Mengenang Kejayaan Santos FC

Backpass

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball

Mengenang Kejayaan Santos FC

Pamor Santos FC memang tak sebesar Corinthias, Palmeiras, atau Sao Paulo. Tapi di kancah sepakbola Brasil, Peixe merupakan salah satu kesebelasan yang disegani juga dihormati sejak dulu. Mereka merupakan anggota asli Clube dos 13, sejenis konsorsium yang dibentuk untuk menjaga kepentingan kompetisi di Brasil. Santos juga tercatat sebagai kesebelasan yang belum pernah terdegradasi dari divisi utama Brasil.

Bukan hanya status sebagai anggota Clube dos 13 atau status belum pernah terdegradasi yang membuat Santos begitu disegani dan dihormati. Konsistensi Santos dalam menelurkan pesepakbola hebat, menjadi faktor dominan yang membuat mereka dipandang kesebelasan besar. Sejak dulu, Santos fokus dalam mengembangkan pesepakbola muda dengan kemampuan alami yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan permainan yang menarik dan mempesona.

Dari dulu hingga sekarang, banyak pesepakbola hasil didikan Akademi Santos yang menjadi tulang punggung timnas Brasil. Pele, Robinho, hingga Neymar, merupakan tiga pesepakbola beda zaman yang lahir dari pendidikan sepakbola di Akademi Santos.

Visi klub memang berorientasi pada pengembangan pesepakbola muda. Namun bukan berarti Santos tak sehebat kesebelasan besar Brasil lainnya. Dengan tumpuan pemain muda, Peixe tetap dikenal sebagai salah satu kesebelasan sukses di persepakbolaan Brasil.

Sejak terbentuk pada 14 April 1915, Santos tercatat telah memenangi 22 gelar juara Campeonato Paulista, satu Copa do Brasil, dan rekor delapan gelar juara di Brazil Serie A Championship. Di kancah internasional, mereka meraih tiga trofi Copa Libertadores, satu Piala Conmebol, satu Recopa Sudamericana, dua Piala Intercontinental, dan satu Piala Super Intercontinetal.

Dari sudut pandang prestasi, era keemasan Santos terjadi dari tahun 1959 hingga 1974. Bisa dibilang, kebanyakan trofi yang terpajang di lemari piala mereka di dapat dalam rentang waktu tersebut. Saat itu, skuat Peixe banyak dihuni pemain muda seperti Gilmar, Mauro, Mengalvio, Coutinho, Pepe, dan Pele. Selain banyak meraih piala, Santos juga mencetak lebih dari 3000 gol selama periode tersebut, dengan rata-rata lebih dari 2,5 gol per pertandingan.

Periode 1959 hingga 1974 benar-benar menjadi era keemasan Santos. Mereka mendominasi sepakbola Brasil dan menjadi simbol Jogo Bonito. Publik menyebut skuat Peixe kala itu dengan sebutan Os Santasticos (The Santastics), karena dianggap sebagai salah satu tim terkuat dalam sejarah sepakbola dunia. Skuat Santos kala itu juga dikenal Juga dikenal sebagai O Bala Branco (The White Ballet) atau Time dos Sonhos (Dream Team).

***

Era keemasan Santos tak dimungkiri hadir berkat jasa Luis Alonso Perez, atau yang lebih dikenal dengan nama Lula. Ia merupakan sosok pelatih bertangan dingin, yang gemar menggunakan formasi dasar 4-4-2 serta jeli dalam melihat potensi pesepakbola muda. Lula menjadi arsitek Santos dari tahun 1954 hingga 1966, dan menjadi salah satu pelatih paling sukses dalam sejarah sepakbola Brasil.

Kesuksesan Lula bersama Santos mulai terekam di musim keduanya, saat ia berhasil membawa Peixe juara di ajang Campeonato Paulista, menuntaskan puasa gelar selama 20 tahun lamanya. Beberapa pemain menjadi bintang dalam kesuksesan tersebut, paling disoroti tentunya kehadiran Jair, pemain yang pernah menjadi bagian dari timnas Brasil di Piala Dunia 1950. Kala itu, Jair menjadi andalan di lini depan Santos.

Semusim kemudian, tepatnya musim 1956/57, Lula mulai berani mengorbitkan pemain-pemain muda hasil didikan Akademi Santos di dalam skuatnya. Salah satu pemain muda yang diorbitkan Lula kala itu adalah pemain berusia 15 tahun bernama Edson Arantes do Nascimento, alias Pele.

