg pada 8 Mei 1974 di Stadion De Kuip, Rotterdam, Belanda, ini sebenarnya tergolong fenomenal. Mereka mengalahkan juara bertahan AC Milan di partai final. Hebatnya lagi, skuat mereka ketika itu rata-rata berusia 23 tahun, yang semua pemainnya adalah pemain asli kota Magdeburg.

Salah satu pemain bintangnya adalah penyerang Jürgen Sparwasser. Sepanjang kariernya, ia hanya pernah membela Magdeburg. Ia mencetak satu gol pada babak semifinal melawan Sporting CP. Ia juga merupakan pemain yang mencetak gol kemenangan Jerman Timur atas Jerman Barat pada Piala Dunia 1974, satu-satunya pertandingan yang mempertemukan kedua tim di atas lapangan hijau.

Pelatih Heinz Krügel juga patut mendapatkan apresiasi besar. Ketika ditunjuk menukangi klub pada 1966, mereka baru saja terdegradasi ke Divisi Dua Liga Jerman Timur. Namun, tak sampai satu dekade kemudian, Magdeburg berhasil menjelma menjadi kekuatan besar di Eropa.

Hingga kini, Magdeburg adalah satu-satunya klub Jerman Timur yang berhasil menjuarai kompetisi Eropa. Jika kemudian kisah mereka tidak selegendaris kisah Annus Mirabilis Glasgow Celtic asuhan pelatih Jock Stein, maka itu mungkin karena kegagalan pada musim 1990/91.

***

Perjuangan Magdeburg untuk mendapatkan tiket promosi ke Bundesliga 2 tentu tidak mudah. Ada banyak pengorbanan yang dilakukan. Misalnya, merobohkan Stadion Ersnt-Grube pada 2004 untuk membangun stadion baru bernama MDCC-Arena yang dibuka pada 2006.

Dua tahun lalu, kesedihan pernah menyelimuti tribun MDCC-Arena, terutama Block U, yang merupakan tempat suporter garis keras Magdeburg. Salah satu fans mereka, Hannes Schindler, meregang nyawa akibat jatuh dari kereta. Sebelum terjatuh, ia diketahui terlibat adu mulut dengan suporter Halleschen FC, yang kebetulan berada di kereta yang sama setelah bertandang ke markas FC Köln.

Kematian Schindler adalah kematian suporter sepakbola pertama di Jerman akibat keributan antar suporter sejak 1990. Kepergiannya membuat Block U menjadi semakin terbuka bagi para fans dan memperkuat ikatan di antara mereka.

"Wir folgen dir durch Deutschland, Europa, die ganze Welt!" ("Kami akan mengikutimu di Jerman, Eropa, dan seluruh dunia!") yang kerap dinyanyikan oleh para suporter Magdeburg bukanlah sebuah kiasan atau semata upaya menjaga ingatan akan kejayaan 1974. Berdasarkan daftar anggota suporter resmi, yang jumlahnya sekitar 6.600 orang, terdapat beberapa yang tinggal di Belgia, Hungaria, dan bahkan Amerika serikat.

Realisasi mimpi kembali menjejakkan kaki di kompetisi Eropa mungkin masih panjang, tetapi warga Magdeburg akan tetap merawatnya dengan setia. Apalagi, keberhasilan promosi ke Bundesliga 2 membuka potensi pemasukan besar bagi Magdeburg, yang bisa menjadi modal untuk memperkuat skuat.

Seorang profesor ekonomi asal Leipzig, Henning Zülch, memperkirakan setidaknya 8 juta euro akan masuk ke kantung pemerintah kota Magdeburg pada musim 2018/19 mendatang. "Gastronomi, industri hotel, semuanya akan terkena dampak positif dari hal ini," ucap Zülch kepada Medium German Broadcasting.

Manajemen klub sendiri sudah berencana untuk meningkatkan kapasitas MDCC-Arena dari sekitar 25.500 penonton menjadi 30.000 penonton. Mengingat bahwa rival-rival tradisional, seperti Köln, Union Berlin, Arminia Bielefield, Hansa Rostock, dan juga Dynamo Dresden telah menunggu Magdeburg di Divisi Dua, peningkatan jumlah penonton hampir dapat dipastikan akan terjadi.

"Klub memprediksi rata-rata 20.000 penonton. Saya pribadi berpikir angkanya akan lebih tinggi jika berdasarkan pengalaman yang dirasakan oleh (RB) Leipzig," kata Zülch.

Ketika Leipzig baru promosi ke Bundesliga pada 2016/17 lalu, jumlah rataan penonton di Red Bull Arena meningkat hampir dua kali lipat ke angka 40.000 penonton dibandingkan musim sebelumnya. Adapun Magdeburg sendiri di Liga 3 musim ini mencatatkan rataan 18.000 penonton per pertandingan.

Potensi pemasukan besar tersebut tentu merupakan hal menggembirakan. Bagaimanapun, Kallnik tidak ingin mengambil kebijakan secara tergesa-gesa. Ia menegaskan bahwa setiap keputusan harus dipikirkan terlebih dahulu secara matang, melalui diskusi secara mendalam dengan .

"Kami tidak memiliki sponsor besar, tetapi ada banyak sponsor kecil. Dukungan dari para sponsor terus meningkat. Ini adalah sebuah langkah kecil perkembangan," tegas Kallnik.

"Kami akan memperkuat skuat secara selektif. Tidak boleh ada pengeluaran yang besar. Hal itu tidak bisa dilakukan di Magdeburg. Anda tidak pernah boleh membatasi target Anda, tetapi Anda harus realistis. Bagi kami, ini semua adalah tentang bermain di liga. Kemudian, tahun depan, mungkin kami baru bisa beraktivitas di bursa transfer secara berbeda," lanjut dirinya.

Tentu saja, Kallnik dan Härtel, yang kini namanya telah dianggap sejajar dengan Krügel oleh para suporter Magdeburg, harus benar-benar mempersiapkan tim untuk musim depan. Jangan sampai euforia penantian selama puluhan tahun harus berakhir prematur akibat satu-dua kesalahan manajemen dan staf pelatih.

Komentar