Buku, Bola, dan Cinta

Backpass

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

a freelance journo. full-time researcher. bachelor of law

Buku, Bola, dan Cinta

"Saya jatuh cinta kepada sepakbola sebagaimana saya kemudian jatuh cinta kepada perempuan; tiba-tiba, tidak dapat dijelaskan, tidak kritis, tidak memikirkan rasa sakit atau gangguan yang ditimbulkan olehnya."

Dengan kalimat itu Nick Hornby memulai Fever Pitch, buku pertamanya. Sama seperti kisah sukses lainnya, buku itu pada awalnya ditolak sana-sini. Oleh beberapa penerbit, Hornby dianggap sebagai penulis yang buang-buang waktu dan tenaga. Sepakbola tidak layak dijadikan buku dan buku tentang sepakbola tidak dapat dijual.

Bagi Hornby, itu sebuah penghinaan. Dalam artikelnya yang dimuat Telegraph, Hornby menulis dengan telengas bahwa gagasan itu tidak demokratis. Hanya karena permainan sepakbola berasal dari kultur populer, bukan berarti penyuka sepakbola menjadi anti-intelektual alias bodoh.

Beruntung, perusahaan Victor Gollancz mau menerbitkannya pada tahun 1992. Dalam kurun setahun, salinan Fever Pitch terjual lebih dari satu juta eksemplar di seluruh wilayah Britania. Atas torehan itu, karya Hornby diganjar penghargaan William Hill Sports Book of the Year di tahun yang sama.

Fever Pitch adalah narasi yang menerabas waktu. Sampai kapan pun, buku itu akan lekat dengan penggemar olahraga yang memiliki relasi seumur hidup dengan tim favorit dan memeluk segala hal yang berkaitan dengannya secara sukarela. Hornby tidak menulis bagaimana aturan off-side atau aturan back-pass dalam sepakbola. Ia dengan sederhana membagi kisah personal, lengkap dengan emosi yang campur aduk sebagai penggemar. Sisi humanisme itulah yang membuat pembaca tertarik dan membuat buku itu laris manis.

Meski begitu, ia menolak diasosiasikan sebagai penulis sepakbola. Baginya, menyandang status penulis sepakbola hanya akan membuat gila. Menurut pandangannya, tidak ada gunanya bagi penulis diklasifikasikan dalam genre tertentu. David Goldblatt, yang sudah menelurkan empat buku tentang sepakbola, juga menolak dianggap sebagai penulis sepakbola. Sampai kapan pun, Goldblatt adalah sejarawan yang hanya kebetulan saja menulis sepakbola.

Kepribadian Hornby yang nakal, kocak, sadar diri, dan tidak (terlalu) kutu buku sekilas seperti bukan penulis pada umumnya yang punya kesan intelektual. Namun karyanya menonjol karena secara kualitas baik dan secara kuantitas luar biasa. Selain menulis sepakbola, Hornby juga menulis musik dan naskah-naskah film.

Hornby, yang lahir pada 17 April 1957, tumbuh di sebuah pinggiran kota bersama ibunya, Margaret, dalam apa yang ia sebut sebagai “rumah Barratt di Maidenhead”. Ayahnya, Sir Derek Hornby, adalah pengusaha sukses yang meninggalkan rumah saat Hornby berusia 11 tahun. Sejak itu, si bocah menikmati hiburan di perpustakaan umum, melemparkan dirinya pada tumpukan buku. Maka tidak heran jika dirinya begitu fasih dalam menulis. Bukankah untuk menulis bagus kau perlu menjadi pembaca yang rakus?

Sebagai pembaca, selera Hornby adalah sastra klasik sederhana. Buku Of Mice and Men karangan John Steinbeck jadi salah satu favorit pria berkepala plontos ini.

“Saya selalu berpikir Of Mice and Men adalah buku yang sempurna karena tidak ada yang tidak dimengerti, benar-benar cerdas dan (alurnya) bergerak rumit, tapi semua orang memahami kerumitannya,” Ujarnya kepada Guardian.

