Cinta Tak Bersyarat untuk Atletico Madrid

Backpass

by Rio Rizky Pangestu

Rio Rizky Pangestu

Pembaca yang menulis.

Cinta Tak Bersyarat untuk Atletico Madrid

“Kau lihat botol ini,” sebut Luis Aragones sambil menggenggam sebuah botol lekat-lekat. “Kita akan menancapkan botol ini di bokong mereka! Lupakan taktik; Ini melawan Real Madrid di Bernabeu. Mereka [Real Madrid] sudah menancapkan botol itu di bokong kita sejak lama, ini kesempatan kita untuk membalas mereka!”

Perkataan itu disampaikan oleh Aragones sang pelatih kepala kepada anak asuhnya di Atletico Madrid, jelang final Copa del Rey musim 1991/92 melawan Real Madrid. Tentunya, Aragones tidak menyuruh anak asuhnya untuk benar-benar menancapkan botol ke bokong para pemain Madrid; ungkapan yang digunakan Aragones adalah kiasan untuk menyemangati para pemain Atletico jelang pertandingan final.

Dan instruksi dari Aragones itu terbukti ampuh. Baru tujuh menit laga berjalan, gelandang Atletico asal Jerman, Bernd Schuster, berhasil membuka keunggulan untuk Atletico lewat sebuah tendangan bebas yang indah. Menit ke-29, penyerang asal Portugal, Paulo Futre, memperbesar keunggulan Atletico lewat sebuah tembakan keras yang mengarah ke sudut sempit gawang Real Madrid yang dikawal Francisco Buyo.

Aragones bersama beberapa pemain di bangku cadangan berhamburan ke sisi lapangan untuk turut dalam perayaan. Skor 2-0 untuk Atletico bertahan hingga akhir pertandingan dan membuat mereka keluar sebagai juara.

Kemenangan yang mereka raih dari Real Madrid di final tersebut jelas akan selalu terkenang di dalam benak pendukung Atletico. Akan tetapi, andai saat itu Atletico kalah, saya kira yang akan paling geram atas kekalahan itu adalah Aragones—orang yang paling menggebu-gebu ingin mengalahkan Real Madrid—sementara suporter Atletico sendiri akan dengan sangat lapang menerima kekalahan itu.

Menyikapi Kekalahan dengan Lapang Dada

“Atletico Madrid adalah satu-satunya klub di dunia yang selalu siap untuk menerima kekalahan. Ketika menerima kekalahan, suporter mereka bisa tampak senang akan hal itu. Ini untuk menunjukkan rasa cinta yang mereka miliki kepada Atletico. Ini sedikit mirip seperti masokisme.”

Kata-kata tersebut diungkapkan oleh Michael Robinson, pesepakbola asal Inggris yang pernah merumput di Spanyol bersama Osasuna. Ungkapan Robinson tidak berlebihan. Memang seperti itulah cara suporter mencintai Los Rojiblancos. Dukungan mereka untuk kesebelasan yang lahir pada 26 April 1903 itu tidak akan pernah berkurang kendati Atletico kalah dalam sebuah pertandingan.

Baca juga: "Papa, Mengapa Kita Dukung Atletico?"

Saat Juanfran gagal mengeksekusi tendangan penalti di final Liga Champions 2016 yang menyebabkan Atletico kalah dari Real Madrid, alih-alih menghujat, suporter Atletico justru menaruh simpati besar kepada Juanfran. Dilansir dari Daily Mail, penjualan jersey Juanfran justru meningkat pesat usai pertandingan final itu.

Loyalitas seperti itu yang tidak akan dapat ditemukan di klub rival sekota mereka, Real Madrid. Di El Real, seorang pemain harus tampil sesempurna mungkin jika tidak ingin mendapatkan cercaan dari suporter sendiri. Bahkan seorang Cristiano Ronaldo saja pernah menjadi target cercaan suporter Real Madrid di Estadio Santiago Bernabeu hanya karena sedikit salah dalam mengontrol bola di pertandingan menghadapi Las Palmas, 2017 silam. Padahal setahun sebelumnya Ronaldo baru saja meraih gelar Ballon d’Or dan membawa Real Madrid memenangi Liga Champions.

