Menjadi Konsumen Sepakbola di Indonesia

Backpass

by Rio Pangestu

Rio Pangestu

Pembaca yang menulis.

Menjadi Konsumen Sepakbola di Indonesia

Catur Yuliantono sepertinya tak pernah menyangka sebelumnya, jika kehadirannya di Stadion Patriot Chandrabaga pada Sabtu petang itu akan berujung nestapa. Pria yang mengidolakan Irfan Bachdim itu meninggal dunia setelah wajahnya terkena roket suar (flare), saat menyaksikan laga persahabatan antara Tim Nasional Indonesia melawan Fiji, Sabtu (2/9/17).

Kejadian bermula ketika wasit membunyikan peluit panjang tanda tuntasnya pertandingan yang berkesudahan dengan skor 0-0 tersebut. Tiba-tiba, salah seorang penonton dari tribun utara meluncurkan roket flare yang langsung terbang bebas ke arah tribun timur—tempat Catur menyaksikan pertandingan.

Roket itu pun mengenai dan kemudian membakar wajahnya. Catur langsung dibawa ke rumah sakit terdekat oleh penonton lain yang berada di sekitarnya, namun Catur meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Kejadian yang menimpa Catur, jelas sangat menyakitkan. PSSI melalui Sekretaris Jenderal-nya, Ratu Tisha Destria, menyatakan sangat menyesali tragedi tersebut. Tisha pun berjanji bahwa PSSI akan mengelola manajemen pertandingan dengan lebih baik lagi.

“Ke depannya kami pastikan bahwa manajemen pertandingan akan dikelola lebih profesional lagi,” ungkapnya ketika itu seperti dilansir Tempo.

Di samping itu, Catur juga telah dirampas haknya sebagai penonton, untuk dapat menyaksikan sebuah pertandingan dengan aman dan nyaman. Ketika ia menonton pertandingan tersebut, maka Catur telah menjadi seorang konsumen sepakbola yang harus memenuhi segala kewajibannya, tapi juga harus dipenuhi segala haknya. Catur telah menunaikan kewajibannya dengan membeli tiket pertandingan secara resmi, namun ketika ia menagih haknya untuk dapat menyaksikan laga dengan aman, ia tidak menerima itu.

Padahal, hak atas kenyamanan, keamanan, serta keselamatan seorang konsumen, diatur dalam Pasal 4 Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Jika hak itu dilanggar, tentu seorang konsumen dapat menggugatnya.

Tetapi, banyak dari kita yang belum menyadari bahwa sebagai konsumen kita punya keistimewaan tersebut. Kita sering pasrah begitu saja ketika kita tidak mendapatkan apa yang seharusnya berhak kita dapatkan dari pelaku usaha. Hal inilah yang juga menjadi salah satu faktor maraknya pelanggaran yang dilakukan pelaku usaha terhadap konsumen.

Selain itu, ada banyak sebab lain yang melatarinya. Namun berdasarkan survei yang dilakukan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia pada 2015, kerugian yang dianggap tidak terlalu besar oleh konsumen menjadi alasan yang paling banyak digunakan konsumen ketika memutuskan untuk tidak melakukan pengaduan saat hak-haknya dilanggar oleh pelaku usaha.

Berangkat dari fenomena itulah, melalui Keputusan Presiden No. 13 Tahun 2012, pemerintah menetapkan tanggal 20 April sebagai peringatan Hari Konsumen Nasional (Harkonas). Dikutip dari laman resmi Harkonas, ditetapkannya Harkonas salah satunya bertujuan untuk mengupayakan kesadaran masyarakat akan pentingnya arti hak dan kewajiban seorang konsumen.

Baca juga: Keamanan Stadion Bukan Cuma Fasilitas dan Petugas, Tapi Juga Perilaku Penonton

Di dalam dunia sepakbola, hal ini menjadi penting mengingat kita sebagai konsumen sepakbola di Indonesia, kerap abai ketika hak-hak yang semestinya kita dapatkan dari sebuah pertandingan sepakbola misalnya, tidak terpenuhi. Kasus yang menimpa Catur hanya satu dari banyak kasus lain yang kerap kita temui di sepakbola Indonesia.