Mungkin dari sanalah ia terinspirasi. Di antara sekian banyak karyanya itu, karakter orang-orang biasa selalu mendominasi alur ceritanya, persis seperti Of Mice and Men.

Dalam Fever Pitch, Hornby cerita tentang seorang anak yang jatuh cinta pada pandangan pertama kepada sepakbola. Tanpa alasan, tanpa basa-basi.

Kita pun sangat mungkin seperti anak itu. Datang ke stadion untuk kali pertama, lantas sudah berbunga-bunga. Menjadi saksi keriuhan, euforia, dan gelak tawa di dalam stadion, lantas berikrar untuk jadi pendukung setia suatu klub.

Beranjak dewasa, Hornby menjalin kisah kasih dengan dua subjek sekaligus: sepakbola dan perempuan. Banyak situasi rumit yang bikin dahi mengernyit. Sebagai contoh, saat pacarnya hamil, Hornby menghubungkannya dengan segala hal yang berbau Arsenal.

“Nanti kalo bayinya laki-laki diberi nama Liam ya. Legenda Arsenal tuh. Lagian itu juga nama yang bagus, kan?” Kira-kira begitu percakapan Hornby yang dibalas dengan tatapan nanar oleh si perempuan.

Itu baru soal nama bayi. Tentang pilihan rumah hunian, Hornby berkata begini: “nanti milih rumahnya yang deket Highbury ya (markas klub Arsenal sebelum Emirates), biar kalo saya urus anak di rumah, masih bisa dengerin gemuruh suporter."

Dari sudut pandang perempuan, hal itu mungkin bagus, mungkin juga tidak. Bayi itu ada berkat usaha bersama. Jadi, sudah sepatutnya didiskusikan berdua, bukan diputuskan sepihak. Lagipula, bukankah kurang ajar ketika kau baru saja menghamili perempuan tapi yang keluar dari mulutmu hanyalah sepakbola? Tidak heran jika kemudian kaum perempuan menghakimi isi otak lelaki hanyalah seks dan bal-balan.

Betapa tidak? Mayoritas pencinta sepakbola (yang umumnya laki-laki), akan gelisah ketika bulan Mei berakhir. Ajakan sang pacar untuk liburan pun masih ditimbang dengan alasan yang, lagi-lagi tentang sepakbola.

"Kita udah lama pacaran, bulan Mei kita liburan berdua yuk. Kan liga Inggris sedang jeda tuh". Rayu sang pacar dengan gemas. Alih-alih terhipnotis, Hornby menjawab seperti ini: “Walaupun musim sudah berakhir, tetapi kan masih ada laga amal”.

Wahai kaum perempuan, agaknya lelaki tipe ini jauh dari kata romantis. Namun tenang, kesetiaan mereka tidak perlu diragukan.

Delapan belas tahun Arsenal nirgelar, tapi tak pernah sedetik pun terlintas di benak Nick Hornby untuk berpaling ke lain kesebelasan. Puluhan tahun kecewa, hari demi harinya dijalani dengan sedikit antusias dan energi tersisa. Ketika musim telah berakhir, ada jeda yang kadung diratapi. Sungguh pembelajaran otentik tentang arti sebuah loyalitas.

Namun realita tetap realita. Dunia tak berhenti hanya dengan musim kompetisi berakhir. Masih ada kehidupan yang pasti berjalan walau tanpa sepakbola, tanpa hiruk-pikuk di stadion. Kau punya pasangan, bahkan mungkin anak-anak. Meski menurut Hornby, seks dan momen pertama jadi seorang ayah tidak dapat dibandingkan dengan menyaksikan Arsenal cetak gol kemenangan.

“Proses persalinan pasti sebuah peristiwa yang luar biasa, tetapi hal itu tidak benar-benar memiliki elemen kejutan yang penting,” gurat Hornby dalam bukunya.

