Meredam Kisruh di Papua dengan Sepakbola

Backpass

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

a freelance journo. full-time researcher. bachelor of law

Meredam Kisruh di Papua dengan Sepakbola

Stadion Utama Gelora Bung Karno pernah menjadi saksi kebangkitan sepakbola Papua di tahun 2005. Kala itu diselenggarakan final Liga Djarum Indonesia yang mempertemukan Persija dengan Persipura.

Ketika pertandingan menyisakan sepuluh menit lagi, Persija unggul dengan skor 2-1. Jakmania pun dengan mantap bersenandung, “siapa yang suruh melawan Persija, siapa yang suruh datang ke Jakarta.” Namun pada menit ke-82, Korinus Fingkreuw berhasil menjebol gawang Persija yang saat itu dikawal Hendro Kartiko. Skor berubah menjadi 2-2 hingga wasit meniup peluit panjang di babak kedua. Laga final itu berlanjut ke babak tambahan.

Di hadapan gedung pencakar langit sekitar Senayan, anak-anak Papua mengambil alih jalannya pertandingan. Pada menit ke-112, Ian Louis Kabes yang berstatus pemain pengganti, berhasil mencetak gol ketiga sekaligus gol kemenangan bagi Persipura. Skor 2-3 menjadi skor akhir yang akhirnya mengantarkan gelar bergengsi sepakbola Indonesia ke tanah Papua.

Persipura hari itu dan Persipura yang kita kenal sekarang, sesungguhnya tak akan pernah eksis jika wilayah Papua tidak menjadi bagian dari Republik Indonesia. Mungkin Persija dan Persipura bisa bertemu, tapi bukan dalam kompetisi domestik, melainkan ajang Piala AFC. Untuk itu, saya merasa perlu untuk mengingat peristiwa 1 Mei 1963 yang menjadi pertanda “kembalinya” wilayah Papua ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Konferensi Meja Bundar (KMB) yang dilaksanakan di Den Haag pada 2 November 1949 memang mengakui kedaulatan negara Indonesia. Namun soal wilayah kedaulatan, ada persoalan penting yang belum disepakati yakni perihal status Papua bagian barat. Baik Indonesia maupun Belanda sama-sama merasa lebih berhak akan wilayah yang kaya akan mineral itu.

Menurut Belanda, Papua bagian barat atau yang mereka sebut dengan nama Netherlands New Guinea, bukan bagian dari kesatuan wilayah yang harus dikembalikan. Selain karena potensi ekonomi, salah satu argumentasi yang dipakai adalah karena orang-orang asli Papua memiliki perbedaan etnis dan ras dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Oleh sebab itu, mereka ingin menjadikan Papua sebagai negara tersendiri di bawah naungan Kerajaan Belanda.

Arnold Belau, jurnalis dari SuaraPapua menulis artikel “Kronologi Papua 1960-1969: Ketika Hak-hak Politik Bangsa Papua Diberangus” yang mengisahkan bagaimana upaya Belanda untuk mewujudkan suatu negara demokrasi di Papua. Berdasarkan tulisannya, pada 1961 Belanda memfasilitasi pemilihan umum dan membidani lahirnya partai-partai politik. Tujuannya agar rakyat Papua memiliki Dewan Rakyat. Tak lama setelah dewan terbentuk, Papua memiliki lagu kebangsaan dan bendera sendiri.

Langkah politik ini membuat Soekarno geram. Sebagai kepala negara, ia merasa Papua masih merupakan bagian dari wilayah kedaulatan Indonesia. Itulah sebabnya Soekarno memerintahkan angkatan bersenjata untuk “membebaskan” Papua dari cengkeraman Belanda. Karena perselisihan ini, Indonesia sampai memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda.

Perselisihan antara Belanda dengan Indonesia akhirnya selesai pada 1 Mei 1963. Adapun yang menandai peristiwa itu yakni berakhirnya masa pemerintahan UNTEA. Hal itu membuat pemerintah Indonesia berkuasa penuh terhadap New Guinea Barat (sekarang Papua).

United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA) adalah sebuah lembaga yang dibentuk oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Ia hadir untuk mengurus Papua selama wilayah itu masih dalam proses peralihan. Sebelumnya, ada Perjanjian New York pada 15 Agustus 1962 yang intinya “mengembalikan” wilayah Papua bagian barat ke Indonesia yang semula diduduki Belanda. Transisi kekuasaan dari Belanda ke Indonesia membutuhkan waktu, sehingga UNTEA berperan dalam rangka mengisi kekosongan pemerintahan di Papua. Kehadiran UNTEA menyebabkan tentara Belanda angkat kaki, sementara angkatan bersenjata Indonesia boleh tetap tinggal selama berada di bawah koordinasi UNTEA.