Dan bukan hanya Ronaldo saja yang pernah jadi target cercaan suporter Madrid. Disampaikan oleh Sergio Ramos usai pertandingan melawan Las Palmas itu, setiap pemain yang pernah membela Real Madrid pasti pernah menjadi target hinaan dari suporter sendiri.

“Aku mengerti mengapa para suporter menghina Ronaldo. Kenapa tidak? Mereka juga [pernah] menghinaku. Mereka juga pernah menghina Manolo Sanchis, Jose Antonio Camacho, Ronaldo Luiz Nazario, juga Zinedine Zidane. Mereka menghina setiap pemain,” ujarnya seperti dilansir Goal.

Jika bermain buruk saja mendapat cercaan hebat dari suporter, tidak terbayangkan apabila Real Madrid terdegradasi ke divisi bawah seperti yang dirasakan oleh Atletico pada musim 1999/2000. Sangat mungkin para suporter Real Madrid tak sudi untuk datang ke Bernabeu menyaksikan Los Blancos berlaga.

Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang ditunjukkan oleh suporter Atletico Madrid. Saat Atletico terdegradasi ke divisi bawah, penjualan tiket untuk laga kandang Atletico justru melonjak; dukungan untuk tim semakin kuat.

Menurut legenda hidup Atletico, Fernando Torres, cara mendukung seperti yang dilakukan oleh suporter Atletico telah membuat sepakbola jadi lebih bergairah. Bersedia untuk tetap mendukung walau tim sedang dalam keadaan terpuruk, akan membuat setiap prestasi yang didapat Atletico—sekecil apa pun itu—terasa lebih bermakna.

“Selama bertahun-tahun Real Madrid telah menjadi tim besar di kota ini—bahkan di Eropa. Sedang kami adalah tim miskin, klub kelas pekerja yang berusaha mengejar raihan mereka. Itu berarti penggemar Atletico merayakan kemenangan dan kesuksesan dengan makna yang lebih besar. Penggemar Madrid tidak merasakan itu karena selalu menuntut lebih banyak dan lebih banyak. Mereka kaya, tapi tidak menikmati sepakbola. Menjadi penggemar Atletico mungkin membuat Anda menderita, tetapi juga akan membuat Anda lebih kuat,” ujarnya kepada FourFourTwo.

Torres pun menyebutkan bahwa kentara sekali perbedaan suasana ketika bermain di Santiago Bernabeu dan Vicente Calderon. Di Bernabeu, menurutnya, tidak ada gairah sepakbola yang terasa.

“Bernabeu seperti teater, sangat tenang. Mereka [suporter Real Madrid] tidak merasakan gairah sepakbola. Entah mereka bersiul atau bertepuk tangan, tidak ada yang lain. Calderon memiliki atmosfer yang berbeda dari itu. Atletico adalah klub yang spesial.”

Ya, klub yang spesial. Kiranya itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan Atletico Madrid. Mereka selalu senantiasa didukung penuh oleh suporter walau dalam kondisi terpuruk sekali pun. Memang, dalam hal raihan trofi, Atletico kalah jauh dibanding rival sekotanya. Akan tetapi, apalah artinya koleksi trofi tersebut jika itu semua tidak mampu menumbuhkan rasa cinta yang kuat di hati setiap suporternya.

Ketika rival sekota mereka selalu dituntut untuk mendapatkan lebih dan lebih oleh suporternya, Atletico justru diberkahi dengan suporter yang senantiasa menghargai dan mengapresiasi sekecil apa pun kemajuan klub kesayangannya. Ketika di satu waktu Atletico mengalami kemunduran, dukungan bukannya melemah tapi justru semakin menguat.

Tradisi dukungan seperti itu tentu akan membuat Atletico menjadi klub yang kuat karena merasa dimiliki oleh suporter mereka sendiri. Seperti yang diungkapkan oleh Santiago Segurola, seorang penulis surat kabar El Pais di Spanyol: “Seperti cinta seorang Ibu, Atletico tak akan bisa dibeli atau dijual dari pendukung mereka.”

Komentar