Belakangan ia mengaku saat diwawancarai Guardian, bahwa ia tidak dapat menulis buku seperti Fever Pitch lagi. “Jika saya menulis Fever Pitch sekarang, itu akan lebih tua, lebih bijaksana dan lebih membosankan karena salah satu bahan yang menopang buku itu adalah kurangnya perspektif,” katanya sambil tertawa.

Ia juga mengkritik tentang kesiapan masyarakat Inggris dalam menghadapi benturan budaya. Dulu, mayoritas hooligan adalah kelas pekerja. Di Inggris, masyarakat ini seakan berjarak dari budaya riset dan hal-hal ilmiah seperti buku dan terbitan.

Penggemar sepakbola yang membaca adalah orang sombong dan mewah. Pada saat itu, kemewahan di sekitar hooligan adalah hal asing yang layak ditendang ke tempat sampah. Hornby sedang mengangkat derajat mereka. Meski maniak bola, ia pernah mengenyam pendidikan di Universitas Cambridge, kampus dengan syarat masuk terketat di Britania Raya. Hal itu membuktikan bahwa maniak bola juga punya otak yang encer. Hornby menjelma pernik yang berkilau pada masanya.

Untuk menjadi pernik itu, perjalanan terjal dilalui Hornby. Ia menjadi penulis secara otodidak. Ketika orang tuanya tak mampu menjadi keluarga bahagia pada umumnya, Hornby melampiaskannya pada buku-buku di perpustakaan. Dengan modal itulah, ia berani terjun ke dunia tulis-menulis.

Pernah suatu ketika, ia pergi kemah pramuka pada usia 12 tahun. Sebelum berangkat, ia mendapati orang tuanya sudah bercerai. Ia menulis: “sebenarnya, hal ini tidak terlalu menggangguku, setidaknya secara sadar. Bagaimana pun, mereka telah pisah untuk beberapa waktu sekarang, dan proses hukum tampaknya merupakan sebuah konfirmasi sederhana dari sebuah perpisahan.” Singkat, padat, hampir tanpa emosi sama sekali.

Perjalanan hidup yang murung, dijadikan Hornby sebagai bahan utama dalam racikan kepenulisannya. Buku-buku Hornby setengah menyedihkan. Ambil contoh Fever Pitch, sebuah memoar terobosannya. Meski bicara tentang sepakbola, kisah ini sesungguhnya tentang pria yang menghadapi depresi dan kurang berprestasi dalam realita kehidupan.

Atau novel pertamanya berjudul High Fidelity. Ya, itu adalah kisah tentang seorang pecandu musik yang terobsesi, tetapi juga kisah seorang buta huruf yang susah payah mencari arti hidup. Lalu ada About A Boy, yang menampilkan sub-plot tentang seorang ibu yang mencoba untuk tidak bunuh diri, dan How To Be Good, yang menggambarkan pasangan setengah baya yang saling berjuang untuk menemukan harapan di dalam hubungan mereka yang membosankan.

Masalahnya adalah, Hornby mengemas kemurungan demi kemurungan dalam karyanya dengan cara yang lucu dan hangat sehingga orang sudah mengerti arti depresi tanpa perlu disebutkan kata “depresi”. Hornby harus berterima kasih pada sepakbola, musik, dan buku-buku. Ia mengaku kepada Guardian, bahwa tanpa itu, ia mungkin tidak akan mampu bertahan hidup.

Hornby sudah menulis ratusan artikel tentang sepakbola. Beberapa di antaranya ia tulis untuk Arsenal dan Timnas Inggris, mengkritisi kegagalan demi kegagalan yang sering menimpa keduanya.

Kita juga bisa seperti Nick Hornby. Ketika kita mengaku cinta kepada Timnas Indonesia, maka alangkah wajar jika kita mengkritisinya. Tentu dengan cara paling personal seperti yang diajarkan oleh Nick Hornby.

Komentar