Di sela-sela tensi politik kedua negara yang sedang meninggi, ada seorang putra Papua bernama Dominggus Waweyai. Ia diyakini sebagai pelopor anak Papua di tubuh Timnas Indonesia. Pria yang berposisi sebagai penyerang itu pernah berkostum Timnas ketika Antun ”Toni” Pogacnik masih menjabat sebagai pelatih.

Dominggus merupakan jebolan dari klub sepakbola Missie Voetball Vereniging (MVV), sebuah kesebelasan yang berkompetisi di liga yang digagas Voetbal Obligasi Hollandia (VBH). Perlu diketahui, VBH adalah asosiasi yang secara sadar diciptakan masyarakat lokal Hollandia (sebutan Papua versi Belanda). VBH bertujuan menyaingi Voetbalbond Hollandia en Omstreken (VHO). Alasannya karena pada waktu itu, liga yang dibuat VHO hanya dipertandingkan bagi masyarakat Belanda dan keturunan Eropa. Masyarakat lokal boleh meramaikan tetapi sebagai penonton. Alhasil, VBH berinisiatif membuat liga baru yang pesertanya adalah masyarakat lokal Papua. Dominggus lahir dari sini.

Bakat Dominggus kemudian tercium sampai ke Jakarta. Adalah Endang Witarsa yang pertama kali menemukan Dominggus. Di bawah asuhan Endang, ia jadi pemain penting yang membawa Persija juara kompetisi perserikatan musim 1963/64.

Tampil gemilang bersama klub ibukota, Dominggus segera dipanggil Pogacnik. Timnas Indonesia bukan satu-satunya kesebelasan yang menginginkan jasa Dominggus. Timnas Belanda juga melirik pemain kelahiran Raja Ampat itu. Meski pada akhirnya Dominggus memilih jadi warga negara Belanda pada 1965, tapi namanya tidak bisa dilepaskan begitu saja dari sejarah Timnas Indonesia.

Seiring berjalan waktu, para pemain Papua mulai banyak yang menghiasi skuat Timnas Indonesia. Beberapa nama bahkan tidak hanya sebagai penghias, melainkan jadi tulang punggung kesebelasan. Salah satunya adalah Rully Nere.

Pada partai final Piala Kemerdekaan 1987 antara Indonesia A kontra Aljazair XI, Rully tampil dengan atribut yang tak lazim. Pria yang lahir di Jayapura itu tampil berbeda dari rekan-rekannya dengan mengenakan pita merah putih yang diikat melingkari batok kepala Rully. Sejak dimulai hingga berakhirnya pertandingan, pita itu tak pernah ia lepas.

“Itu adalah pertandingan final dari turnamen yang diadakan untuk memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia. Karena itu saya kenakan pita merah putih untuk menunjukkan rasa nasionalisme saya.” Ucap pemain bernomor punggung 14 ini kepada FourFourTwo Indonesia.

Kendati ia tidak mencetak gol pada partai final yang dimenangi Indonesia dengan skor 2-1 itu, tetapi jasa Rully besar dalam membawa Indonesia ke partai puncak. Ia berhasil mengemas tiga gol dalam perjalanan Indonesia A menuju final. Pujian pun datang dari rekan setimnya di Timnas. Ronny Pattinasarani dan Risdianto sepakat bahwa Rully Nere merupakan gelandang terbaik Indonesia saat itu. Selain itu, kehadiran sosok Rully juga dipercaya mampu membangkitkan kepercayaan diri rekan-rekan setim.

Lewat sepakbola, Papua bersuara. Kisah perjumpaan masyarakat Papua dengan olahraga sepakbola terjadi seiring dengan penyebaran agama Kristen. Menurut keterangan Hanggua Rudi Mebri yang merupakan Ketua Dewan Pemuda Adat Port Numbay, sepakbola diperkenalkan pada tahun 1925 melalui seorang pastur. Adalah Izaak Samuel Kijne yang mengajar dan mendidik anak Papua yang diseleksi dari kampung-kampung di pelosok Papua.

Kegiatan blusukan itu dilakukan untuk mencari murid-murid yang bakal disekolahkan pada sekolah guru di Miei, kawasan Teluk Wondama. Dalam pendidikan guru inilah embrio sepakbola modern lahir. Sepakbola masuk melalui kurikulum yang diajarkan.

