Dari Senegal, untuk Senegal

Backpass

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

a freelance journo. full-time researcher. bachelor of law

Dari Senegal, untuk Senegal

Sebelum dibeli Liverpool dengan banderol 34 juta paun (sempat menjadikannya pemain Afrika termahal waktu itu), Sadio Mane dulunya adalah satu dari sekian banyak orang miskin di Senegal. Daerah tempat lahir Mane di Bambali, Sedhiou, adalah kawasan gerakan separatis. Meskipun skala pemberontakannya kecil, tetapi aksi itu nyatanya sanggup membuat perekonomian Senegal karut-marut.

Mane sangat mencintai sepakbola. Itu adalah fakta yang biasa saja mengingat sepakbola adalah olahraga yang paling digemari masyarakat Afrika. Namun jadi luar biasa ketika kecintaan itu diiringi tekad dan usaha.

Pada usianya yang menginjak 15 tahun, Mane mengakhiri studinya untuk berkonsentrasi kepada sepakbola. Keputusan pemain kelahiran 10 April 1992 ini sempat ditentang oleh orang tuanya. Namun tekad Mane terlalu besar untuk dibendung.

Demi mewujudkan mimpinya, Mane pergi sendirian ke kota Ziguinchor, yang berjarak satu setengah jam dari rumahnya, untuk mencari klub sebagai tempat berlatih.

“Desa saya sangat jauh dari Dakar (ibu kota Senegal) dan saya berpikir tidak mungkin seorang pencari bakat akan datang ke sana. Jadi saya mengatakan kepada orang tua saya bahwa saya sangat mencintai sepakbola dan saya ingin berkembang,” ujar Mane kepada media Inggris, Daily Mail.

Paman Mane sempat meragukan keponakannya. Saat Mane bilang ia akan bermain di Prancis membela klub besar, sang paman malah tertawa. Ia menjelaskan agar Mane sadar diri. Bambali adalah daerah antah-berantah yang amat jauh dari kehidupan sepakbola di pusat kota. Jangankan klub besar, klub domestik pun sungkan melirik daerah Bambali.

Beruntung, Mane tidak putus asa setelah mimpinya ditertawakan sang paman. Di sebuah akademi sepakbola bernama Generation Foot, nasibnya menjadi lebih baik. Di sana, ia mendapat fasilitas tempat tinggal dan lapangan untuk latihan.

Generation Foot sendiri adalah akademi yang mempunyai relasi dengan klub sepakbola Prancis, FC Metz. Di akademi itu Mane menghabiskan tiga tahun dan berhasil mencuri perhatian pencari bakat Metz. Pada 2011, Mane diterbangkan dari Senegal ke Prancis untuk melakukan serangkaian tes uji coba.

Awalnya, Mane ditertawakan. Sepasang sepatu butut dan kaos compang-camping tentu bukan pakaian yang layak di Prancis. Namun penampilan luar Mane tertutup oleh cara dia mengolah si kulit bundar. Sampai pada akhirnya, sang pencari bakat tertarik lantas menawarkan kontrak kepada Mane.

Pada musim pertamanya, Mane bermain 20 kali dan mencetak dua gol. Performa apiknya berbuah panggilan untuk memperkuat Tim Nasional Senegal di ajang Olimpiade 2012.

Ketika menjalani debut, Mane mencuri perhatian dengan membantu Senegal menahan imbang Britania Raya dengan skor 1-1. Asis manis ke Moussa Konate pada menit ke-82, berbuah gol penyama kedudukan.

Dalam ajang itu, Senegal tergabung di grup A bersama Uruguay, Uni Emirat Arab, dan tuan rumah Britania Raya. Senegal menjadi runner-up setelah berhasil menahan imbang Britania Raya dan UEA, serta mengalahkan Uruguay. Namun perjuangan anak-anak asuh Joseph Koto terhenti pada babak perempat final setelah kalah 4-2 lewat perpanjangan waktu dari Meksiko.

Tampil memukau di Olimpiade London, Mane jadi rebutan klub-klub Eropa. Borussia Dortmund yang saat itu dilatih Jurgen Klopp tertarik dengan bakat yang dimiliki Mane. Namun Mane lebih memilih bergabung dengan klub Austria, Red Bull Salzburg, di menit-menit akhir.

Dua musim di RB Salzburg, Mane berhasil membawa klubnya menjuarai Liga Austria. Hasil itu membuat klub berjuluk Die Roten Bullen berhak mengikuti kualifikasi Liga Champions. Namun RB Salzburg tidak dapat menggunakan jasa Mane karena Ronald Koeman keburu memboyong Mane ke Southampton.