Pele melakoni debutnya bersama Santos pada 7 September 1956, di laga persahabatan melawan Corinthians de Santo Andre. Penampilan Pele langsung menjadi sorotan, karena dalam laga yang berkesudahan 7-1 untuk kemenangan Santos itu, Pele mencetak satu gol. Ketika musim 1957 dimulai, Pele diberi tempat di tim utama, kesempatan yang tak disia-siakannya. Meski baru berusia 16 tahun, tapi Pele mampu menjadi pencetak gol terbanyak di kompetisi.

Tapi kala itu, Lula tidak hanya mengorbitkan Pele. Jangan pula lupakan sosok Coutinho, pemain muda yang menjadi orbitan lain Lula. Coutinho merupakan Pele di lini depan Santos kala itu. Duet Coutinho dan Pele sangat mematikan.

Permainan Pele dan Coutinho ditopang Pepe, pemain sayap yang memiliki kecepatan dan tembakan yang keras. Selain itu, sosok Dorval dan Mengalvio pun menjadi pemain muda lainnya yang bersinar dalam skuat Santos asuhan Lula.

Momen terbaik Santos, terjadi pada 1962. Saat klub menginjak usia 50 tahun, Santos memenangi Copa Libertadores pertamanya setelah mengalahkan Penarol 3-0 di partai final. Setelah juara di Copa Libertadores, Peixe berhak tampil di Piala Intercontinental (Piala Dunia Antarklub), menghadapi juara Piala Champions Eropa (Liga Champions), Benfica.

Benfica bukan lawan sembarangan, mereka adalah kesebelasan tangguh Eropa saat itu. Dengan skuat mumpuni, kesebelasan asal Portugal itu mampu mengalahkan Real Madrid 5-3 di partai puncak Piala Champions 1962.

Dalam skuat Benfica saat itu, ada sosok Eusebio yang dipandang sebagai bintang kesebelasan. Tak ayal, laga Piala Intercontinetal antara Benfica melawan Snatos dipandang banyak orang sebagai pertarungan kualitas antara Pele melawan Eusebio. Begitulah pandangan media melihat pertarungan tersebut.

Pertandingan leg pertama Piala Intercontinetal 1962 antara Santos melawan Benfica dimainkan di Stadion Maracana, Rio de Janiero. Dihadapan 90 ribu penonton Santos tampil kesulitan menghadapi tamunya asal Eropa itu. Tapi Santos pada akhirnya bisa menang tipis 3-2 atas Benfica.

Di laga leg dua yang berlangsung di Lisbon, Santos mengamuk. Tiga gol Pele dan satu dari Coutinho membawa Santos unggul 4-0 hanya dalam 60 menit pertandingan. Pepe kemudian menambah penderitaan Benfica setelah mencetak gol di menit ke-77.

Menjelang pertandingan usai, Benfica yang tampil di depan pendukungnya sendiri tak mau dipermalukan begitu saja. Intensitas serangan ditingkatkan, hingga berhasil memperkecil kedudukan menjadi 2-5 melalui Eusebio di menit ke-85 dan Santana, satu menit sebelum laga berakhir.

Hingga akhir laga, keunggulan 5-2 Santos bertahan, mereka kemudian memastikan gelar juara Piala Intercontinental dengan keunggulan agregat 8-4. Gelar juara di Piala Intercontinental merupakan trofi ketiga yang diraih Santos setelah sebelumnya menjadi kampiun di Paulista dan Copa Libertadores.

Konon, melalui keberhasilan tersebut, Santos menjadi tim pertama yang meraih treble winner. Selain itu, tambahan gelar juara di Brazilian Serie A Championship menjadikan Santos sebagai kesebelasan pertama yang mampu memenangkan semua gelar di ajang yang mereka ikuti dalam satu musim.

***

Di musim 1963 mereka kembali meraih gelar juara di Copa Libertadores setelah mengalahkan Boca Juniors di final dan Piala Intercontinental usai mengalahkan AC Milan. Kejayaan Santos terus berlanjut hingga akhir musim 1973/74. Total 25 gelar juara di berbagai ajang, berhasil diraih sejak tahun tahun 1959 hingga 1974. Namun setelah itu, Santos kesulitan meraih prestasi yang sebelumnya pernah mereka torehkan di akhir tahun 1950-an hingga awal 1970-an. Masalah keuangan dipercaya menjadi penyebab keterpurukan Santos.

Meski begitu, di era 2000-an, Santos kembali menemukan kejayaannya. Dari tahun 2006 hingga 2016, Santos meraih tujuh gelar juara Paulista. Ditambah dengan dua gelar di ajang Brazili Serie A Championship pada 2002 dan 2004. Dari serentetan prestasi yang diukir Santos di era Millennium, gelar juara Copa Libertadores yang diraih pada 2011 menjadi gelar prestisius yang diraih Santos.

Komentar