Namun, bukan hanya sepakbola yang masuk ke wilayah Papua. Salah satu makhluk asing yang berhasil masuk dan menggagahi bumi Papua hingga sekarang adalah Freeport. Perusahaan tambang asal Amerika Serikat itu secara resmi beroperasi pada 7 April 1967. Pemerintah Indonesia yang saat itu dipegang rezim Soeharto, "menggelar" karpet merah kepada Freeport dengan kontrak karya selama 30 tahun.

Sejak saat itu, kehidupan sosial-politik Papua berubah. Beberapa suku asli Papua terlibat konflik dengan militer dalam hal pembebasan lahan. Cara hidup warga dengan menjaga keseimbangan alam yang diwariskan turun-temurun, dilecehkan begitu saja dengan berdirinya pabrik tambang, lengkap dengan polusi dan limbahnya.

Penolakan demi penolakan dilancarkan warga Papua yang tak jarang memakan korban. Markus Martinus Ignatius Oserogo Haluk dalam buku “Menggugat Freeport” menyebut, 60 orang suku Amungme pernah menjadi korban kekerasan militer dalam insiden yang terjadi pada 1981. Pada 25 Desember 1994, masyarakat dari lembah Bela, Jila, Owea, Tsinga, dan Waa memprotes pihak Freeport atas tindakan intimidasi, penahanan sewenang-wenang, penyiksaan tanpa proses hukum, dan pembunuhan terhadap orang-orang Amungme dan Kamoro. Peristiwa itu terekam dalam sebuah laporan Australian Council for Overseas Aid berjudul “Trouble At Freeport”.

Hingga hari ini, kisruh di wilayah Papua tak kunjung padam. Di antara kekisruhan yang terjadi, nyaris selalu melibatkan Freeport. Koran-koran di Jakarta maupun luar negeri mengabarkan berita negatif tentang Freeport yang menarasikan perusahaan itu sebagai biang keladi segala kisruh di bumi Papua. Freeport pun tidak tinggal diam.

Lewat sepakbola, Freeport coba meredam segala kisruh yang terjadi di Papua. Freeport kembali menjadi sponsor Persipura untuk mengarungi Liga 1 musim 2018. Adapun pengesahan itu dilakukan melalui sebuah Nota Kesepahaman yang ditandatangani EVP Human Resources Freeport Indonesia, Achmad Ardianto, dan Ketua Umum Persipura, Benhur Tomi Mano di Kuala Kencana, Mimika, pada 3 Maret 2018.

“Dukungan Freeport untuk Persipura totalnya mencapai 10 miliar rupiah, dengan rincian 9 miliar untuk satu musim kompetisi Liga 1 dan satu periode turnamen piala tingkat nasional, serta komitmen bonus satu miliar jika Persipura mampu menjuarai liga,” kata Ardianto kepada bolalob.com.

Tidak hanya menjadi sponsor, Freeport juga aktif mengembangkan bakat sepakbola usia dini. Pada 8 April 2018 lalu, bolalob.com memberitakan kegiatan coaching clinic yang diadakan Freeport. Sebanyak 36 anak yang berasal dari tiga SSB di Timika yaitu Mimika United, Timika Putra, dan Timika Jaya Utama, mengikuti kegiatan pelatihan yang dibina langsung oleh pelatih Persipura, Richard Butler.

Salah satu peserta mengungkapkan rasa gembira ketika bertemu dengan salah satu idolanya, Boaz Solossa. ”Saya kaget dan senang sekali melihat Boaz dan tim Persipura sampai ke lapangan. Boaz idola saya dan teman-teman. Saya suka nonton Boaz di televisi, rasanya seperti mimpi bisa dilatih oleh Boaz,” ujar Kenard Wamafma kepada bolalob.com.

Penyerang Persipura, Boaz Solossa juga mengatakan bahwa acara yang diselenggarakan Freeport ini sangatlah penting. Dirinya menambahkan bahwa ketertarikan anak-anak terhadap sepakbola telah mengembalikan gairahnya dalam bertarung pada kompetisi Liga 1 bersama Persipura.

Sepertinya, sulit memisahkan sepakbola dari bumi Papua. Bukan tidak mungkin Freeport melihat hal itu demi menarik perhatian masyarakat Papua sekaligus mencuci dosa-dosa mereka. Namun harus diingat juga bahwa pemerintah Indonesia punya andil dalam “menjaga” keberlangsungan kegiatan usaha Freeport di tanah Papua.

Komentar