Momen bersejarah Mane kala memperkuat Southampton terjadi pada Mei 2015. Kala itu Mane membantu Southampton menang 6-1 atas Aston Villa. Di antara enam gol itu, Mane mencetak tiga gol dalam waktu 2 menit 56 detik. Catatan itu memecahkan rekor pencetak hat-trick tercepat yang sebelumnya dipegang Robbie Fowler.

Dua musim berkostum The Saints (julukan Southampton), Mane membukukan 25 gol dari 67 penampilan. Bahkan pada musim terakhirnya, Mane sukses menjadi top skor klub dengan 15 gol di segala kompetisi.

Prestasi itu membuat Mane masuk radar Manchester United dan Liverpool. Pada bursa transfer musim panas 2016, Mane akhirnya bergabung dengan Liverpool yang diasuh oleh Klopp.

”Saya sudah memantau Sadio selama bertahun-tahun sejak tampil mengesankan pada Olimpiade 2012, lalu menyaksikan perkembangannya di Austria, dan ketika ia bermain untuk Southampton.” Ujar Klopp kepada LFC TV.

Di Liverpool, kehidupan Mane jauh lebih baik. Putus sekolah saat berusia 15 tahun, tetapi sudah menghasilkan 90 ribu paun per pekan di usianya yang ke-24 adalah pencapaian yang membuat para sarjana iri. Mane sering tertangkap kamera dengan sejumlah mobil mewah. Audi, BMW, dan Range Rover adalah mobil-mobil yang pernah ditungganginya.

Kendati demikian, kesuksesan itu tidak membuat Sadio Mane jemawa. Saat Daily Mail berkesempatan mengunjungi kampung halaman Mane, penduduk sana mengaku bahwa Mane telah merenovasi masjid mereka. Belakangan, diketahui fakta bahwa masjid itu adalah tempat ayah Mane biasanya salat sekaligus menjadi imam di Bambali.

Tak hanya merenovasi masjid, Mane juga dikabarkan mulai mengerjakan proyek-proyek lain di kawasan Bambali.

“Saya ingin memberikan sesuatu kepada wilayah saya (Bambali). Saya sedang berdiskusi dengan rekan-rekan di Senegal (terkait proyek). Saya masih muda dan hal itu akan terjadi dalam waktu dekat.” Kata Mane kepada Daily Mail.

Hal itu menunjukkan kecintaan Mane kepada Senegal begitu besar. Namun cinta kepada negara tak melulu soal membangun infrastruktur. Dalam waktu dekat, ada ajang Piala Dunia di Rusia. Senegal berpartisipasi untuk kedua kalinya setelah tampil pertama kali di Jepang-Korea Selatan pada 2002. Ketajaman Mane di lini depan tentu sangat diharapkan timnas Senegal.

Berada di grup H bersama dengan Polandia, Kolombia, dan Jepang membuat Senegal punya kans besar untuk lolos dari fase grup. Menteri Olahraga Senegal, Matar Ba, bahkan menargetkan Senegal melaju hingga babak semifinal.

“Semifinal tidak mustahil dicapai karena sepakbola hari ini tidak hanya tentang Eropa atau Afrika atau Amerika. Sepakbola itu global. Banyak pemain Senegal yang bermain di Inggris, Italia, di mana saja. Jadi, kita (Senegal) bisa melawan tim mana saja.” Ujar Ba saat diwawancarai BBC.

Saat gelaran Piala Dunia 2002, Mane masih berusia 10 tahun. Mungkin ia melihat senior-seniornya tampil ciamik dengan lolos ke perempat final. Kala itu, Senegal berada di grup A bersama dengan Denmark, Prancis, dan Uruguay. Publik tak menyangka jika timnas Senegal yang merupakan debutan turnamen justru yang mendapat tiket lolos ke 16 besar. Di fase gugur itu, Senegal kembali tampil mengejutkan dengan memulangkan timnas Swedia. Sayangnya kejutan itu berakhir di perempat final setelah Senegal kalah 0-1 dari Turki.

Meski demikian, Senegal pulang dengan kepala tegak. Torehan itu bukan tidak mungkin menginspirasi Mane untuk serius menekuni olahraga sepakbola. Kini, Mane dan kawan-kawan ditantang pemerintahnya sendiri untuk dapat membawa Senegal ke semifinal. Sebuah target yang tidak mudah untuk diraih.

Namun target semifinal itu bisa saja terwujud. Asalkan Mane mampu mempertahankan performa terbaiknya dan ketua federasi sepakbola Senegal tidak cuti untuk kepentingan politik dan kompetisi sepakbola Senegal dikelola dengan baik.

Komentar