Kerusuhan yang terjadi di pertandingan Arema FC melawan Persib Bandung awal pekan lalu, merupakan kasus terbaru yang tentunya telah merenggut banyak hak penonton lain di Stadion Kanjuruhan untuk dapat menyaksikan pertandingan dengan aman dan nyaman. Andai penjual jasa—dalam hal ini panitia pelaksana pertandingan Arema—sebelumnya mempersiapkan perangkat keamanan pertandingan yang solid, mungkin kerusuhan bisa dicegah.

Jika kita tarik lebih jauh lagi ke belakang, kejadian yang terjadi di Gelora Bung Karno saat final sepakbola SEA Games 2011 yang mempertemukan Indonesia melawan Malaysia, juga merupakan sebuah peristiwa dilanggarnya banyak hak konsumen sepakbola ketika itu.

Kita tahu pertandingan Indonesia melawan Malaysia selalu berhasil menyedot banyak penonton, terlebih saat itu mereka bertemu di partai puncak. Stadion Utama Gelora Bung Karno yang menjadi tempat pertandingan final digelar begitu disesaki penonton. Sadar bahwa semua tribun penonton di GBK sudah terisi penuh, pihak keamanan pun menutup pintu masuk stadion.

Akan tetapi, di luar stadion masih sangat banyak orang yang memegang tiket tapi tidak bisa masuk lantaran pintu sudah tertutup. Di sinilah hak mereka sebagai konsumen yang membeli tiket pertandingan tidak terpenuhi; mereka gagal menyaksikan pertandingan di dalam stadion.

Bahkan, dua calon penonton yang berusaha masuk—salah satunya bernama Reno Alvino—harus sampai mengorbankan nyawa mereka. Keduanya tewas terinjak-injak antrean penonton yang berjejal berusaha masuk stadion. Panitia Penyelenggara SEA Games Indonesia (Inasoc), jelas telah melanggar kewajiban mereka kepada konsumen dalam menjamin kepentingan konsumen terpenuhi.

Konsumen yang dirugikan ketika itu, di samping menggugat Inasoc, sebenarnya bisa mengadukan kerugian yang diderita mereka kepada Badan Perlindungan Konsumen atau Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat—sebagaimana tertera dalam Undang-undang Perlindungan Konsumen. Namun mungkin karena belum banyak yang mengetahuinya, saat itu tidak terdengar ada yang mengadukannya.

Baca juga: Sepakbola Sebagai Candu Dunia Ketiga

***

Dengan peringatan Hari Konsumen Nasional yang jatuh pada hari ini, semoga kita bisa menyadari akan hak dan kewajiban kita sebagai konsumen sepakbola Indonesia. Hak paling dasar yang pantas kita terima, adalah dapat menyaksikan pertandingan sepakbola dengan aman dan nyaman di stadion. Sementara kewajiban paling dasar yang perlu kita penuhi, adalah membeli tiket pertandingan secara resmi.

Belum lama ini, AS Monaco membuat keputusan yang sangat layak diapresiasi. Mereka memutuskan untuk mengganti semua biaya perjalanan para suporter Monaco yang datang ke Paris, untuk menyaksikan laga AS Monaco melawan tuan rumah Paris Saint-Germain yang berkesudahan dengan kekalahan telak Monaco 1-7.

AS Monaco sebagai kesebelasan—juga badan hukum, sudah melampaui apa yang wajib dipenuhi mereka kepada para suporter; kepada konsumen mereka. Jangankan memberikan pelayanan yang buruk, memberikan hasil buruk saja mereka tidak tega dan menganggapnya sebagai perbuatan yang merugikan suporter. Hebatnya, sebisa mungkin mereka coba tebus kegagalan itu.

Bagi kita yang tinggal di Indonesia, berharap ada klub yang mampu untuk melakukan hal serupa agaknya terlalu utopis. Tapi tidak akan ada perubahan besar jika kita tidak memulai sebuah perubahan kecil, bukan? Dan perubahan kecil itu bisa kita lakukan dengan mulai sama-sama menyadari hak dan kewajiban kita sebagai konsumen sepakbola.

Selamat Hari Konsumen Nasional!

Komentar