Biarkan Fowler Melakukan Selebrasi

Backpass

by Evans Edgar Simon

Evans Edgar Simon

Kontributor PanditFootball.com

Biarkan Fowler Melakukan Selebrasi

Adalah wajar jika seorang pesepakbola melakukan selebrasi setelah mencetak gol. Namun, jika tidak berhati-hati atau terbawa emosi, selebrasi bisa berbuntut hukuman—seperti yang dialami oleh legenda Liverpool, Robbie Fowler.

Derbi Merseyside antara Liverpool dan Everton pada 3 April 1999 meninggalkan kisah legendaris. Baru 41 detik laga berjalan, tim tamu sudah unggul berkat gol dari Olivier Dacourt. Tetapi, pada menit ke-15, bek Everton Marco Materazzi (iya, yang dadanya disundul oleh legenda Prancis Zinedine Zidane di final Piala Dunia 2006) menjegal Paul Ince di kotak terlarang sehingga wasit menunjuk titik penalti.

Fowler yang menjadi eksekutor berhasil menyamakan kedudukan. Ia kemudian berlari ke depan tribun yang dipadati oleh para suporter The Toffees di sisi kiri gawang kiper Thomas Mhyre dan tiba-tiba merangkak mengikuti garis putih batas lapangan sambil menutup lubang hidungnya dengan tangan kiri. Ia berdiri, sedikit berjoget, dan lalu kembali ‘menghisap kokain’ sebelum akhirnya bersiap melanjutkan pertandingan.

Selebrasi itu dilakukan oleh Fowler karena ia sudah tidak tahan para suporter Everton menuduhnya menggunakan narkoba. “Saya sangat tertekan dan sedih selama beberapa tahun terakhir oleh tuduhan terus-menerus terkait penyalahgunaan narkoba, yang tidak hanya mempengaruhi saya, melainkan juga sangat menyakiti perasaan keluarga saya,” ujar dirinya seperti yang dikutip Independent.

FA tetap melihatnya sebagai sebuah perayaan yang berlebihan dan melanggar etika kesopanan. Mereka langsung menggelar investigasi sehari setelah laga.

Manajer The Reds kala itu, Gerard Houllier, mencoba membela pemainnya dengan mengklaim bahwa Fowler selebrasi pura-pura makan rumput, mengikuti tradisi Kamerun yang diajarkan oleh rekan satu timnya, Rigobert Song. FA tentu tidak tertipu: rekaman televisi jelas memperlihatkan Fowler tidak menggigit rumput di Anfield.

Alhasil, pria kelahiran 9 April 1975 itu dijatuhi sanksi larangan bermain selama enam pertandingan (akumulasi dari hukuman karena hinaan homofobia terhadap pemain Chelsea, Graeme Le Saux, dalam beberapa laga sebelumnya). Ia pun harus membayar denda sebesar 32 ribu paun.

FA mungkin takut selebrasi Fowler bisa membuat anak-anak muda yang menyaksikan pertandingan, baik secara langsung di stadion maupun di televisi, akan langsung termotivasi untuk menggunakan kokain.

“FA memiliki kebijakan anti-diskriminasi dan komitmen melawan penyalahgunaan narkoba yang telah diketahui secara luas dan dihormati,” ucap direktur eksekutif interim FA ketika itu, David Davis, seperti yang ditulis BBC.

Padahal, Fowler memiliki alasan yang kuat atas perayaannya. Ia hanya membela diri, terlebih mengingat masa kecilnya yang menyakitkan. Seperti yang dituliskan dalam autobiografinya, Fowler: My Autobiography, ia kehilangan dua saudara sepupu karena keterlibatan dengan narkoba.

“Jika orang-orang melihat betapa hancurnya ia (bibi Fowler), bagaimana ia harus hidup dengan hal itu sampai akhir hayatnya, maka saya tidak berpikir bahwa mereka akan menggunakan narkoba sebagai lelucon dan saya menggunakannya,” tulis Fowler.

Toxteth, Merseyside, yang merupakan wilayah asal Fowler memang dikenal sebagai salah satu biang peredaran narkoba di Inggris. Berdasarkan studi berjudul "The Heroin Epidemic of The 1980s and 1990s and Its Effect on Crime Trends – Then and Now" karya Nick Morgan, Merseyside merupakan satu dari segelintir area pertama di negara tersebut yang terkena wabah penggunaan heroin, tepatnya pada era 1980an. Memasuki 1990an, urusan narkoba telah menjadi masalah nasional.

Fowler tentu tidak terima dengan stereotip yang berkembang tentang dirinya. Ia menegaskan bahwa lahir di sebuah wilayah dengan tingkat peredaran narkoba tinggi tidak berarti semua orang menggunakan narkoba, apalagi ketika sudah menjalani karier profesional sebagai pemain sepakbola. Bahkan, ia mengaku sepakbola lah yang membuatnya jauh dari barang haram tersebut.

Bagaimana pun, bagi FA, tiga kata yang melekat di wajah Fowler tetaplah narkoba, seks, dan alkohol. Ia memenuhi segala syarat terlarang sebagai seorang tokoh publik. Mereka tidak terlalu peduli bahwa ia adalah salah satu penyerang Inggris paling berbakat pada masanya. Ia pernah menjadi pemain termuda mencetak 100 gol di Premier League (23 tahun 283 hari), sebelum dipecahkan oleh mantan penyerang Liverpool lainnya Michael Owen (23 tahun 134 hari).

Fowler sendiri akhirnya meminta maaf atas selebrasinya. Ia menyesal karena telah menyakiti hati mereka yang berjuang keras untuk melawan penyalahgunaan narkoba, termasuk Premier League dan FA.

Hal seperti ini tentu bukan hanya terjadi di Inggris. Hampir seluruh liga dan kompetisi di dunia pernah menjadi tempat terciptanya selebrasi-selebrasi unik dan kontroversial.

Pada awalnya, para pemain tidak memahami ‘Selebrasi 101’. Setelah mencetak gol, mereka paling hanya tersenyum dan mendapatkan tepukan di punggung dari rekan-rekannya sambil kembali menuju tengah lapangan. Berbeda jauh dengan era sekarang yang menganggap seorang pemain menghormati tim lawan (bisa juga sedang marah) jika tidak selebrasi.

Tommy Ross, pemain yang memegang rekor dunia sebagai pencetak hat-trick tercepat sepanjang sejarah ketika berseragam Ross County (90 detik, melawan Nairn County) pada 1964, bahkan pernah mengatakan bahwa “kalau beruntung, maksimal yang didapat adalah tepukan di kepala dari kapten tim.”

Namun, seiring dengan perkembangan industri sepakbola yang mulai ditayangkan di televisi pada era 1970an, para pemainnya ikut bertambah kreatif. Makna dari selebrasi pun, baik disengaja atau tidak, ikut terus berkembang.

Dapat dikatakan, bahwa para pemain menjadikan selebrasi sebagai eskapisme dari tekanan sepanjang pertandingan. “Kita berbicara soal permainan emosi di sini. Jadi sebuah reaksi emosional memang diharapkan usai membuat gol, bahkan jika kita hanya main di taman,” tutur komentator kawakan Martin Tyler kepada FourFourTwo.

Lihatlah bagaimana para pemain merayakan gol-gol menit akhir atau setelah berhasil melakukan comeback secara ajaib. Mantan gelandang Real Madrid, Xabi Alonso, pernah meloncat dari tribun penonton dan berlari menghampiri teman-temannya untuk ikut merayakan gol Gareth Bale dalam final Liga Champions 2014.

Selebrasi yang dilakukan secara sporadis dan berlebihan bisa menyebabkan mencelakai sang pemain sendiri. Winger Hamburg, Nicolai Mueller, harus absen selama tujuh bulan akibat cedera ligamen setelah mencetak gol ke gawang Augsburg dalam ajang Bundesliga pada awal musim 2017/18 ini. Sekitar 14 tahun yang lalu, jari gelandang Servette FC, Paulo da Cruz Diogo, putus karena cincin nikahnya tersangkut di pagar tribun.

Selain selebrasi yang dilakukan berdasarkan spontanitas, ada selebrasi-selebrasi yang sudah direncanakan. Bahkan, karena terlalu dilihat orang atau terlalu unik, selebrasi itu menjadi identitas sang pemain: Cristiano Ronaldo dengan “Si!”, Paulo Dybala dengan “Dybala Mask”, Alan Shearer dengan “Salam Lima Jari”, Mario Balotelli dengan “Why Always Me”.

Liga Indonesia juga tidak terlepas dari fenomena ini: Bambang Pamungkas punya “Ayunan Tangan” legendaris, Christian Carrasco terkenal karena “Topeng Spiderman”, Redouane Barkaoui pernah ikut melestarikan “Tari Jaipong”, hingga Nova Arianto yang suka jadi “Suster Ngesot”.

Tidak sedikit selebrasi yang bersifat universal diadopsi orang lain, misalnya gaya Bebeto menggendong bayi imajinasi di Piala Dunia 1994. Selebrasi pesawat terbang Jan-Aage Fjortoft di Premier League pun kemudian seakan menjadi hak milik Il Aeroplanino, Vincenzo Montella.

Selebrasi tidak melulu harus dilakukan sendiri. Sejarah membuktikan sudah banyak selebrasi yang dilakukan bersama rekan-rekan satu tim, bahkan mungkin dilatih dahulu sebelum pertandingan. Klub asal Islandia, Starjnan FC, mungkin adalah juaranya karena mereka pernah menunjukkan koreografi memancing ikan, bermain bowling, naik sepeda, bahkan buang air besar lengkap dengan klosetnya.

Selebrasi pun bisa digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu. Untuk urusan yang satu ini, biasanya berujung dengan hukuman. Maklum, FIFA memang melarang pemain melakukan selebrasi yang memprovokasi pemain atau fans lawan sehingga berpotensi menimbulkan kericuhan.

Emmanuel Adebayor pernah hampir diamuk massa ketika sengaja berlari dari ujung ke ujung lapangan hanya untuk selebrasi di hadapan suporter mantan timnya, Arsenal. Sedangkan, Paul Gascoigne, mendapatkan ancaman pembunuhan dari suporter Glasgow Celtic karena berpura-pura bermain seruling (bentuk penghinaan terhadap kaum loyalis Republik Irlandia) setelah mencetak gol bagi Glasgow Rangers.

Jenis selebrasi lain yang dikutuk oleh FIFA adalah membawa ideologi tertentu lapangan. Mantan penyerang Lazio Paolo Di Canio dan dan mantan gelandang AEK Athens Giorgos Katidis mendapatkan kecaman keras dari publik karena melakukan hormat Nazi. Adapun mantan penyerang West Bromwich Albion Nicolas Anelka dikritik habis-habisan atas gestur antisemit.

Oleh sebab itu, alasan dan usaha federasi atau asosiasi membatasi selebrasi pemain demi menjaga (citra) sepakbola dari propaganda-propaganda yang tak perlu memang dapat dipahami. Tetapi, mencoba memahami alasan di balik seorang pemain melakukan selebrasi tertentu sebelum menghakimi rasanya juga bukan hal yang tabu untuk dilakukan.

Komentar